Meneliti Kelompok yang Disingkirkan, Jalan Panjang Prof. Mochamad Sodik ke Tangga Guru Besar
Prof. Mochamad Sodik
MARKNEWS.ID, Yogyakarta — Di balik sikap tenangnya, Prof. Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si., menyimpan perjalanan intelektual yang tak biasa: perjalanan seorang ilmuwan yang memilih meneliti mereka yang kerap disalahpahami — Jamaah Ahmadiyah Indonesia.
Pada 23 Oktober 2025, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta itu resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Sosiologi Gerakan Keagamaan. Namun bagi Prof. Sodik, gelar itu bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
“Guru Besar bukan soal jabatan tertinggi, tapi amanah untuk menjaga cahaya ilmu agar tetap menyala bagi masyarakat,” ujarnya dengan nada pelan, seolah sedang menimbang makna setiap kata.
Dari Kediri ke Yogyakarta: Lahirnya Hasrat Ilmu
Lahir di Kediri, 16 April 1968, Prof. Sodik menapaki dunia pendidikan sejak SD Ngadiluwih, MTsN Kediri, hingga PGAN Kediri.
Kecintaannya pada ilmu dan agama membawanya ke Yogyakarta, menempuh studi di dua kampus besar: Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1989 dan Peradilan Agama Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga.
Sejak muda, ia dikenal gemar membaca dan berdiskusi tentang kehidupan sosial keagamaan. Perpaduan dua bidang yang ia pelajari — syariah dan sosiologi — kemudian membentuk cara pandangnya yang khas:
“Agama bukan hanya teks, tapi juga gerak sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Meneliti yang Disalahpahami
Ketika menempuh studi doktoralnya di Sosiologi UGM, Prof. Sodik memilih tema yang tak populer dan sarat risiko: “Melawan Stigma Sesat: Strategi Jamaah Ahmadiyyah Indonesia (JAI)” (2015).
Penelitiannya bukan sekadar kerja ilmiah, melainkan upaya memahami kemanusiaan dalam konteks keyakinan yang sering disalahartikan.
“Meneliti Ahmadiyah bukan perkara mudah. Tapi ilmu harus berani menyapa yang disingkirkan, bukan hanya mengulang yang populer,” kenangnya.
Dengan bimbingan tiga promotor — Prof. Dr. Susetiawan, Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah, dan Prof. Dr. Khoirudin Basyori — disertasinya menjadi salah satu rujukan penting dalam kajian agama minoritas dan hak kebebasan berkeyakinan di Indonesia.
Melalui riset itu, Prof. Sodik memperlihatkan bahwa pendekatan sosiologis terhadap agama dapat membuka ruang dialog dan empati, bahkan terhadap kelompok yang sering dianggap lain.
Baginya, Ahmadiyah bukan sekadar objek penelitian, tetapi cermin bagi masyarakat untuk bercermin pada toleransi dan kemanusiaan.
Ilmu yang Hidup di Tengah Masyarakat
Sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora (2016–2024), Prof. Sodik dikenal membangun atmosfer akademik yang inklusif. Ia mendorong mahasiswa dan dosen untuk berpikir lintas batas disiplin, memadukan ilmu sosial, agama, dan kemanusiaan.
Kini, sebagai Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga, ia mengemban tanggung jawab administratif tanpa meninggalkan ruh intelektualnya: memastikan kampus tetap menjadi ruang yang sehat bagi tumbuhnya ilmu, integritas, dan kebersamaan.
Kepada para dosen muda, ia sering berpesan. “Empat hal yang harus dijaga dalam perjalanan akademik: motivasi diri, ekosistem yang sehat, perencanaan karier, dan evaluasi tridarma yang berkelanjutan.”
Selain riset tentang Ahmadiyah, Prof. Sodik dikenal produktif menulis. Buku-bukunya seperti Gejolak Santri, Mencairkan Kebekuan Fiqih: Membaca KHI, dan Gender Best Practice memperlihatkan kepeduliannya pada isu-isu sosial-keagamaan yang aktual.
Karya-karyanya merepresentasikan upaya menjembatani tradisi keilmuan Islam dengan tantangan masyarakat modern, tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi inti dari ajaran agama.
Ilmu Tak Pernah Selesai
Kini, setelah resmi menyandang gelar Guru Besar, Prof. Sodik tetap rendah hati. Ia tahu, tangga ilmu tak pernah berujung.
“Setiap generasi punya tugas menjaga api ilmu. Kalau bukan kita yang menyalakannya, siapa lagi?” ujarnya dengan senyum kecil.
Dengan ketenangan, visi jernih, dan keberanian meneliti kelompok yang disingkirkan”, Prof. Dr. Mochamad Sodik bukan hanya menambah daftar Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, tapi juga meninggalkan pesan penting:
bahwa ilmu sejati adalah keberanian memahami kemanusiaan — bahkan di wilayah yang sering dihindari banyak orang.











