Cing – Pisau – Garam (Cerita anak-anak Ketanggungan, Wirobrajan, Yogyakarta era 1970-an)
Oleh : Agus U, jurnalis
Anak-anak yang tumbuh besar atau “jemoko” di era 1970-an, terutama di kantong-kantong yang menurut versi peneliti Clifford Geertz disebut masyarakat abangan, hidup dalam dunia yang sederhana, penuh warna, dan jauh dari gemerlap suara kota. Mereka tidak mengenal pengajian sore yang terjadwal, tidak pula ada suara pengeras suara dari surau kecil seperti di kampung-kampung hari ini.
Begitulah misalnya di Ketanggungan, Kemantren Wirobrajan. Di Ketanggungan Kulon, hanya ada dua atau tiga tempat yang secara rutin menggelar salat berjamaah untuk anak-anak. Di kediaman seorang pejabat Kementerian Agama, Hidayat Noor, ada Musala Baabul Jannah, dan di Suronggaman. Satu lagi diadakan khusus untuk anak-anak perempuan.
Kampung itu gelap di malam hari, jalanan juga gelap, penuh bayangan pepohonan dan tembok rumah yang lembap. Lampu penerangan jalan umum yang dipasang PLN hanya muncul setiap tiga tiang, itu pun hanya menggunakan bohlam 10 watt model lama, berwarna kekuningan dan redup. Dari kejauhan cahaya lampu itu tampak seperti kunang-kunang yang tersangkut di ujung kabel.
Suasana sore biasanya diisi suara anak-anak yang berteriak dan tertawa. Tapi ada satu hal yang menakutkan bagi mereka: anjing. Di kampung itu banyak warga yang memelihara anjing dan melepaskannya begitu saja. Setiap kali anak-anak lewat untuk berangkat mengaji, mereka harus berhadapan dengan gonggongan keras dari balik pagar. Tak jarang anjing-anjing itu keluar, menyalak, dan mengejar.
Anak-anak punya mantra penangkalnya, diwariskan dari mulut ke mulut:
“Ora nggegem jempol, nggegeme congor asu.”
Mantra itu diucapkan sambil mengepalkan tangan kanan dan kiri, jempol disembunyikan di dalam lipatan jari. Tapi meski sudah mengucapkannya dengan sungguh-sungguh, suara guk guk guk! tetap tak berhenti. Bahkan ketika lari terbirit-birit, kadang pemilik anjing malah memarahi mereka, seolah-olah anak-anak itulah yang bersalah.
Anak-anak yang bukan dari keluarga santri biasanya punya kebiasaan lain. Sejak pulang sekolah, mereka akan berkumpul dengan teman-teman sebayanya. Di tangan mereka ada ketapel — atau plintheng — baik yang berpeluru batu kecil atau kelereng, maupun yang pelurunya kawat bengkok berbentuk huruf U, sekitar satu sentimeter panjangnya.
Selain ketapel, benda yang tak kalah penting adalah pisau — tajam, kecil, tapi penuh kebanggaan. Biasanya buatan sendiri, dari potongan besi sepanjang 15 cm yang dilindaskan ke rel kereta api sampai pipih, lalu diasah di batu asahan (wungkal) hingga tajam. Setelah itu disarungi dengan kalep atau jebug, bahan kulit bekas dari limbah pembuatan sepatu Pak Hardjono yang tinggal di kampung itu. Anak-anak yang punya pisau dianggap lebih jagoan, lebih berani.
Di saku celana kolor, selain pisau, biasanya juga terselip bungkusan kecil berisi garam — atau kadang gula pasir. Barang sederhana yang justru menjadi kunci dari seluruh petualangan mereka.
Bergerombol empat sampai enam anak, mereka berjalan mengelilingi kampung, memeriksa setiap pohon buah di pekarangan warga. Kalau ada pohon mangga yang berbuah lebat dan sulit dijangkau, mereka akan menembaknya dengan ketapel berpeluru kelereng. Kadang juga menggunakan babal — calon buah nangka sebesar jempol — untuk dimainkan sekaligus dimakan. Babal itu diolesi garam dan disantap bersama.
