Beranda News Siswa SMAN 1 Kalasan Dilatih Siaga Bencana, Jadi Garda Awal Edukasi di Lingkungan
News

Siswa SMAN 1 Kalasan Dilatih Siaga Bencana, Jadi Garda Awal Edukasi di Lingkungan

Siswa SMAN 1 Kalasan Dilatih Siaga Bencana, Jadi Garda Awal Edukasi di Lingkungan

MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA – Ratusan siswa SMAN 1 Kalasan, Sleman, mengikuti simulasi kesiapsiagaan bencana pada Kamis, 22 Mei 2026. Dalam kegiatan yang melibatkan sekitar 200 siswa kelas X itu, para pelajar tampak berlutut sambil melindungi kepala dengan tas dan perlengkapan seadanya—sebuah prosedur dasar dalam menghadapi gempa bumi.

Program ini merupakan bagian dari edukasi tanggap bencana yang digagas InJourney Destination Management. Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau 10 sekolah dengan total lebih dari 1.000 siswa.

Direktur Operasi (COO) InJourney Destination Management, Indung Purwita Jati, mengatakan pihaknya secara konsisten menyasar siswa sekolah menengah atas karena dinilai telah memiliki kapasitas untuk memahami materi kebencanaan, baik yang bersifat teknis maupun non-teknis.

“Kami berharap mereka tidak hanya memahami untuk diri sendiri, tetapi juga menjadi agen edukasi di lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Menurut Indung, para siswa diharapkan mampu meneruskan pengetahuan yang diperoleh kepada keluarga dan masyarakat sekitar. Peran ini dinilai penting, mengingat respons pertama saat bencana kerap bergantung pada kesiapan individu di lingkungan terdekat.

Kegiatan ini juga bertepatan dengan peringatan 20 tahun gempa bumi Yogyakarta. Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menekankan pentingnya menjadikan peristiwa tersebut sebagai pengingat kolektif.

“Jangan sampai kita melupakan sejarah, karena itu akan membuat kesiapsiagaan kita rapuh,” kata dia.

Lilik menyebutkan, secara nasional terdapat sekitar 250 ribu sekolah yang berada di kawasan rawan bencana, mulai dari gempa bumi, longsor, hingga banjir. Karena itu, penguatan kapasitas sekolah menjadi langkah strategis dalam membangun ketahanan masyarakat sejak dini.

Ia menambahkan, pembelajaran dari peristiwa masa lalu harus terus diolah menjadi praktik kesiapsiagaan yang konkret. Dalam konteks ini, sekolah menjadi titik masuk penting untuk menanamkan kesadaran sekaligus keterampilan mitigasi bencana.

Program edukasi ini, kata dia, merupakan bagian dari investasi jangka panjang dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Pemerintah dan pemangku kepentingan diharapkan terus memperluas jangkauan program serupa, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Selain itu, isu potensi gempa besar, termasuk siklus megathrust dan aktivitas Sesar Opak, turut menjadi perhatian para ahli. Sejumlah rekomendasi dari forum pakar di Yogyakarta menjadi dasar untuk memperkuat langkah-langkah kesiapsiagaan ke depan, termasuk melalui pendidikan berbasis sekolah.

Sebelumnya

AstraPay Rayakan HUT ke-6, Tegaskan Komitmen Digitalisasi UMKM Nasional

Selanjutnya

Mengkaji Gagasan Kuntowijoyo, UGM Dorong Ilmu Pengetahuan Berbasis Nilai dan Transformasi Sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement