Beranda Berita Utama Ngepul, Kebiasaan Penonton Sepakbola yang Nyaris Hilang
Berita Utama

Ngepul, Kebiasaan Penonton Sepakbola yang Nyaris Hilang

Ilustrasi

Oleh : Agus U, jurnalis

Marknews.id – ERA 1970-an, banyak pertandingan sepakbola yang digelar di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Di Kota Yogyakarta, pertandingan yang paling banyak digelar di Stadion Kridosono.
Di kompleks stadion ini memang ada arena untuk bulutangkis, basket, bola voli dan lainnya yang indoor, ada kolam renang bernama Umbang Tirto, serta lapangan sepakbola.

Sepintas sejarah Stadion Kridosono dulunya bernama Stadion Bijleveld, diresmikan pada 28 Januari 1938. Stadion yang berada di Kotabaru, Yogyakarta, ini dirancang untuk olahraga warga Belanda dan didanai oleh kesultanan, dengan tujuan sebagai fasilitas olahraga di kawasan Nieuwe Wijk (Distrik Baru/kota baru). Sedangkan nama Kridosono baru digunakan setelah masa kolonial.

Setiap musim kompetisi, di stadion ini akan berlaga tim-tim di bawah PSSI antara lain SO (Sinar Oetara), TNH, Cendrawasih — pemainnya hampir 100% mahasiswa Papua — HW dan sebagainya. Untuk nonton, sama seperti sekarang, bayar alias beli kartjis.

Baik sebelum masuk stadion maupun di luar stadion, selalu ada orang yang menggelar tikar kecil dan di depannya tersedia gulungan-gulungan kertas yang mirip untuk kopyokan arisan. Warnanya macam-macam. Tiap warna menunjukkan tingkatan harga. Pada kertas tersebut juga diberi penanda sebagai identitas keabsahan pada pelapak tertentu. Dalam satu pertandingan, terutama yang besar dan ramai, mereka ini dipastikan ada.

Mereka biasa disebut sebagai penjual “pul” — ramalan skor akhir laga. Namun, ya kata orang bejo bejan karena kita tidak tahu berapa skor yang tertera di dalam gulungan tersebut. Bisa jadi 0-0, 0-1, 0-2, 2-1, 2-2, 2-3 dan seterusnya. Namun dipastikan tidak ada yang berisi angka 5-0, 7-0 dan angka besar lainnya yang tidak mungkin muncul dalam laga sepakbola. Kalau ada? Yang untung segunung bagi penjual pul.

Ada dua jenis, yakni yang hanya menyebut skor akhir tanpa menyebut pemenang, dan ada yang menyebut siapa pemenangnya yang biasanya tidak disertai skor akhir. Yang kedua ini hadiahnya besar dan biasanya dijual beberapa hari sebelum laga.

Kehadiran penjual pul ini memang banyak dicari baik mereka yang menonton di tribun maupun yang lesehan di rumput. Hadiahnya? Paling tinggi 5X harga. Seorang penjual pul akan jujur untuk warna tertentu ia membawa berapa gulung. Bisa jadi yang terbanyak 3-3, 3-4, 3-5, 1-4, 2-4, 2-5, 1-4, 1-4, 2-4, 3-4, 3-5, 4-4, 4-5, 5-5. Skor ini jarang didapat dalam satu pertandingan tapi tidak menyalahi “etika” berjualan pul.

Kebiasaan berdagang dan membeli pul atau istilahnya ngepul ini tidak hanya pada pertandingan besar, tetapi pada pertandingan persahabatan menjelang 17 Agustus pun dipastikan ada. Bahkan kemudian pedagang pul ini meluas. Laga di liga-liga Eropa pun ada yang berjualan pul. Di mana membeli? Setiap penggemar sepakbola sudah tahu tempatnya, kode pembeliannya, dan penjual yang menjadi langganannya.

Ngepul juga menjadi umpatan penonton kepada wasit yang memimpin pertandingan. Jika wasit terlihat berat sebelah, penonton pasti beramai-ramai berteriak, “Wasite ngepul….” yang menggema di sekeliling lapangan laga.

Lama-lama, penjualan pul ini makin membesar dan bahkan nilainya pun ikut membesar, kemudian sering digerebek dengan alasan judi.

Hanya saja kemudian dengan Surat Keputusan Menteri Sosial nomor BSS-10-12/85 bertanggal 10 Desember 1985, pemerintah menetapkan adanya Porkas. Meski diklaim tidak berunsur judi, namun kenyataannya justru jauh dari skor laga sepakbola. Hadiahnya? 50-30-20, berurutan untuk penyelenggara tebakan-pemerintah-penebak.

Porkas akhirnya ditutup tahun 1987. Dan kemudian dengan Surat Keputusan Menteri Sosial Nomor 29/BSS 1987, Porkas digantikan oleh KSOB (Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah) dan akhirnya tak jelas kelanjutannya.

Kini dengan makin beragamnya laga sepakbola, masih adakah ngepul atau yang sejenisnya? Silakan lihat sekeliling kita masing-masing.

 

Sebelumnya

Jawa Tengah Sabet Juara Umum Arung Progo Festival 2025. FAJI Jateng Boyong Piala Raja, Event Diapresiasi Pemkab Kulon Progo

Selanjutnya

PPJAI Mantapkan Ekspansi Jamu ke Pasar Amerika, Matangkan Skema Distribusi Melalui Amazon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement