Beranda Berita Utama Dari Huntara hingga Akses Internet, UGM dan Kagama Kawal Pemulihan Kampung Sekumur Pascabanjir Aceh Tamiang
Berita Utama

Dari Huntara hingga Akses Internet, UGM dan Kagama Kawal Pemulihan Kampung Sekumur Pascabanjir Aceh Tamiang

Dari Huntara hingga Akses Internet, UGM dan Kagama Kawal Pemulihan Kampung Sekumur Pascabanjir Aceh Tamiang

Marknews.id – Upaya pemulihan pascabencana banjir bandang yang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang pada November 2025 terus berlanjut. Setelah berbulan-bulan hidup dalam keterbatasan akibat rusaknya rumah dan fasilitas umum, warga Kampung Sekumur kini mulai merasakan harapan baru melalui pembangunan hunian sementara (huntara) yang diinisiasi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Aceh.

Kampung Sekumur menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling berat akibat banjir bandang dan hujan ekstrem yang melanda kawasan tersebut. Selain menghancurkan ratusan rumah warga, bencana juga menyebabkan kerusakan infrastruktur, memutus akses jalan dan jembatan, serta mengisolasi sejumlah wilayah.

Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan UGM dan Kagama Aceh, Kampung Sekumur ditetapkan sebagai lokasi prioritas penanganan karena tingkat kerusakan yang tinggi serta akses menuju wilayah tersebut yang tergolong sulit.

Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menjelaskan bahwa keputusan memusatkan bantuan di Kampung Sekumur merupakan hasil kajian bersama yang mempertimbangkan tingkat kebutuhan masyarakat terdampak.

“Daerah ini terdampak paling parah dan sulit dijangkau. Karena itu kami memfokuskan bantuan di sini. Ini juga merupakan keputusan bersama dengan Kagama Aceh yang melakukan analisis daerah mana yang perlu diprioritaskan,” kata Ova usai serah terima hunian sementara di Kampung Sekumur, Ahad, 5 Juli 2026.

Sebagai langkah awal pemulihan, UGM dan Kagama Aceh membangun 26 unit hunian sementara yang diperuntukkan bagi keluarga terdampak. Pembangunan huntara tersebut juga memanfaatkan sebagian kayu yang hanyut akibat banjir sebagai material bangunan, sehingga proses pembangunan dapat berjalan lebih efisien di tengah keterbatasan sumber daya.

Bagi warga, kehadiran hunian sementara bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol dimulainya kehidupan baru setelah berbulan-bulan menghadapi ketidakpastian.

Salah satunya dirasakan Sariyah (60), petani asal Kampung Sekumur yang sebelumnya harus tinggal di tenda pengungsian sejak bencana terjadi. Ia mengaku kondisi tersebut berdampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-harinya.

“Kami mengucapkan ribuan terima kasih. Dulu kami masih di tenda, sekarang sudah dapat rumah ini. Rasanya bisa tidur nyenyak, tidak kepanasan dan tidak kehujanan lagi,” ujarnya sambil menahan haru.

Meski pembangunan huntara belum sepenuhnya rampung, Sariyah memilih segera menempatinya. Ia mengungkapkan perjuangan berat yang harus dilalui keluarganya untuk membersihkan rumah yang tertimbun material banjir.

“Semua dijual. Sebelas juta rupiah habis untuk mengorek tanah yang menimbun rumah,” katanya.

Kondisi serupa juga dialami Mardiah (40). Banjir yang melanda kawasan tersebut merusak perkebunan sawit miliknya yang selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga. Meski demikian, ia merasa terbantu dengan adanya tempat tinggal yang lebih layak dibandingkan tenda pengungsian.

“Senang sekali. Kami sudah terbantu karena ada tempat tinggal. Dulu menunggu di tenda, sekarang sudah ada rumah,” ujarnya.

Tidak hanya fokus pada penyediaan tempat tinggal, Kagama juga terlibat dalam berbagai program pemulihan lainnya. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Kagama, Nezar Patria, menyebut gerakan bantuan yang dilakukan alumni UGM berlangsung sejak masa tanggap darurat.

“Pada minggu-minggu awal pascabencana, kami juga bergerak untuk memenuhi kebutuhan logistik dasar para pengungsi,” kata Nezar.

Selain membangun huntara, Kagama turut mendukung perbaikan fasilitas pendidikan serta penyediaan perlengkapan belajar di sejumlah wilayah terdampak di Aceh Tamiang dan Aceh Timur.

Pemerintah daerah menyambut baik kolaborasi tersebut. Bupati Aceh Tamiang berharap fasilitas yang telah dibangun dapat dijaga dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sebagai bagian dari proses pemulihan bersama.

“Mari kita jadikan momentum ini untuk pulih lebih cepat dan bangkit lebih kuat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah Kagama Aceh yang juga menjabat Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir, menegaskan bahwa penanganan bencana kini memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Sudah hentikan proses transisi pemulihan, kita masuk segera ke tahap rehab-rekon,” katanya mengutip pesan Gubernur Aceh.

Di luar kebutuhan hunian, persoalan akses komunikasi juga menjadi perhatian. Saat meninjau langsung lokasi, Nezar menemukan masih banyak kawasan yang belum terjangkau jaringan telekomunikasi memadai. Kondisi tersebut dinilai menghambat layanan pendidikan, kesehatan, hingga administrasi pemerintahan desa.

“Kami akan menyegerakan pembangunan access point internet di Desa Sekumur demi kelancaran urusan pendidikan, kesehatan, hingga tata kelola pemerintahan desa,” ujarnya.

Komitmen pendampingan juga ditegaskan oleh UGM. Menurut Ova, perguruan tinggi tidak hanya hadir pada masa tanggap darurat, tetapi juga akan mendukung proses pemulihan jangka panjang melalui berbagai program pengabdian masyarakat.

“UGM akan tetap mendampingi masyarakat Tamiang dengan mengirimkan mahasiswa KKN untuk menganalisis, mengkaji, dan mencari solusi terbaik bagi proses pemulihan,” kata dia.

Selain program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, UGM juga membuka kesempatan bagi pelajar dari wilayah terdampak untuk mengikuti program pre-university. Program tersebut diharapkan dapat memperluas akses pendidikan sekaligus memberikan pengalaman belajar di lingkungan kampus bagi generasi muda Aceh Tamiang.

Meski kondisi perlahan membaik, tantangan pemulihan ekonomi masih menjadi pekerjaan besar. Banyak warga kehilangan sumber penghasilan akibat rusaknya lahan pertanian dan perkebunan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Harapan itu disampaikan Sariyah yang kini menantikan bantuan untuk menghidupkan kembali lahan pertaniannya.

“Kebun sawit, kelapa, semuanya habis. Kami tidak punya penghasilan lagi. Kami berharap ada bantuan bibit tanaman agar lahan ini bisa ditanami kembali dan menjadi sumber penghidupan,” ujarnya.

Permintaan tersebut mencerminkan kebutuhan baru masyarakat pascabencana. Setelah memiliki tempat tinggal sementara yang lebih layak, warga kini berharap proses rehabilitasi dapat berlanjut pada pemulihan sektor ekonomi agar kehidupan mereka dapat kembali berjalan normal.

Sebelumnya

Konflik Gajah dan Manusia Meningkat di Lampung, Pakar UGM Soroti Penyusutan Habitat Satwa Liar

Selanjutnya

UGM dan Kagama Bangun 26 Huntara untuk Korban Banjir Aceh Tamiang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement