Beranda Jogja Tempo Doeloe Humas Daop 6 Yogyakarta, Dari Ruang Sempit di Lempuyangan ke Era Komunikasi Digital
Jogja Tempo Doeloe

Humas Daop 6 Yogyakarta, Dari Ruang Sempit di Lempuyangan ke Era Komunikasi Digital

Oleh:Agus U, Jurnalis

Antara tahun 1995 hingga 1999, kata “Humas” di lingkungan Daerah Operasi VI—atau kini dikenal sebagai Daop 6 Yogyakarta—belum sepopuler sekarang. Belum ada struktur resmi seperti jabatan Manager Humas yang kini dipegang oleh Feni Novida Saragih. Semuanya masih berjalan sederhana, penuh semangat pelayanan, dan tentu saja tanpa bantuan alat komunikasi canggih seperti saat ini.

Kini, tugas Humas jauh lebih mudah. Ada WhatsApp Group untuk koordinasi cepat dengan wartawan, komunikasi berlangsung dalam hitungan detik. Apa pun kejadian di lapangan bisa langsung dikonfirmasi dan dikabarkan. Namun, dua atau tiga dekade silam, ceritanya berbeda jauh.

Sebuah Ruang Kecil di Ujung Barat

Sebelum struktur Humas resmi terbentuk, Daop 6 hanya memiliki seorang staf Humas. Kantornya pun sederhana—sebuah ruangan kecil di ujung paling barat gedung paling selatan dari tiga bangunan memanjang di kompleks Daop 6 Lempuyangan, Yogyakarta.

Di ruang sempit itu, bertugas seorang pegawai KAI yang ramah, mudah bergaul, dan menjadi “penolong” bagi para wartawan yang mencari berita: Purnomo, atau akrab disapa Pak Pur.

Satu meja setengah biro di ruang itu dipenuhi tumpukan koran—sebagian sudah digunting untuk bahan kliping—dan tabloid internal KAI yang menumpuk di pojok. Di balik kesederhanaan ruangnya, semangat Pak Pur untuk melayani wartawan tidak pernah surut.

Jika wartawan datang dan Pak Pur sedang keluar, biasanya sudah ada pesan titipan di pos jaga: “Sedang keluar, nanti kembali jam sekian.” Belum ada ponsel, apalagi internet. Di ruangnya pun tak tersedia sambungan telepon. Kalau ada panggilan penting, petugas telepon akan berlari mencari Pak Pur agar segera mengangkatnya.

Antara Soto Sulung dan Dunia Pers

Pada masa itu, wartawan kerap “mampir” ke Stasiun Yogyakarta bukan hanya untuk liputan, tetapi juga untuk menikmati Soto Sulung yang legendaris di halaman selatan stasiun. Suasana akrab terbangun, terutama antara Pak Pur dan Pak Avianto, Kepala Stasiun Besar Yogyakarta kala itu.

Di tengah hiruk pikuk reformasi yang mulai bergulir, pers Indonesia pun menapaki babak baru. Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) tak lagi diperlukan. Setiap orang kini bisa menerbitkan surat kabar atau tabloid.

Bagi Humas Daop 6, itu berarti satu hal: semakin banyak wartawan yang datang meliput. Dalam satu kegiatan, jumlah peliput bisa mencapai 60 bahkan 70 orang. Namun di tengah keramaian itu, Pak Pur tetap melayani dengan senyum dan kesabaran yang sama.

Era Peralihan: Dari Pak Pur ke Pak Eko

Beberapa tahun kemudian, Pak Pur tidak lagi sendiri. Ia mendapat bantuan seorang staf muda bernama Eko Budiyanto. Sosok ini tak kalah ramah, tetapi sudah hidup di era komunikasi baru.

Pak Eko menjadi saksi peralihan zaman—ketika ponsel mulai hadir di tangan para profesional. Wartawan kini bisa menghubunginya lewat telepon genggam, berjanji bertemu di waktu tertentu, atau bahkan melakukan wawancara lewat sambungan telepon.

Zaman SMS mulai populer. Komunikasi lebih cepat, meski belum semudah sekarang. Belum ada WhatsApp, baru kemudian muncul BlackBerry Messenger (BBM) dengan notifikasi khasnya: “ping!”

Pak Eko pun kelak dipercaya menjabat sebagai Manajer Humas Daop 6 Yogyakarta, melanjutkan semangat yang ditanamkan oleh Pak Pur: pelayanan yang ramah dan terbuka untuk semua wartawan.

Di Mana Kini Pak Pur?

Waktu bergulir. Reformasi membawa banyak perubahan, termasuk di tubuh PT KAI. Nama Pak Pur perlahan tak lagi terdengar di lingkungan Daop 6. Konon, pada awal era reformasi, ia sempat mencoba peruntungan di dunia politik dengan menjadi calon legislatif. Namun langkahnya tak berbuah kursi dewan, dan ia memilih pensiun lebih awal.

Posisi Humas kemudian digantikan oleh Pak Muhtadi, yang juga dikenal ramah dan bersahaja seperti para pendahulunya.

Dari Kliping ke WhatsApp Group

Kini, Humas Daop 6 telah berubah wajah. Tak lagi ruangan sempit penuh tumpukan koran dan gunting kliping. Komunikasi berjalan cepat, modern, dan efisien.

Namun bagi mereka yang pernah mengenal masa itu—masa di mana setiap berita harus dicari dengan kesabaran dan tatap muka—nama Pak Pur dan ruang sempitnya di Lempuyangan akan selalu dikenang. Semua itu menjadi cikal bakal perjalanan panjang Humas Daop 6 Yogyakarta.

Sebelumnya

Bangun Budaya Aman di Jalur Rel, KAI Daop 6 Libatkan Komunitas dan Aparat dalam Sosialisasi Keselamatan

Selanjutnya

Mendaki Merapi: Jejak Hijau di Punggung Remaja 1980-an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement