Beranda Berita Utama Labuhan Ageng Dal 1959 Tandai Peringatan Tingalan Jumenengan Sri Sultan HB X di Keraton Yogyakarta
Berita Utama

Labuhan Ageng Dal 1959 Tandai Peringatan Tingalan Jumenengan Sri Sultan HB X di Keraton Yogyakarta

Marknews.id, Yogyakarta – Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar rangkaian upacara Tingalan Jumenengan Dalem Dal 1959 sebagai penanda peringatan ulang tahun kenaikan takhta Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10. Peringatan tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan Tahun Jawa Dal, yang dalam tradisi keraton dipandang sebagai salah satu momentum terpenting dalam satu siklus windu.

Puncak peringatan Tingalan Jumenengan Dalem berlangsung pada Minggu Kliwon, 18 Januari 2026, bertepatan dengan 29 Rejeb Dal 1959 dalam kalender Jawa Sultanagungan. Pada momentum tersebut, Sri Sultan HB X memperingati 38 tahun bertakhta menurut penanggalan Jawa. Sementara berdasarkan kalender Masehi, masa kepemimpinan Sri Sultan genap 37 tahun pada 7 Maret 2026.

Rangkaian hajad dalem telah dimulai sejak 27 Rejeb dengan sejumlah prosesi sakral yang sarat makna filosofis. Prosesi Bucalan dan Ngebluk menjadi pembuka rangkaian acara, dilanjutkan dengan Ngapem pada 28 Rejeb. Pembuatan apem, baik apem mustaka maupun apem alit, dimaknai sebagai simbol permohonan ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pada hari peringatan penobatan Sultan, Keraton Yogyakarta menggelar Sugengan, sebuah upacara selamatan yang dihadiri keluarga keraton dan para abdi dalem. Upacara ini menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus doa bersama untuk keselamatan Sultan, keluarga, keraton, serta masyarakat luas.

Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa, KRT Kusumonegoro, menjelaskan bahwa pelaksanaan Tingalan Jumenengan Dalem tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Bahwa dalam siklus satu windu (8 tahun) ada 2 prosesi Tingalan Jumenengan Dalem, yang berbeda dan dianggap lebih besar yaitu pada Tahun Dal dan Wawu. Tahun Wawu merupakan tahun Jawa saat Ingkang Sinuwun HB Ka 10 Jumeneng Nata (penobatan), sementara tahun Dal merupakan tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.

Perbedaan paling menonjol terlihat pada penyelenggaraan Labuhan Ageng Dal 1959. Jika pada Labuhan Alit biasanya labuhan hanya dilakukan di tiga lokasi, yakni Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu, maka khusus Tahun Dal ini Keraton Yogyakarta menambah satu lokasi labuhan, yakni di Petilasan Dlepih Kayangan, Kabupaten Wonogiri.

“Apabila dalam prosesi Labuhan Alit (selain tahun Wawu dan Dal) lokasi labuhan hanya di tiga tempat, yaitu Pemancingan Parangkusumo, Gunung Merapi dan Gunung Lawu. Khusus Labuhan Ageng, lokasi labuhan selain tiga tempat tersebut di atas, masih ada satu tempat lagi yaitu Dlepih Kayangan di Kabupaten Wonogiri,” tambahnya.

Menurut KRT Kusumonegoro, keberadaan Petilasan Dlepih memiliki nilai historis dan spiritual yang kuat bagi Keraton Yogyakarta. Lokasi ini menjadi pengingat bagi raja yang bertakhta untuk senantiasa menjaga marwah leluhur, sekaligus menapak tilas jejak Panembahan Senopati, Sultan Agung Hanyakrakusumo, hingga Pangeran Mangkubumi dalam upaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Upacara Labuhan sendiri dimaknai sebagai simbol pembuangan sifat-sifat buruk melalui pelarungan ubarampe labuhan. Pada Labuhan Ageng Dal 1959, Keraton Yogyakarta menambahkan sejumlah ubarampe khusus, di antaranya songsong gilap dalam Labuhan Parangkusumo, kambil watangan atau pelana kuda dalam Labuhan Merapi, serta dua songsong dalam Labuhan Lawu.

Lebih dari sekadar tradisi, Labuhan menjadi wujud penghormatan terhadap perjuangan leluhur serta ikhtiar menjaga keselarasan antara manusia dan alam. Nilai tersebut sejalan dengan tugas Sultan sebagai pemangku amanah Hamemayu Hayuning Bawono, yakni merawat keharmonisan dunia dan kehidupan.

Seiring pelaksanaan rangkaian Labuhan Ageng, pihak Keraton Yogyakarta mengimbau masyarakat yang ingin menyaksikan atau berpartisipasi agar tetap menjaga ketertiban dan kekhidmatan prosesi.
“Kami menghimbau masyarakat agar tetap mengedepankan asas ketertiban, keselamatan dan keamanan. Agar prosesi dapat berjalan baik, khidmat dan lancar,” tutup KRT Kusumonegoro.

Informasi terbaru terkait rangkaian Tingalan Jumenengan Dalem dapat diikuti melalui kanal resmi media sosial Keraton Yogyakarta.

Sebelumnya

Populasi Elang Jawa Terancam, Akademisi UGM Ingatkan Dampak Serius bagi Keseimbangan Ekosistem

Selanjutnya

“Den, nginthil den.....”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement