Pompa Bensin Komres 961
Oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – KOMANDO RESOR 961 Yogyakarta yang beralamat di Jalan Reksobayan, Yogyakarta—kini menjadi Polresta Yogyakarta—sejak tahun 1970-an, bahkan mungkin sebelumnya, memiliki penampakan depan seperti itu dan tidak banyak mengalami perubahan.
Halaman tidak luas. Perubahan yang terlihat adalah adanya bangunan perkantoran di halaman depan sisi timur yang menempel pada tembok Gedung Agung. Di sisi barat terdapat masjid, kemudian menara telekomunikasi, serta kini ada gerbang yang tinggi dan besar.
Dinding bangunan gedung ini tidak banyak mengalami perubahan sejak dahulu, ketika saya sering “sowan” ke simbah yang bertugas di Komres 961 Yogyakarta pada masa Danres-nya Pak Yatiman. Atau ketika diajak Pak Jayus (Djajusman), anggota polisi yang tinggal di Suronggaman dan sering membawa pulang jip polisi, lalu mengajak anak-anak berkeliling sambil menjelaskan tugas polisi, perbuatan yang bisa ditangkap polisi, dan lainnya.
Namun, baru ketika SMA saya selalu melihat kendaraan dinas polisi yang mengisi bensin di halaman depan kantor polisi ini. Waktu SMA, saya berangkat menggunakan Colt pikap dari Wates yang membawa mbok-mbok bakul sayuran. Saya naik dari Jalan Pierre Tendean dan selalu turun di Kantor Polisi Ngupasan. Dari sana, saya masuk gang kecil ke utara sampai tembok belakang sekolah, kemudian memanjat tembok hingga sampai di depan kelas. Dulu, sekolah tersebut bernama SMA Negeri II IKIP Yogyakarta.
Mengapa yang paling masuk dalam ingatan adalah pengisian bensin?
Di halaman depan, yang mungkin sekarang lokasinya berada di dekat tiang bendera, terdapat pompa bensin kuno yang sangat indah. Pompa bensin ini belum elektrik, sehingga petugas pengisian harus mengengkol untuk mengisi gelas yang berada di bagian atas pompa.
Masing-masing gelas berkapasitas 10 liter. Ketika kedua gelas penuh, berarti berisi 20 liter. Pada setiap gelas terdapat garis-garis penanda volume: 1, 1 1/2, 2, 2 1/2, 3, 3 1/2, 4, 4 1/2, dan seterusnya.
Setelah gelas terisi sesuai kebutuhan, ujung selang (nozzle) dimasukkan ke lubang tangki kendaraan yang akan diisi, kemudian katup dibuka. “Cuuuurrrrr,” bensin pun mengalir masuk ke dalam tangki.
Pompa bensin ini tampak indah dan masih terpasang hingga awal 1990-an, sebelum akhirnya tergeletak di bagian belakang. Seorang wartawan senior pernah menunjukkan kepada saya pompa bensin tersebut yang tergeletak di belakang sambil bergumam, “eman-eman lho, antik kuwi.”
Saat itu, pom bensin di Kota Yogyakarta memang belum sebanyak sekarang. Yang terbesar adalah pom bensin di Jalan Senopati milik Fa. Soegito, kemudian NV Kilat di Jalan Diponegoro—yang kini menjadi rumah makan dan sebelumnya pernah menjadi kantor taksi Centris—serta pom bensin di Jalan Solo (Urip Sumoharjo) yang sekarang menjadi BCA.
Sekarang? Benda itu berada di mana, saya kurang tahu. Semoga masuk ke museum kepolisian. (***)











