Greenhouse Pesantren di Bantul Berbuah Manis, Santri Kini Mampu Biayai Operasional Secara Mandiri
MARKNEWS.ID, BANTUL — Upaya pemberdayaan berbasis pertanian modern di lingkungan pondok pesantren mulai menunjukkan hasil nyata. Pondok Pesantren Modern Yatim dan Dhuafa Madania di Banguntapan, Bantul, D.I. Yogyakarta, kini berhasil membangun kemandirian finansial melalui budidaya melon di greenhouse yang dikelola bersama para santri.
Keberhasilan tersebut tidak diraih secara instan. Sejak 2022, akademisi Fakultas Pertanian UGM sekaligus pakar hortikultura, Agus Budi Setiawan, S.P., M.Sc., Ph.D., mendampingi pengelola pondok dalam mengembangkan sistem budidaya melon modern di greenhouse bantuan hibah yang berdiri di kawasan bekas puskesmas.
Pada awal pengelolaannya, greenhouse seluas 20 x 25 meter yang diterima pondok pada 2021 belum mampu memberikan hasil optimal. Minimnya pengalaman mengelola pertanian modern membuat produksi melon dan sayuran saat itu jauh dari harapan.
“Hasil panen sayuran dan melon kami ketika itu hanya sekitar 30-50% persen saja. Tetapi, setelah ada pendampingan dari Pak Agus, hasil panen yang seluruhnya melon hampir pasti mencapai 90%, bahkan lebih,” ujar Wildan, salah satu Tim Operasional Greenhouse Madania, Jumat (22/5).
Transformasi greenhouse tersebut berlangsung bertahap. Pendampingan tidak hanya menyentuh aspek budidaya, tetapi juga transfer pengetahuan mengenai peracikan pupuk, manajemen operasional greenhouse, hingga teknik pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas unggul.
Kerja sama Agus dengan pihak pondok bermula dari hubungan lama dengan rekan semasa kuliah di Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian UGM. Dari komunikasi tersebut, lahirlah inisiatif untuk mengoptimalkan fungsi greenhouse agar tidak sekadar menjadi fasilitas pertanian biasa.
Kini, Greenhouse Madania bahkan telah mencapai swasembada benih melon. Kemampuan menghasilkan benih secara mandiri dinilai mampu memangkas biaya produksi hingga jutaan rupiah yang sebelumnya digunakan untuk membeli bibit dari luar daerah.
Agus menilai greenhouse memiliki peran lebih besar daripada sekadar bangunan pertanian tertutup. Menurutnya, fasilitas tersebut dapat menjadi ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat apabila dikelola secara konsisten dan berbasis riset.
“Kami memandang greenhouse bukan sebatas wujud fisik bangunan, tetapi aset berharga dalam proses pemuliaan tanaman. Siklus tanaman yang hanya bisa dipanen 2 kali dalam setahun, sekarang bisa dipanen hingga 4 kali,” pungkasnya.
Peningkatan produktivitas itu berdampak langsung terhadap keberlangsungan ekonomi pondok pesantren. Dalam satu kali panen, sekitar 1.300 buah melon berhasil diproduksi dan hampir seluruh hasil panen telah dipesan konsumen sebelum masa distribusi.
Keberhasilan tersebut juga menunjukkan peningkatan kapasitas para santri dalam mengelola pertanian modern. Aktivitas operasional greenhouse kini sebagian besar dijalankan secara mandiri oleh tim pondok tanpa ketergantungan penuh pada pendamping lapangan.
Agus mengungkapkan, rutinitasnya menyambangi greenhouse setiap pagi sebelum berangkat ke kampus kini sudah jauh berkurang. Para santri dinilai telah mampu melakukan adaptasi teknis serta menyelesaikan persoalan budidaya secara mandiri melalui koordinasi jarak jauh apabila diperlukan.
Sementara itu, pengelola Pondok Pesantren Madania, KH. Suyanta, S.Ag., M.S.I., menyebut keberhasilan greenhouse memberikan dampak besar terhadap efisiensi ekonomi pondok. Menurutnya, pesantren kini tidak lagi sepenuhnya menggantungkan kebutuhan operasional dari bantuan donatur maupun lembaga sosial.
Selain aspek ekonomi, kemampuan teknis para santri juga berkembang signifikan. Mereka kini telah menguasai keterampilan meramu pupuk, melakukan breeding benih, hingga menjalankan operasional greenhouse secara menyeluruh.
Keberhasilan Greenhouse Madania menjadi contoh bagaimana hasil riset akademik dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara dunia pendidikan dan lembaga sosial tersebut tidak hanya menghasilkan panen melon berkualitas, tetapi juga menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.









