Idul Fitri Ikut Kalender Kraton Atau Nasional?
Marknews.id – Perbedaan penetapan tanggal awal puasa (megeng), 1 Syawal/1 Sawal, hingga pelaksanaan salat Idul Fitri sebenarnya sudah terjadi sejak puluhan tahun lalu.
Bagi masyarakat Yogyakarta, perbedaan penetapan tanggal tersebut sejak lama tidak menjadi perpecahan dan dijalani secara biasa-biasa saja.
Hingga dekade 1970-an, perbedaan penetapan tanggal yang terjadi bagi masyarakat Yogyakarta selalu disikapi dengan bijak dan tidak pernah menimbulkan gejolak. Bahkan, pertanyaan mengenai harus mengikuti yang mana tidak pernah menjadi bagian yang memicu konflik.
Pada masa lalu, ketika belum ada media sosial dan media elektronik yang kerap mengeksplorasi perbedaan, di kalangan masyarakat Yogyakarta pertanyaan yang muncul adalah kapan awal puasa, kapan 1 Sawal, dan kapan Idul Adha. Pertanyaan tersebut dianggap hal yang biasa. Namun, setelah muncul jawaban, pertanyaan berikutnya—terutama di kalangan orang dewasa dan orang tua—adalah tanggal tersebut mengikuti kalender yang mana.
Kalender nasional yang berarti Masehi atau yang mengikuti ketentuan pemerintah, ataukah menurut Kraton Yogyakarta. Memang demikian yang terjadi.
Baik pemerintah maupun Kraton Yogyakarta tidak pernah membuat pengumuman secara masif dan gencar.
Biasanya, masyarakat Yogyakarta menandai datangnya momen tersebut dengan pemasangan rontek atau tombak pendek yang ditancapkan di rute yang akan dilalui iring-iringan gunungan. Tombak kecil yang diberi bendera kecil itu dipasang dari depan Pagelaran ke arah utara, kemudian berbelok ke barat di sebelah selatan Ringin Kurung hingga menuju Masjid Gede.
Sementara itu, warga Muhammadiyah—terutama yang berada di Kauman, Suronatan, Purwodiningratan, dan sekitarnya—menentukan hari yang dinanti dengan melihat kalender khusus Muhammadiyah. Kalender tersebut berupa lembar berisi 12 bulan dengan penekanan pada kalender Hijriyah yang berdampingan dengan kalender Masehi dan kalender Jawa.
Perbedaan adalah perbedaan yang tidak perlu menjadi pemisah. Nyaris tidak pernah terjadi di satu lokasi, bahkan di Yogyakarta, pelaksanaan dua kali salat Id dalam dua hari berturut-turut untuk mengakomodasi perbedaan tersebut.
Yang terlihat hanyalah kemungkinan pada satu hari dilaksanakan salat Id, sementara pada hari berikutnya baru dilangsungkan garebeg.
Semua berjalan dengan nyaman dan tidak ada yang mempertanyakan mengapa terjadi perbedaan.
Kalender yang digunakan oleh Kraton Yogyakarta, yang disebut Kalender Jawa Sultanagungan, memang memiliki perhitungan sendiri dan tidak mengikuti rukyatul hilal, meskipun tidak sepenuhnya menggunakan hisab sebagaimana yang menjadi patokan Muhammadiyah.
Namun sayangnya, kalender Jawa versi Kraton ini kini tidak lagi beredar atau dapat dibeli oleh masyarakat umum.
Dahulu, Kalender Jawa Sultanagungan banyak diminati masyarakat, terutama kalangan narakisma atau petani, karena memuat secara lengkap pranata mangsa, pawukon, serta berbagai perhitungan kalender Jawa lainnya. (**)









