Beranda Berita Utama Hantunya Menyalahi Aturan Perhantuan Jawa
Berita Utama

Hantunya Menyalahi Aturan Perhantuan Jawa

ILustrasi

Marknews.id – Di era modern seperti sekarang, ketika alat rekam video–audio bisa dibeli dengan harga murah dan dioperasikan tanpa keahlian khusus, dunia maya pun dipenuhi berbagai tayangan bernuansa horor. Media sosial menjadi panggung luas untuk memamerkan karya, mulai dari yang berbentuk parodi, prank, humor, hingga yang serius dan dibuat dengan sungguh-sungguh.

Dari sekian banyak produk yang mempertontonkan kemunculan makhluk halus, bentuk yang paling sering muncul adalah sosok pocong.

Bagi kami yang melewati masa kecil pada tahun 1970–an, hantu pocong sebenarnya tidak terlalu akrab. Pada masa itu, dalam daftar hantu yang dikenal turun-temurun, nama pocong bahkan tidak termasuk. Yang ada justru sosok sejenis pocong bernama wedon.

Wedon digambarkan berwujud pocong, berbau amis darah, dengan ikatan tali kafan yang kadang terbuka sehingga wajahnya tampak rusak, berantakan, dan berlumuran darah.

Lalu, apa bedanya wedon dengan pocong?

Menurut cerita orang-orang dahulu, berbagai jenis hantu termasuk dalam golongan badan alus—bukan badan wadag atau kasar seperti manusia, hewan, dan tumbuhan yang bisa diraba. Ciri khas badan alus adalah cara bergeraknya yang ngleneng, meluncur tanpa hentakan atau “njondhal-njondhil”, dan tidak menyentuh tanah.

Hantu juga tidak memiliki bayangan. Meski banyak yang membantah, kemunculan hantu biasanya terjadi di tempat minim cahaya, membuat ketiadaan bayangan itu sulit dibuktikan.

Pesan orang tua zaman dulu, jika suatu saat melihat hantu dari dekat, perhatikan kakinya: mengambang atau menyentuh tanah. Jika menyentuh tanah, hampir pasti itu hanya orang yang menyamar. Apalagi jika jalannya njondhal-njondhil, seperti banyak “hantu” yang kini muncul di berbagai platform.

Belum lagi soal bau. Tidak semua hantu berbau busuk, dan tidak semua berbau wangi. Bahkan ada banyak hantu yang dikatakan tidak berbau sama sekali.

Dalam sebuah rombongan, tidak semua orang bisa melihat hantu. Mungkin hanya satu orang, atau beberapa saja. Dan hantu tidak “ngetoki”—menampakkan diri—setiap hari. Jika dalam beberapa jam atau beberapa hari berturut-turut banyak orang melihat hantu yang sama di tempat itu, orang tua dulu akan berkata: “Dipastikan itu bukan hantu.”

Lalu, mengapa kini hantu yang paling banyak muncul adalah jenis pocong? Selain karena di masa lalu pocong tidak dikenal luas, bentuknya juga paling mudah dibuat untuk keperluan rekaman atau konten.

Padahal, dalam khazanah pemahaman Jawa, masih banyak jenis hantu lain. Dahulu, yang paling dekat dengan pocong adalah Manuk Culi. Ia bukan berupa sosok, melainkan suara yang muncul ketika ada jenazah yang dikubur tanpa melepas tali-tali ikatan kafannya. Jika ini terjadi, besok paginya warga bersama mBah Kaum akan menggali kembali makam tersebut untuk melepas ikatan. Terkadang semua tali—tujuh tali menurut hitungan Jawa—lupa dilepas, kadang hanya satu.

Hantu Jawa—atau memedi, hal-hal yang medeni (menakutkan)—sampai kini masih belum banyak direkam dalam referensi tertulis yang rinci. Jumlahnya sesungguhnya sangat banyak. Namun seiring perkembangan zaman, hantu-hantu “impor” juga ikut hadir, baik dari luar negeri maupun dari daerah lain, lalu memperluas area kemunculannya.

Di Jawa, misalnya, tidak dikenal hantu pengisap darah seperti vampire. Atau kuyang dari Kalimantan. Memang ada hantu yang mirip kuyang, yakni usus gemantung, tetapi bentuk fisiknya berbeda. Ada pula suster ngesot, yang pada 1980–an disebut-sebut hanya muncul di satu rumah sakit tertentu, tetapi kini bisa muncul di mana saja.

Kapan-kapan, kita lanjutkan lagi cerita tentang hantu-hantu yang dikenal orang Jawa.

Penulis: Agus U, jurnalis

Sebelumnya

KAI Daop 6 Buka Pemesanan Tiket H-3 Jelang Tahun Baru, Masyarakat Diminta Segera Amankan Kursi

Selanjutnya

Mendekati Peluncuran, Bocoran Baru Poco F8 Series Tampilkan Kolaborasi Audio Premium

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement