Beranda Jogja Tempo Doeloe Jurnalis Konvergensi : Antara wartawan Dan Kolportir
Jogja Tempo Doeloe

Jurnalis Konvergensi : Antara wartawan Dan Kolportir

Ilustrasi

Oleh: Agus U, jurnalis

Marknews.id – HINGGA tahun 1990-an, seorang wartawan (tulis) akan menjalankan fungsinya sebagai pencari/pengumpul data dan fakta yang akan dituangkan dalam naskah berita. Para wartawan ini tidak akan mencampuri urusan iklan. Bahkan, foto yang secara “tidak sengaja” menampilkan suatu produk pun akan dinilai sebagai ketidakpantasan yang harus dihindari. Urusan mendapatkan iklan sepenuhnya menjadi tugas dan tanggung jawab kolportir.

Menurut KBBI: kolportir/kol·por·tir/ n orang yang pekerjaannya menjual atau mencari pelanggan surat kabar, majalah, atau barang cetakan lain.

Jika wartawan/redaksi berada di bawah komando Pemimpin Redaksi, orang iklan berada di bawah kepemimpinan Pemimpin Perusahaan. Namun dalam struktur organisasi yang tertinggi adalah Pemimpin Umum/Penanggungjawab. Untuk menjadi Pemimpin Umum/Penanggungjawab dan Pemimpin Redaksi tidak bisa hanya ditunjuk oleh manajemen atau perusahaan. Namun harus dikomunikasikan dengan Pemimin Redaksi media cetak lain yang ada dalam wilayah tersebut (biasanya se wilayah kerja Kanwil Departemen Penerangan — Deppen). Bahkan melibatkan pula instansi pemerintah/negara.

Sebagai “wong redaksi”, wartawan terbebas dari urusan mencari iklan. Jika ada sesuatu potensi iklan, wartawan hanya bisa menginfokan ke bagian iklan, tidak ikut campur dalam negosiasi. Hanya kebaikan kolportir iklan sajalah seorang wartawan yang mampu memberikan informasi potensi iklan dan “netes” itu mendapat bagian.

Senior-senior yang jauh di atas tahun-tahun tersebut akan merasa terhina jika mereka sebagai wartawan harus mencari iklan.

Namun, kondisi berubah. Era 1990-an muncul pariwara iklan terselubung dengan berita. Bagian iklan biasanya meminta kepada Redaksi untuk mengirimkan salah satu wartawannya membantu penanganan naskah pariwara.

Dalam perkembangan selanjutnya, Redaksi kemudian menempatkan wartawan yang khusus menangani pariwara atau iklan. Perkembangan selanjutnya menjadi terbalik. Banyak media yang tidak memiliki secara spesifik bagian iklan atau kolportir yang secara intensif mencari iklan.

Wartawan yang berhasil membawa iklan akan mendapat bagian dari nilai iklan yang kisarannya cukup besar. Yang terjadi sekarang ya wartawan ya mencari iklan.

Tugas rangkap ini kemudian dikenal dengan istilah konvergensi. Ya reporting, ya cari iklan, ya memasarkan produk ya macam-macam. (***)

 

Sebelumnya

Masuk Puncak Musim Hujan, Pakar UGM Minta Daerah Rawan Tingkatkan Kesiapsiagaan

Selanjutnya

Ngebon - Nyebrak - Utang Koperasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement