Hur Cici Ci Hur Cina, Permainan Mistis yang Telah Hilang
oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – SEORANG anak dipegang tiga orang. Satu orang di kanan, memegang tangan dan menutup kuku-kuku tangan kanan, kuku kaki diinjak dan seorang lagi di kiri melakukan hal yang sama. Di belakang seorang menutup matanya dengan kedua tangan.
Anak-anak yang lain mengelilingi. Sebelum kuku tangan, kuku kaki dan mata ditutup, harus ada perjanjian antara orang yang ditutup dengan salah satu dari orang yang memegang.
“Mengko matine dikapakke?” yang berarti nanti matinya — selesainya permainan diapakan?
“Dibengoki (kata) apa…” yang disepakati sebagai password untuk menghentikan. Yang passwordnya bisa berguna hanya salah satu dari tiga orang tersebut.
Kuku kaki dan kuku tangan ditutup, mata ditutup, kemudian orang ini ditarik ke kiri dan ke kanan pelan-pelan dan tidak menyakiti. Anak-anak lainnya ikut menyanyi dengan syair yang tak pernah diketahui makna sesungguhnya.
“Hur cici ci hur cina, hur baba ba hur landa, gembili kacang cina ra doyan oncek ana…..” demikian berulang dilantunkan seluruh anak-anak yang ada di lokasi. Permainan ini biasanya dilakukan pada malam hari, di halaman yang cukup luas dan tidak terlalu terang. Lebih disukai ketika bulan masih terang tetapi setelah purnama. Atau kalau kalender Jawa pada hitungan tanggal 16 hingga 20-an. Kata orang dulu, pada paro gelap pertama.
Setelah ditarik ke kiri dan ke kanan di bawah lantunan nyanyian, anak yang kuku-kuku dan matanya ditutup akan berontak. Mata tertutup, mendengus dan akan menuruti perintah dari orang yang tadi menempati posisi pemegang tangan kanan. Orang yang tadinya ditarik-tarik menjadi orang seperti kesurupan, namun terkendali.
“Oyak-en Tukijo….” maka si kesurupan tadi akan mengejar Tukijo.
“nJoget kethek….” si kesurupan akan menari seperti tarian peraga monyet di cerita wayang orang.
Setelah bermain barang satu atau dua jam, pemegang password akan minta izin pada teman-temannya yang menikmati untuk mengakhiri pemainan. Biasanya mayoritas anak akan setuju permainan berakhir dan si pemegang password akan segera meneriakkan kata-kata sakti yang telah disepakati. Meski sedang menari, mendengar kata-kata sakti orang yang kesurupan akan segera berhenti, duduk dan lemas.
Tak ada upah, tak ada sambutan air minum. Permainan usai dan masing-masing akan bercerita apa yang telah terjadi.
Permainan ini mirip dengan yang disebut kebo-kebo gambiran. Hanya saja orang yang dijadikan kesurupan, disuruh nungging dan punggungnya ditaboki pelan pelan di bawah nyanyian “Bo kebo gambiran ethok-ethok….” berulang lagi sampai anak tersebut bangkit, mata tertutup, menari gagahan dan baru dapat diperintah oleh orang yang disepakati memegang password.
Dua permainan seru ini sudah menghilang.
Permainan mistis tinggal Jalangkung (jailangkung). Permainan lainnya Nini Thowong (sebutan di Jogja) atau Nini Thowok di daerah lain yang menggunakan siwur (gayung air dari batok kelapa dan gagang belahan bambu) yang sejak malam sebelumnya ditinggal di tempat yang angker.
Syarat siwurnya, harus dicuri dari rumah orang. Dicuri dari janda galak makin mudah jadi (ndadi). Siwur ini harus dikembalikan bersih setelah permainan usai.
Permainan malam hari, Nini Thowong biasanya akan berakhir setelah tengah malam.
Ada prosesi pengambilan siwur dari tempat angker. Diambil sambil menyanyi. “Dho njupuk bocah bajang rambute arang abang….” terus berulang. Setelah diambil, siwur diikat dengan empat atau dia selendang. Masing-masing selendang (4 ujung) dipegang oleh satu orang. Tak boleh diganti selama permainan.
Di tempat yang luas, anak-anak akan menyanyi “Dhang gling gedheglang gedhegling angigela mas … anjogeta mas…” terus berulang. Siwur akan menari-nari. Selesai, siwur dijatuhkan tak boleh dipegang jika masih bergerak. Biasanya memerlukan waktu sekitar 15 menit.
Siwur dikembalikan ke rumah pemilik awal. Diantar dengan nyanyian “dho mbuwang bocah bajang rambute arang abang….” dan kemudian diletakkan di tempat semula.
Demikian permainan-permainan mistis ini kini tak ada lagi. Banyak yang mengatakan sebagai permainan setan, syirik, dosa dan sebagainya dan tak ada lagi halaman yang luas, tak ada lagi anak-anak yang bermain berkumpul malam hari, kalau ada….. biasanya akan berkeliling kota bersepeda motor. (***)









