Mendaki Merapi: Jejak Hijau di Punggung Remaja 1980-an
Oleh: Agus U, jurnalis
Marknews,id – Di era 1980-an, ketika dunia belum mengenal gawai dan ponsel pintar, petualangan adalah sesuatu yang sungguh nyata—terasa di telapak kaki dan di dada yang berdebar. Di Yogyakarta, satu hobi yang begitu populer di kalangan remaja kala itu adalah hiking dan mendaki gunung. Merapi menjadi panggung utama, tempat ratusan anak muda menguji nyali dan mencari arti kebebasan.
Setiap akhir pekan, berbagai kelompok penyelenggara kegiatan pendakian bermunculan bak jamur di musim hujan. Kuota peserta sering kali penuh. Tapi jangan khawatir—kalau satu kelompok menolak, masih ada kelompok lain yang siap menampung. Trek-nya sama, semangatnya sama: menaklukkan Merapi.
Dan yang paling dibanggakan dari semua itu adalah badge kecil—tanda ikut serta kegiatan—yang dijahit di baju kebesaran masing-masing. Mirip tanda regu pramuka, tapi nilainya lebih dari sekadar kain bordir. Itu adalah simbol petualangan. Bagi kami, semakin penuh badge di dada, semakin tinggi gengsi di kalangan teman sebaya.
Biaya ikut kegiatan? Hanya Rp50 per orang. Murah sekali. Untuk perbandingan, ongkos bus kota saja saat itu Rp25. Tak ada asuransi, tak ada pemandu profesional, tapi semangatnya menggelegak.
Hijau Tentara di Punggung Remaja
Para pendaki masa itu punya gaya khas: seragam hijau mirip pakaian dinas lapangan ABRI. Celana dan baju tentara, sepatu lars lungsuran, topi krepus atau sebo baraclava, sarung tangan, dan ransel hijau tua. Semua berbau militer—bukan karena ingin gagah, tapi karena memang itulah yang tersedia dan paling tangguh.
Air minum disimpan dalam veldples, wadah aluminium khas tentara. Yang tak punya, cukup jeriken bekas minyak cat satu literan. Kompor parafin, rantang segi empat, dan perlengkapan masak lapangan lainnya juga dari dunia militer. Lengkap sudah. Siap menelusuri lembah dan menapaki punggung Merapi.
Menuju Kinahrejo
Perjalanan biasanya dimulai dari Kaliurang, naik bus Baker atau Sederhana dari kota Yogyakarta. Dari situ, para pendaki menunggu hingga gerbang kawasan wisata ditutup. Barulah pagar dibuka secara diam-diam, dan rombongan bergerak menuju Kinahrejo, base camp legendaris di bawah Merapi.
Kinahrejo bukan sekadar desa kecil—itu adalah tempat tinggal Mbah Hargo, ayah dari Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi yang kemudian terkenal di seluruh negeri.
Untuk sampai ke sana, para pendaki harus menuruni jurang Kali Kuning, menyeberangi sungai, lalu menanjak ke arah Pelem sebelum akhirnya tiba di Kinahrejo. Di sinilah persiapan terakhir dilakukan. Kopi panas, obrolan ringan, dan suara jangkrik menjadi pembuka malam panjang.
Biasanya kami berangkat antara pukul 22.00 hingga 23.00 WIB, ketika udara mulai menggigit dan bintang-bintang menggantung di langit. Senter Tiger dengan dua baterai baru menjadi satu-satunya penerang di tengah gelap. Kadang ada asap rokok mengepul. Ya, mendaki sambil merokok itu biasa saja kala itu—asal puntungnya dipadamkan dengan benar.
Menuju Puncak Api
Perhentian pertama di Sri Manganti, tempat sakral yang digunakan untuk upacara labuhan. Di sini, kami beristirahat sejenak. Roti sobek dan air mentah dari jeriken menjadi santapan istimewa. Lalu perjalanan dilanjutkan hingga mencapai Kendhit, batas vegetasi tempat pepohonan mulai lenyap dan bebatuan vulkanik mengambil alih.
Semakin ke atas, langkah makin berat, tapi semangat justru tumbuh. Begitu cahaya kemerahan muncul di ufuk timur, pertanda fajar menyingsing, rasa lelah seolah terbayar lunas. Puncak Merapi disambut dengan rasa syukur, tawa, dan diam yang panjang—diam yang memuja alam.
Kamera? Hanya dimiliki oleh mereka yang “beruntung”. Bagi kebanyakan pendaki, cukup menulis di buku kecil:
“Tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian, jam sekian—sampai puncak.”
Itu saja sudah cukup menjadi kenangan.
Turun Gunung dan Kembali ke Dunia Nyata
Setelah sejam menikmati puncak, kami harus segera turun. Bukan karena mistis, tapi karena matahari akan membuat jalur batuan menjadi lebih panas dan licin. Turun dari Merapi bukan perkara mudah. Batu-batu kecil mudah lepas, dan satu batu sebesar kelereng saja bisa membuat luka yang tak ringan.
Pendaki pemula biasanya turun sambil ngesot, perlahan, seperti belajar lagi cara menapak bumi.
Ada satu nama legendaris di antara kami: Cak Ris (Riswanda Imawan, Fisipol UGM). Ia mendaki Merapi sambil membawa sepeda. Tak hanya downhill, tapi juga uphill. Ia pantas disebut sebagai Bapak Pendaki Bersepeda—tokoh yang kini hanya hidup dalam kenangan.
Sesampainya di bawah, semua kembali ke titik awal—ke rumah Mbah Hargo atau Pak Udi. Sebelum tengah hari, “kafilah” pendaki sudah turun ke Kaliurang, naik bus Baker atau Sederhana, lalu pulang ke kota.
Dua hari satu malam tanpa berita, tanpa dunia luar. Hanya tubuh lelah, hati lega, dan kepala penuh cerita.
Tentang Sebuah Gelar Bernama Pecinta Alam
Sesampainya di rumah, pakaian hijau-hijau dicuci, sepatu lars dilepaskan, dan badge kegiatan dijahit dengan bangga di dada baju. Kami menyebut diri pecinta alam. Tapi jujur saja, saat itu kami tak sepenuhnya paham makna istilah itu.
Apakah hanya karena tidak membuang sampah sembarangan? Tidak memetik bunga edelweiss di jalur pendakian? Atau karena meneteskan peluh di jalur berbatu? Entahlah. Kami hanya tahu satu hal: Merapi telah memberi kami pelajaran tentang kesederhanaan dan keberanian.
Senin pagi, hidup kembali seperti biasa. Sekolah, bekerja, atau nongkrong di Terminal Yogyakarta di Brigjen Katamso. Kadang membantu jualan buku di Shopping Center. Kadang jadi calo taksi di Senopati. Tapi di dada, badge kecil itu selalu menempel. Sebagai tanda: kami pernah mendaki Merapi, dan di sanalah kami belajar menjadi manusia.











