Indonesia Hampir Perang Dengan Malaysia Gegara Ambalat, ini Kata Pakar Geomatika UGM
MARKNEWS.ID , YOGYAKARTA – Gegara rebutan laut Ambalat, Indonesia hampir perang dengan Malaysia dua puluh tahun lalu. Setelah dua dekade kembali Malaysia mengklaim laut itu miliknya.
Pakar Geomatika Universitas Gadjah Mada I Made Andi Arsana menyatakan, sebelum diberi nama Ambalat, laut yang berada di timur Pulau Borneo (Kalimantan) itu bernama Laut Sulawesi (Celebes Sea).
“Menurut dokumen resmi IHO, S-23, yang diakui dunia, kawasan bernama Laut Sulawesi. Kalau kita zoom, ada dua negara, Indonesia dan Malaysia,” kata I Made Andi Arsana, Kepala Program Pendidikan Magister Teknik Geomatika, Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, UGM, Senin, 11 Agustus 2025.
Ia menyebut, batas darat antara kedua negara sudah ditetapkan sejak zaman Inggris dan Belanda. Ujung timur batas darat membagi pulau Sebatik jadi dua. Sayangnya, garisnya berhenti di pinggir pantai dan tidak diteruskan. Akibatnya, pembagian ruang laut di Laut Sulawesi antara Indonesia dan Malaysia belum final.
“Sampai sekarang,” kata dia.
Di awal, Indonesia pernah berpandangan bahwa batas darat ini semestinya diteruskan ke timur pada lintang 4 derajat 10 menit sehingga semua yang ada di sebelah selatannya menjadi milik Indonesia. Namun ini hanya keinginan Indonesia, bukan kesepakatan dengan Malaysia.
Meskipun belum ada kesepakatan, Indonesia sudah melakukan klaim atas dasar laut sejak tahun 1960-an. Klaim ini berupa blok konsesi untuk eksplorasi atau eksploitasi minyak.
“Ini klaim tahun 1966, ini tahun 1970. Sama dengan Indonesia, Malaysia juga mengajukan klaim. Ini Adalah klaimnya melalui Peta Batu 1979. Indonesia memprotes peta ini karena eksesif. Filipina juga memprotes. Malaysia jalan terus,” kata dia.
Pada dasarnya Indonesia dan Malaysia sama-sama melakukan klaim sepihak. Keduanya belum pernah bersepakat. Dengan mengabaikan klaim Malaysia, Indonesia tetap mengklaim blok-blok lain seperti Sebawang dan Bukat.
“Nah tahun 1999, Indonesia mengklaim blok di sini yang diberi nama Ambalat. Itulah kali pertama istilah muncul. Jadi ini adalah nama blok dasar laut, bukan nama kawasan laut. Tahun 2004 lanjut dengan blok Ambalat Timur,” kata I Made Andi Arsana.
Ia melanjutkan, pada tahun 2005, Malaysia mengajukan blok konsesi yang diberi nama ND6 dan ND7. Lokasinya tumpang tindih dengan blok yang sudah diklaim Indonesia, termasuk Ambalat. Inilah yang menjadi pemicu kegaduhan 20 tahun lalu. Jadi, terjadi tumpang tindih dan memang belum ada kesepakatan.
Sejak tahun 2005, Indonesia dan Malaysia bekerja keras untuk menyelesaikan isu itu. Intinya, keduanya ingin ada garis batas final yang membagi ruang laut di Laut Sulawesi ini. Sayangnya, sampai sekarang belum berhasil.
“Kita lihat, di sini ada Pulau Sipadan dan Ligitan. Keduanya milik Malaysia. Menurut Indonesia, keduanya adalah pulau kecil sehingga bisa diberi ruang laut yang minimal yaitu hanya 12 mil laut Laut Teritorial. Dengan pandangan itu, Indonesia kemudian mengusulkan garis batasnya di sini. Sementara itu, Malaysia tetap pada pendiriannya sejak tahun 1979. Kita lihat tumpang tindih antara keinginan keduanya sangat luas. Bagian dari Blok Ambalat, Ambalat Timur, ND6 dan ND7 ada di dalam tumpang tindih itu. 11
“Bagaimana penyelesaiannya? Idealnya, keduanya harus berhasil membuat garis batas 11 yang permanen. Alternatif lain, bisa juga menjajaki kemungkinan kerja sama di kawasan tumpang tindih tersebut. Ini yang sempat diusulkan ketika Pak Prabowo bertemu Anwar Ibrahim Juli lalu,” kata dia.
“Masih panjang ceritanya. Sabar saja sambil berpikir jernih. Apa pun itu, Indonesia dan Malaysia tidak boleh pecah. Bangsa serumpun ini harus selalu rukun,” ia menambahkan.











