Beranda Pendidikan UGM Ajak Mahasiswa Asing Pelajari Keselamatan Kerja di Industri Batik Giriloyo
Pendidikan

UGM Ajak Mahasiswa Asing Pelajari Keselamatan Kerja di Industri Batik Giriloyo

Marknews.id – Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) kembali menggelar kegiatan International Summer Course on Interprofessional Healthcare dengan tema “Promoting Resilient Workplaces and Sustainable Environments for Global Health Equity”. Program ini menjadi ajang kolaborasi lintas fakultas bersama Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas Farmasi UGM, yang mengedepankan pembelajaran interprofesional di bidang kesehatan global.

Kegiatan yang berlangsung pada awal November 2025 ini diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai negara. Mereka berasal dari Vrije Universiteit Medical Center – VuMC dan University Medical Center Groningen (Belanda), Mahidol University (Thailand), Universitas Pattimura, Universitas Islam Internasional Indonesia, serta beberapa mahasiswa dari Pakistan, Myanmar, dan UGM sendiri.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta melakukan kunjungan lapangan ke Desa Batik Giriloyo, Wukirsari, Bantul — sebuah desa wisata batik yang telah meraih predikat World’s Best Tourism Village 2024. Melalui kunjungan ini, peserta diajak memahami secara langsung prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta penerapan praktik kerja berkelanjutan dalam industri batik.

Belajar K3 Melalui Proses Membatik

Di lokasi, para mahasiswa berkesempatan mencoba membuat batik secara berkelompok. Aktivitas ini tak hanya menjadi pengalaman budaya, tetapi juga sarana belajar tentang potensi risiko kerja dan cara mitigasinya di lapangan.

Johan, mahasiswa asal Belanda, mengaku pengalaman membatik di luar ruangan memberikan kesan tersendiri. Namun, ia menilai aspek keselamatan perlu diperhatikan lebih jauh.

“Menurut saya akan lebih baik untuk menggunakan alat pelindung diri, seperti sarung tangan agar terhindar dari bahaya panas saat membatik,” katanya, Minggu (2/11).

Pendapat serupa disampaikan Michelle, mahasiswa asal Belanda lainnya. Ia menilai pekerjaan membatik membutuhkan konsentrasi tinggi dan waktu lama, sehingga diperlukan upaya menjaga kesehatan tubuh agar tetap nyaman selama bekerja.

“Jadi, bagaimana cara mereka melakukan secara lebih efisien untuk tubuh sehingga mereka dapat bekerja lebih nyaman. Solusinya adalah mereka dapat melakukan olahraga kecil di antara waktu membatik, tidak duduk terlalu lama, peregangan sekali-sekali, dan pastikan punggungnya baik-baik saja,” ujarnya.

Kolaborasi Internasional yang Berkelanjutan

Wakil Dekan Bidang Akademik & Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., menjelaskan bahwa kerja sama antara UGM dan Vrije Universiteit Amsterdam telah terjalin selama satu dekade. Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung isu yang lebih relevan dengan tantangan global saat ini.

“Tahun ini, kolaborasi dengan Vrije Universiteit Amsterdam sudah memasuki tahun ke 10. Tentunya ada beberapa yang mirip dari sisi kesehatan, banyak sekali hal-hal yang spesifik. Tahun ini berhubungan dengan beberapa isu, terutama dengan isu global health equity dan sebagainya,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Tim Internasionalisasi FK-KMK UGM, dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc., Ph.D., menambahkan bahwa tema tahun ini sengaja dirancang berbeda agar peserta lebih memahami pentingnya pencegahan risiko dalam dunia kerja.

“Memang temanya agak beda ya. Dengan orang bekerja itu apa saja, kemudian apa mitigation plan-nya atau tindakannya, apa risikonya. Itu harapannya bisa memberikan manfaat juga kepada mereka karena pencegahan itu penting, tidak hanya tentang mengobati pasien,” ungkapnya.

Mengenal Budaya Lokal Melalui Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Koordinator Kegiatan Lapangan Summer Course, Dr. Drs. Abdul Wahab, MPH., menjelaskan bahwa kunjungan ke Desa Batik Giriloyo menjadi salah satu bentuk pembelajaran kontekstual yang menggabungkan aspek budaya dan kesehatan kerja.

“Para mahasiswa ini akan mengobservasi bagaimana keselamatan yang diterapkan di perusahaan atau di industri sehingga mereka bisa mencegah dampak kesakitan yang diakibatkan oleh pekerjaan,” jelasnya.

Selain belajar membatik, para peserta juga mengikuti kegiatan lain seperti observasi di puskesmas dan pengenalan budaya lokal. Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan peserta terhadap kondisi kerja di berbagai sektor, sekaligus menumbuhkan empati terhadap pekerja tradisional yang turut berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga mendapatkan pemaparan dari Tiyastiti Suraya, S.Si., M.E.M., salah satu pengelola Desa Batik Giriloyo. Ia menjelaskan sejarah batik dan perkembangan desa tersebut hingga meraih pengakuan internasional. Selain itu, Tiyastiti turut memperkenalkan berbagai alat dan tahapan dalam proses membatik, yang menggambarkan perpaduan antara nilai seni, ketekunan, dan penerapan prinsip keselamatan kerja.

Melalui kegiatan ini, UGM tak hanya memperkuat kerja sama internasional di bidang pendidikan kesehatan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana budaya lokal dapat menjadi media pembelajaran efektif dalam memahami isu kesehatan kerja dan keberlanjutan di tingkat global.

Sebelumnya

Perkuat Keamanan dan Kenyamanan Penumpang, KAI Daop 5 Purwokerto Tambah 13 Polsuska Baru

Selanjutnya

Kampung Dolan Jogja, Wisata Baru Bernuansa Budaya di Jalur Menuju Bandara YIA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement