Es Piring Menghilang Bersama Oxan
Oleh: Agus U, Jurnalis
Marknews.id – ES PIRING? Ya benar, sebutannya es piring. Istilah ini sangat akrab terdengar di salah satu tempat nongkrong di Kota Yogyakarta era 1990-an. Lokasinya di sisi barat Stadion Kridosono, Yogyakarta yang sekarang ditempati Soto Barokah dan deretannya.
Dahulu, tempat ini adalah tempat nongkrong yang relatif ramai didatangi oleh banyak kalangan: orang baik dan orang tidak baik, pelanggar peraturan perundangan dengan pemburu penjahat, orang yang berencana dengan aparat yang ingin mengendus setiap rencana orang banyak.
Adalah perempuan muda yang sering nongkrong di tempat itu, panggilannya Oxan. Cantik, atraktif, berambut pendek, “konyal-kanyil”, dan penyuka kebebasan.
Tempat duduk di warung malam milik Pak Harry — almarhum — yang dipilih Oxan selalu di deretan kedua dari belakang sisi selatan. Oxan biasa datang di tempat itu pukul 11-an malam dan masuk warung, selalu ke depan dan pesan es piring. Awalnya terdengar aneh, karena tempat ini tidak menyediakan minuman es secara khusus.
Kebanyakan tamu di tempat ini memesan teh poci gula batu — satu sajian teh poci dengan empat cangkir kecil untuk empat orang — kemudian sajian aneka gorengan yang jumlahnya sudah ditentukan oleh pengelola, serta minuman lainnya.
Namun, permintaan Oxan ini dapat dilayani. Bukan minuman es yang disajikan dalam wadah piring, tetapi minuman kopi yang diseduh sebentar, kemudian disaring dan dimasukkan lagi dalam gelas yang sudah ada potongan es batu: es kopi saring.
Sajian kopi di tempat ini masih seperti warung-warung model lama, tidak menyediakan beraneka jenis kopi seperti sekarang yang dibedakan dalam varian robusta dan arabika, kemudian turunannya. Dahulu hanya kopi manis atau pahit, gelas besar itu saja. Paling sedikit bergeser ke kopi susu, tidak lebih. Dan sajian kopi adalah panas. Kopi yang setengah dingin atau hangat, bahkan dingin, tidak menarik minat.
Kemudian muncul kopi jos yang mula-mula diperkenalkan oleh pedagang angkringan, Kang Wagino asal Bayat di bilangan Condongcatur. Kopi jos Malioboro? Orang bilang durung pojo-pojo lahir. Kang Wagino merupakan generasi pertama pedagang angkringan di Yogyakarta, setelah Solo penuh. Dahulunya, pedagang angkringan ini banyak ditemukan di Solo, dan setelah Kota Kasunanan itu penuh, barulah pedagang angkringan ini menyerbu Jogja. Istilah hik tidak dipakai di Jogja, dan merebaknya pedagang angkringan di Jogja membuat pedagang tenongan berangsur-angsur tergusur, sebagian besar pedagangnya beralih menjadi pedagang angkringan yang mangkal di satu tempat.
Guyonan kopi yang paling khas waktu itu adalah lepek atau piring kecil yang menjadi tataan gelas kopi dijadikan tutup, kemudian dibalik, sehingga harus disruput pelan-pelan.
Es kopi saring yang dipesan Oxan ini sering dianggap aneh oleh banyak pengunjung, namun Oxan tak pernah bergeser dari pesanannya. Setiap kali datang, es piring selalu muncul dalam daftar pesanan.
Akhir dekade 1990-an, atau setidaknya seputar waktu krisis moneter yang disusul dengan tumbangnya rezim Orde Baru, Oxan menghilang. Perempuan yang bernama asli TRI WUSONO JATI ini tak lagi bisa ditemukan. Tempat-tempat yang biasa disinggahi selain Kridosono — Rainbow, Papillon, Butterfly — jejak Oxan juga tak ditemukan lagi. Bahkan beberapa orang yang semula akrab dengan Oxan pun, ketika ditanya, tidak tahu. Parahnya, beberapa orang menjawab tidak kenal dengan Oxan.
Tempat tinggal Oxan, di salah satu kamar hotel di Danurejan pun tak terlihat. Penjaga hotel mengaku tidak tahu kepergiannya.
Menghilangnya Oxan, teh poci Kridosono, dan es piring, menjadi tanda akhir dari warung-warung sejenis. Tak lagi terdengar orang memesan es piring.
Hanya saja, beberapa hari lalu sempat mendengar orang memesan es kopi di warung angkringan yang ada di seputaran Terminal Jombor, tapi tidak ada pesanan “saring”. Artinya, minuman kopi tersebut masih ada ampasnya, atau dalam bahasa dahulu disebut cekakik.
Kalau di coffee shop, memang tak ada sajian kopi yang diseduh seperti cara angkringan, artinya sudah disaring saat menuangkan air panas.
Ke mana Oxan? Tak ada yang tahu…. (****)