Jambu mete juga demikian, dimakan dengan garam. Buah asam (Tamarindus indica) dicampur dengan gula pasir agar manis-asamnya seimbang di lidah. Sementara belimbing wuluh dimakan begitu saja, dibiarkan menimbulkan rasa sepat dan asam yang menggigit di ujung lidah.
Buah lain yang sering jadi buruan adalah buah klayu yang rasanya asam-manis, buah salam yang bulat kehitaman, serta pakel dan kweni — dua jenis mangga yang berbeda aroma dan bentuknya. Tapi untuk kweni dan pakel, anak-anak tahu diri. Tak ada yang berani memakan saat masih mentah. “Takut dadaken,” begitu kata mereka — istilah untuk iritasi di ujung bibir kiri dan kanan akibat getahnya.
Kepel atau burahol pun sering jadi sasaran. Anak-anak akan memilih buah yang matang dengan cara menggores kulitnya pakai kuku. Jika bagian dalam kulitnya sudah berwarna kuning, berarti manis dan siap dimakan. Lucunya, para pemilik pohon jarang marah. Anak-anak biasanya hanya mengambil seperlunya, tidak berlebihan.
Kadang, di tengah perjalanan klithih kebon itu, mereka menemukan melinjo jatuh di tanah. Itu bukan untuk dimakan, tapi untuk permainan. Melinjo akan dijadikan alat adu mirip kelereng, permainan yang mereka sebut kubuk. Pemenangnya bisa membawa pulang melinjo lawan sebagai “hadiah perang.”
Aksi anak-anak ini biasanya berakhir menjelang maghrib, atau saat matahari mulai tenggelam — yang oleh orang kampung disebut surup. Mereka takut dipangan candhik-ala, makhluk halus yang dipercaya suka menculik anak-anak yang belum pulang sebelum senja. Maka berhamburanlah mereka ke rumah masing-masing, membawa pisau tumpul, ketapel, dan sisa garam di saku.
Sesampainya di rumah, mereka mandi, makan, lalu duduk diam di ruang depan. Malam bagi anak-anak bukanlah waktu bermain. Meski tak selalu belajar, yang penting adalah tetap berada di rumah. Kecuali malam Sabtu, mereka diizinkan bermain hingga jam sembilan malam — tapi tanpa sepeda, dan dilarang keluyuran ke luar kampung.
Televisi menjadi hiburan mewah. Tidak semua keluarga punya. Jadi menonton TV berarti pergi ke rumah orang lain — ke rumah Pak Pedro Sudjono, Pak Memet (yang kini menjadi Sakola), atau Pak Amin Siradj (yang kini dikenal sebagai Joulie) di Jalan Kapten Tendean. Kadang juga ke rumah Pak Har, mantan Komandan Satuan Radar. Anak-anak duduk bersila di lantai, memandangi layar kaca hitam putih yang menayangkan acara Aneka Ria Safari atau berita malam.
Minggu pagi setelah subuh, anak-anak kembali berkumpul. Kali ini untuk berjalan-jalan jauh, bahkan sampai ke Malioboro. Tidak ada tujuan khusus, hanya berjalan sambil menengok tempat sampah, berharap menemukan bungkus rokok bekas. Koleksi itu jadi kebanggaan tersendiri.
Nama-nama seperti Gudang Garam Merah, Gudang Garam Hijau (Djaja), Beras Tuton, Sri Wedari, Bentoel, Commodore Hijau atau Merah, Camel, Kansas adalah incaran utama. Sementara merek rokok seperti Kemenyan, VIP, Siloeman, Sintren, Djolali, Siong, dan lainnya dianggap kurang menarik dan jarang dikoleksi.
Kini masa kecil telah berubah. Anak-anak bangun tidur sambil menggenggam ponsel, bermain hingga larut malam, bahkan keliling kota dengan sepeda motor. Tidak ada lagi pisau buatan rel, garam di saku, atau ketapel yang diselipkan di pinggang.
Namun bagi yang pernah hidup di masa itu, kenangan akan cing, pisau, dan garam bukan sekadar nostalgia — ia adalah simbol kecil tentang keberanian, rasa ingin tahu, dan kebahagiaan sederhana yang lahir dari tanah kampung, dari pohon buah, dari tangan-tangan kecil yang tahu arti cukup.











