Beranda Berita Utama PLN EPI Kembangkan Pertanian Terpadu, Limbah Ternak Jadi Pupuk Organik Produktif
Berita Utama

PLN EPI Kembangkan Pertanian Terpadu, Limbah Ternak Jadi Pupuk Organik Produktif

Marknews.id, Gunungkidul – Limbah peternakan yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa produksi tanpa nilai ekonomi, kini menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat di Kalurahan Gombang dan Kalurahan Karangasem, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Melalui Program Desa Berdaya Energi yang dijalankan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), kelompok tani setempat berhasil mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik yang mendukung pertanian sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat desa.

Hingga pertengahan 2026, program tersebut telah menghasilkan sekitar 14 ton pupuk organik dengan nilai ekonomi mencapai Rp15,4 juta. Hasil tersebut memberikan tambahan pendapatan masing-masing kelompok tani sebesar Rp7,7 juta. Selain itu, penggunaan pupuk organik juga menciptakan potensi penghematan biaya pembelian pupuk hingga Rp75,6 juta bagi masyarakat.

Capaian tersebut menjadi bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Berdaya Energi yang dikembangkan PLN EPI sejak 2024 di dua kalurahan tersebut. Program ini menghubungkan sektor peternakan, pertanian, produksi pupuk organik, pengembangan hijauan pakan ternak, hingga tanaman biomassa dalam satu sistem pemberdayaan yang terintegrasi.

Salah satu fokus utama program adalah pemanfaatan kotoran Kambing Peranakan Etawa (PE) dan sapi sebagai bahan baku pupuk organik. Hingga saat ini, sekitar 350 kilogram kotoran ternak telah dimanfaatkan sebagai campuran produksi pupuk organik.

Selama hampir dua tahun pelaksanaan program, total limbah ternak yang berhasil dimanfaatkan diperkirakan mencapai sekitar 23 ton di Kalurahan Gombang dan 15 ton di Kalurahan Karangasem. Pemanfaatan tersebut mendukung pengembangan sistem pertanian terpadu yang memaksimalkan sumber daya lokal.

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menjelaskan bahwa pengembangan pupuk organik menjadi salah satu strategi perusahaan dalam membangun desa yang mandiri secara ekonomi sekaligus ramah lingkungan.

“Melalui Program Desa Berdaya Energi, PLN EPI mendorong masyarakat untuk mengubah limbah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat praktik ekonomi sirkular yang menjaga keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” ujar Mamit.

Menurutnya, program tersebut dirancang dengan konsep ekonomi sirkular yang saling terhubung. Limbah peternakan diolah menjadi pupuk organik, kemudian pupuk digunakan untuk membudidayakan berbagai tanaman multifungsi seperti Indigofera, Kaliandra, dan Jatiputih. Selanjutnya, daun tanaman tersebut dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak.

Skema tersebut menciptakan siklus berkelanjutan yang mampu meningkatkan efisiensi usaha masyarakat sekaligus mengurangi limbah.

Selain menghasilkan pendapatan tambahan, penggunaan pupuk organik juga membantu menekan biaya produksi pertanian. Jika kebutuhan 14 ton pupuk dipenuhi menggunakan pupuk urea, masyarakat diperkirakan harus mengeluarkan biaya sekitar Rp91 juta. Dengan memanfaatkan pupuk organik hasil produksi kelompok tani, terdapat potensi penghematan hingga sekitar Rp75,6 juta.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Asem Mulya, Kalurahan Karangasem, Sunarto, menilai pendampingan yang dilakukan PLN EPI telah mengubah persepsi masyarakat terhadap limbah peternakan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal.

“Sebelumnya kotoran ternak hanya dianggap sebagai limbah. Sekarang kami mampu mengolahnya menjadi pupuk organik yang bermanfaat untuk lahan pertanian dan memiliki nilai jual. Program ini membuat kami semakin memahami pentingnya memanfaatkan potensi yang ada di desa untuk meningkatkan pendapatan kelompok sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya.

Sunarto berharap program pendampingan dapat terus berlanjut sehingga kapasitas kelompok tani semakin berkembang, baik dari sisi produksi, peningkatan kualitas pupuk organik, maupun perluasan akses pemasaran.

Sementara itu, Mamit menegaskan PLN EPI akan terus memperkuat kapasitas masyarakat melalui pendampingan teknis, pengembangan kelembagaan, dan peningkatan kualitas produk agar Desa Berdaya Energi dapat menjadi model pemberdayaan berbasis potensi lokal.

“Kami berharap keberhasilan kelompok masyarakat di Gunungkidul ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Ketika limbah dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi, maka masyarakat tidak hanya memperoleh tambahan pendapatan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi sirkular yang mampu menjaga keberlanjutan lingkungan,” tutup Mamit.

Melalui Program Desa Berdaya Energi di Gunungkidul, PLN EPI juga menegaskan komitmennya dalam mendukung penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengembangan ekonomi masyarakat yang berbasis sumber daya lokal dan berkelanjutan.

Sebelumnya

PLN EPI Bangun Ekosistem Peternakan Terintegrasi di Gunungkidul, Populasi Kambing Etawa Naik 52 Persen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement