Warung Pak Bon Digusur Kantin Sekolah
Oleh : Agus U, jurnalis
Marknews.id – Di era 1980-an atau bahkan jauh sebelumnya, di setiap sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA/SLTA, bahkan di kantor-kantor pemerintah, selalu ada sosok yang dikenal dengan sebutan Pak Bon dan mBok Bon.
Pak Bon merupakan karyawan, baik pegawai tetap/PNS maupun honorer, yang dalam kesehariannya bertugas menjaga sekolah, membuka gerbang, ruang kantor, ruang kelas, membersihkan lingkungan, serta menyiapkan minuman—biasanya teh dan air putih—untuk guru atau karyawan.
Sebagai penjaga sekolah atau kantor pemerintah, Pak Bon biasanya tinggal di kompleks sekolah, umumnya di bagian pojok belakang yang dilengkapi dengan toilet atau yang dulu dikenal dengan sebutan urinoir.
Selain menerima gaji dari pemerintah, Pak Bon juga kerap membuka warung makanan dan minuman untuk anak-anak sekolah. Saat itu, belum dikenal istilah kantin, melainkan warung mBok Bon.
Nama asli mereka sering kali tidak diketahui oleh para siswa. Karena tugas utamanya sebagai Tukang Kebun atau Tukang Kebon, maka ia dipanggil Pak Bon, sementara istrinya disebut mBok Bon.
Berbeda dengan warung di luar sekolah, harga makanan di warung mBok Bon cenderung lebih mahal. Setelah ditelusuri, hal ini merupakan strategi untuk mengurangi risiko kerugian.
Sebanyak 90% anak-anak yang jajan di warung mBok Bon kerap tidak jujur. Mereka bisa makan dua tetapi hanya membayar satu, bahkan terkadang lebih dari itu namun tetap dihitung satu.
Modusnya beragam. Saat anak-anak bergerombol di depan makanan, ada yang mengambil lalu menghilang, kemudian kembali saat suasana sepi. Mereka bisa makan satu atau dua makanan, minum segelas minuman, atau bahkan meminta minuman milik teman meski sebelumnya sudah menghabiskan satu gelas.
Dua bakwan atau makanan lain sering diambil sekaligus. Di tangan, kedua makanan itu ditumpuk atas dan bawah. Yang atas digigit hingga habis, sementara yang bawah sudah diberi bekas gigitan agar terlihat seolah baru mengambil satu.
Istilah “nggabro”, yakni jumlah yang dibayar lebih sedikit dari yang dimakan, menjadi kebiasaan umum. Karena itu, harga yang lebih mahal menjadi cara untuk menekan risiko kerugian akibat praktik tersebut.
Soal merokok, anak-anak SMA biasanya sudah mulai melakukannya. Namun, rokok tidak dibeli di warung mBok Bon. Ada kebiasaan unik, yakni setiap anak memiliki tempat tertentu untuk menyimpan rokok cecekan atau rokok yang belum habis diisap, yang kemudian akan dilanjutkan pada kesempatan berikutnya.
Warung mBok Bon kini tinggal kenangan. Yang ada sekarang adalah kantin sekolah yang dikelola oleh pihak luar, biasanya melalui sistem sewa atau “menang tender” untuk penggunaan ruang kantin. Karakternya tidak jauh berbeda, harga tetap relatif mahal, namun pilihan makanan lebih beragam.
Jika dulu warung tersebut menjadi pekerjaan tambahan bagi keluarga penjaga sekolah, kini kantin benar-benar dikelola oleh pihak luar yang memiliki kepentingan bisnis.











