Menghidupkan Budaya Lewat Narasi, Kompas Gelar Festival Journ-Art-Lism
MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA – Di tengah gelombang disrupsi media yang kian masif, upaya penguatan jurnalisme melalui pendekatan kebudayaan justru membuka jalan baru bagi peran media yang lebih bermakna dan membumi. Gagasan ini mengemuka dalam Festival Jurnalisme dan Kebudayaan bertajuk “Journ-Art-Lism” yang berlangsung di Omah Petroek, Karang Klethak, Hargobinangun, Pakem, Sleman, DI Yogyakarta pada 6 hingga 8 Juli 2025.
Festival ini digelar dalam rangka memperingati HUT ke-60 Harian Kompas dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan. Beragam acara lintas disiplin dihadirkan guna menghidupkan kembali relasi erat antara jurnalisme dan ekspresi budaya yang kini mulai tereksplorasi lewat berbagai bentuk seni.
Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan, Dr. Restu Gunawan M.Hum, yang hadir pada acara puncak menyampaikan pentingnya jurnalisme yang berakar pada budaya lokal. “Kita perlu merawat jurnalisme yang tidak hanya tajam secara naratif, tapi juga peka terhadap nilai-nilai kebudayaan bangsa. Kolaborasi seperti ini adalah contoh nyata,” ujarnya saat menandatangani prasasti peresmian Omah Jakob.
Perpaduan Sastra, Musik, dan Jurnalistik
Festival ini tak hanya menampilkan diskusi dan lokakarya, tapi juga menyuguhkan karya-karya yang merupakan hasil alih wahana produk jurnalistik menjadi bentuk seni. Misalnya, koreografer Bimo Wiwohatmo menyulap novel karya Sindhunata menjadi sendratari berjudul “Bedhayan Bocah Bajang”, yang ditampilkan pada malam puncak.
Tak kalah menarik, kelompok Jogja Hip Hop Foundation (JHF) juga membawakan lagu-lagu bertema sosial yang liriknya diadaptasi dari tulisan dan puisi karya Sindhunata. Kombinasi ini menjadi jembatan antara jurnalisme sastra dan musik urban yang kini digemari anak muda.
“Lewat hip hop, kami mencoba menghadirkan ulang pesan-pesan sosial dari tulisan-tulisan Sindhunata ke dalam format yang bisa diterima generasi sekarang,” ungkap salah satu personel JHF.
Museum Anak Bajang: Menjawab Tantangan Museum Konvensional
Festival ini juga membuka akses publik terhadap koleksi Museum Anak Bajang yang berada di kompleks Omah Petroek. Museum ini menjadi laboratorium hidup alih wahana jurnalistik dan seni rupa. Di dalamnya terdapat koleksi seperti respons atas lukisan Djoko Pekik “Berburu Celeng” yang kemudian diwujudkan menjadi buku dan patung oleh Sindhunata dan Pramono Pinunggul.
Salah satu daya tarik lain adalah keberadaan patung Gus Dur karya almarhum Wilman Syahnur yang terletak di Langgar Tombo Ati, lengkap dengan sajadah asli milik mendiang Presiden keempat RI itu. Menurut penyelenggara, keberadaan patung ini telah memicu tumbuhnya kegiatan pendidikan toleransi dan menjadi objek jurnalistik yang terus diproduksi ulang dalam berbagai bentuk tulisan dan dokumentasi.
“ ,” ujar salah satu panitia.
Literasi Digital dan Kritik Budaya dalam Satu Panggung
Tak hanya menonjolkan aspek seni, festival ini juga menghadirkan kegiatan literasi digital dan diskusi kritik budaya. Di antaranya adalah workshop jurnalistik bersama tim Litbang dan redaksi Harian Kompas, serta diskusi filsafat bertajuk “Mental Stoik, Hidup Anti Toksik” yang mengulas buku Filosofi Teras bersama penulis Henry Manampiring dan filsuf Romo Setyo Wibowo SJ.
Editor Kompas, Hilmi Faiq, yang turut mengisi sesi diskusi cerpen bertajuk “Membaca Indonesia Lewat Cerpen Kompas”, menegaskan bahwa cerpen masih menjadi media refleksi yang efektif untuk membaca dinamika sosial budaya masyarakat. “ ,” ujarnya.
Menjawab Kebutuhan Masa Kini
Dengan menggabungkan berbagai disiplin seni dan narasi jurnalistik, Festival Journ-Art-Lism menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali jurnalisme yang berakar pada konteks budaya. Tidak sekadar menjadi perayaan ulang tahun sebuah media, festival ini mengusulkan paradigma baru dalam melihat peran jurnalisme di era disrupsi—bukan sekadar sebagai penyampai fakta, tetapi juga penafsir kebudayaan yang hidup dan terus berubah.
Omah Petroek pun menjelma menjadi ruang kolaboratif yang menjawab tantangan stagnasi museum konvensional. Dengan mengangkat nilai-nilai lokal, pendekatan lintas medium, dan semangat kolaborasi, festival ini membuktikan bahwa jurnalisme dan kebudayaan bisa berjalan seiring untuk membentuk narasi Indonesia masa depan yang lebih utuh dan manusiawi.











