Lampor — Perjalanan yang Menghubungkan Laut Selatan ke Gunung Merapi — Hanya bertutur masa lalu bukan untuk memaksa anda percaya
Oleh: Agus U, Jurnalis
Marknews.id – ORANG dahulu khususnya yang tinggal di pinggir sungai di Yogyakarta yang terhubung dengan puncak Gunung Merapi dengan Samudera Hindia (Segara Kidul). Sungai-sungai ini terutama Sungai Code dan Sungai Winongo.
Tidak seperti film bioskop yang berjudul Lampor yang disutradarai Guntur Soeharjanto. Lampor yang dikenal warga Yogyakarta ini adalah iring-iringan prajurit berkuda serta kereta kuda yang biasanya dari arah Laut Selatan (Segara Kidul) ke Gunung Merapi atau sebaliknya di malam hari.
Lampor yang dikenal masyarakat era 1970-an atau yang lebih tua lagi, biasanya muncul pada tengah malam hari Jumat atau Selasa Kliwon. Atau waktu khusus ketika akan terjadi malapetaka dan bencana di wilayah Yogyakarta.
Lewatnya lampor, dikenali dengan suara kelinting gemerincing kuda dan derap kaki kuda yang sepertinya berjumlah sangat banyak. Mulai terdengar dari kejauhan pelan-pelan mendekat kampung-kampung.
Jika sudah mendengar gemerincing dan ringkik kuda dari kejauhan masyarakat akan memilih masuk rumah dan menutup pintu rapat-rapat.
“Ana kidung rumeksa ing wengi…. teguh hayu luputa ing lara, luputa bilahi kabeh…. jim setan datan purun paneluhan tan ana wani…miwah panggawe ala….”
Biasanya orang yang sedang impleng — ronda siskamling saat itu, biasanya kalau mendengar dari kejahuan suara kuda tidak akan pulang, namun kemudian kekidungan. Salah satunya adalah kidung rumeksa ing wengi atau kidung menjaga malam.
Para tetua kampung dan orang ronda, tidak akan pulang, demi menjaga kampungnya agar tidak terkena bala’ atau wabah. Mereka akan kembali ke rumah, ketika sudah mendekati matahari terbit atau setelah mendengar suara derap gemerincing kuda yang kembali dari utara (Gunung Merapi) ke arah selatan.
Namun ternyata pengertian lampor ini berbeda dengan yang dikenali oleh warga Kretek, Bantul. Seorang teman yang saat itu menjadi wartawan bercerita, lampor itu ketika air laut melompat hingga menggenangi persawahan penduduk.
Terlepas mana yang benar dan mana yang salah, warga Yogyakarta tak lagi mendegar suara-suara yang dahulu dikatakan lampor. Bahkan mereka yang lahir di era 1990-an atau yang mulai berangkat remaja tahun 2000-an tak pernah lagi mengenal lampor.
Tak hanya lampor, drum band pagi menjelang hari besar nasional, suara rijal dan sebagainya tak lagi dikenal.
Sekali lagi tidal mengajak anda percaya atau tidak percaya. Tetapi ini sekadar cerita yang pernah hidup di kalangan masyarakat Yogyakarta. (***)











