Beranda Berita Utama Butet Kartaredjasa Sindir Pejabat Tamak Lewat Figur Petruk di Pameran Yogyakarta
Berita Utama

Butet Kartaredjasa Sindir Pejabat Tamak Lewat Figur Petruk di Pameran Yogyakarta

MARKNEWS.ID – YOGYAKARTA — Seniman dan dramawan kenamaan, Butet Kartaredjasa, kembali menyuarakan kritik sosial-politik melalui medium seni rupa kontemporer. Bertajuk Eling Sangkan Paraning Dumadi, pameran foto dan video yang digelar di LAV Gallery Yogyakarta pada 22 Juni hingga 22 Juli 2025 ini menjadi refleksi tajam mengenai asal-usul dan tujuan hidup, khususnya bagi mereka yang terbuai kursi kekuasaan.

Acara pembukaan pameran dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya mantan calon Wakil Presiden Mahfud MD, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Wakil Wali Kota Wawan, budayawan Goenawan Mohamad, serta puluhan seniman dan pegiat budaya.

Dalam pameran ini, Butet menonjolkan figur Petruk—tokoh punakawan pewayangan Jawa—dengan hidung panjang layaknya Pinokio, sebagai simbol penguasa yang gemar berdusta dan lupa pada asal-usulnya. Beberapa instalasi visual bahkan menyajikan figur Petruk dalam berbagai pose satir di lokasi-lokasi sarat nilai sejarah di Yogyakarta dan sekitarnya.

“Butet menggunakan metafora Petruk sebagai peringatan agar siapa pun yang tengah berkuasa tetap ingat pada jati diri dan asal-usulnya,” ujar salah satu pengunjung yang enggan disebut nama.

Dalam penjelasannya, Butet secara terbuka mengakui bahwa kritik yang ia sampaikan melalui karya ini tidak ditujukan pada individu tertentu, melainkan pesan universal bagi setiap pengemban amanah kekuasaan. Namun demikian, ia mengisyaratkan bahwa semangatnya dalam mengingatkan lahir dari mandat khusus.

“Surat dari presiden ketujuh, lalu ada tanda tangan, tulisan tangan, bunyinya adalah : Mas Butet harus selalu sehat, Mas Butet tidak boleh pernah lelah untuk selalu mengingatkan. Jadi saya kan sebenarnya sudah melaksanakan tugas,” kata Butet saat ditemui di LAV Gallery, Ahad, 22 Juni 2025. Pernyataan ini menegaskan bahwa pesan moral dalam pameran mendapat restu langsung dari Presiden Republik Indonesia ketujuh, Joko Widodo.

Setiap karya dalam pameran mengandung simbol yang sarat makna. Patung Petruk berukuran besar digantung terbalik dengan garis polisi di pintu masuk galeri, merepresentasikan nasib buruk bagi siapa saja yang kualat. Di sudut lain, pengunjung bisa melihat patung Petruk terdampar di tepi pantai selatan, yang oleh Butet diberi judul Nyamikan Nyi Roro Kidul.

“Saya beri judul Nyamikan (kudapan) Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan kalau marah, nyamikannya itu,” ungkap Butet, seraya tersenyum.

Bahkan, figur Petruk diabadikan dalam bingkai foto di titik-titik bersejarah seperti Gedung Agung, Alun-Alun Utara, Situs Warungboto, hingga TPA Piyungan. Foto dengan judul Rindu Berkuasa hingga Terheran Pada Keangkuhan memperlihatkan sindiran pedas pada fenomena pejabat yang enggan lengser.

Pameran ini pun mendapat sambutan dari Mahfud MD yang turut hadir memberikan refleksi mendalam mengenai sifat kekuasaan.

“Orang kalau berkuasa itu kadang keenakan, kebablasan. Menghimpun kekuatan agar kekuasaannya langgeng, mewariskan kepada keluarganya sendiri,” ujar Mahfud. Ia juga menegaskan bahwa kuasa setinggi apa pun pada akhirnya akan sirna.

“Pada saatnya tetap akan jatuh. Karena orang akan kembali ke asalnya. Kamu itu asalnya dari mana,” lanjutnya.

Menurut Mahfud, watak sombong dalam berkuasa hanya akan mendatangkan kecemasan yang membelenggu.

“Oleh sebab itu, jangan sok kuat, jangan sok kuasa dan sok pintar. Adigang adigung Adiguna. Kita semeleh saja, sederhana dalam hidup jalani hidup ini apa adanya. Sehingga hidupnya jadi tenang. Tidur jadi nyenyak. Kalau tidurnya tidak nyenyak itu penyakit akan banyak,” kata Mahfud.

Selama sebulan penuh, publik dapat menyaksikan 36 karya foto beserta video dokumentasi perjalanan patung Petruk hidung panjang, dari lereng Merapi hingga Laut Selatan. Pameran ini tidak sekadar hiburan visual, tetapi juga ajakan merenung—agar siapa pun yang diamanahi kuasa, tetap “eling lan waspada” pada asal muasal dan tujuan hidupnya.

Sebelumnya

Libur Sekolah, Penumpang KA Jarak Jauh di Daop 6 Yogyakarta Melonjak Tajam

Selanjutnya

Hadapi Libur Panjang Tahun Baru Islam, KAI Daop 6 Tambah 61 Ribu Kursi Kereta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement