Diskusi Publik di TIM Jakarta Soroti Nilai Seni dan Kreativitas di Balik Benda Arkeologi
Marknews.id, JAKARTA – Benda-benda peninggalan masa lalu tidak hanya menyimpan catatan sejarah, tetapi juga merekam perkembangan seni, kreativitas, dan pemikiran masyarakat pada zamannya. Nilai tersebut menjadi perhatian dalam diskusi publik bertajuk “Mahakarya Seni di Balik Benda Arkeologi: Menelusuri Nilai Estetik dan Kreativitas dalam Jejak Peradaban Masa Lalu” di Gedung Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Kegiatan yang digagas Divisi Seni Budaya Cakra Satya 08 (CS 08) bersama Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), DISPUSIP, dan PDS HB Jassin tersebut menghadirkan sekitar 75 peserta. Mereka berasal dari kalangan seniman, budayawan, aktivis organisasi masyarakat, akademisi, hingga pelajar sekolah menengah atas.
Sejumlah narasumber hadir dalam diskusi ini, yakni Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Agus Aris Munandar, S.S., M.Hum., aktivis Haris Rusly Moti, Jhohannes Marbun, M.A., serta penyair dan deklamator Octavianus Masheka.
Diskusi berlangsung dengan Asy’ari Mochtar, S.E., dan Setiyo Wibowo sebagai moderator. Swary Utami Dewi bertugas sebagai pembawa acara. Sebelum diskusi dimulai, Jose Rizal Manua, Imam Ma’arif, dan Boyke Sulaiman membacakan puisi.
Arkeologi dan Seni Perlu Berjalan Beriringan
Ketua Divisi Seni Budaya CS 08, Octavianus Masheka, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membangkitkan perhatian masyarakat terhadap arkeologi yang selama ini belum banyak mendapat apresiasi publik.
“Sebagai cabang ilmu yang mempelajari sejarah kehidupan manusia beserta alamnya, arkeologi sering kali dipandang sebelah mata atau kurang diminati oleh masyarakat luas,” ujar Octavianus yang akrab disapa Bang Octa.
Menurutnya, peninggalan masa lalu bukan sekadar benda mati. Berbagai artefak menyimpan nilai estetika dan kreativitas yang mencerminkan kemampuan manusia pada zamannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memahami hubungan antara sejarah masa lalu dan kehidupan sekarang.
“Kalau tidak ada masa lalu, tidak ada masa kini,” ujar Bang Octa mengutip ungkapan yang disampaikan pembawa acara.
Melalui kegiatan terbuka dan gratis tersebut, CS 08 berharap dapat memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendorong pelestarian serta apresiasi terhadap warisan budaya Nusantara.
Pandangan mengenai pentingnya kolaborasi antara arkeologi dan seni juga disampaikan Jhohannes Marbun atau Joe. Ia menilai kajian arkeologi selama ini sering berfokus pada penanggalan, klasifikasi artefak, dan latar belakang sejarah, sementara nilai estetika serta proses kreatif pembuatannya belum banyak mendapat perhatian.
Joe mencontohkan lukisan gua di situs Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, yang memiliki perkiraan usia minimum 67.800 tahun. Temuan tersebut memperlihatkan panjangnya perjalanan kreativitas manusia di Nusantara.
Jejak seni cadas prasejarah juga tersebar di kawasan Maros-Pangkep, Papua, hingga Kalimantan Timur.
“Fakta ini menunjukkan bahwa daya kreasi bangsa di Nusantara jauh lebih tua dibandingkan peradaban banyak bangsa lain di dunia,” tegasnya.
Joe menilai dunia arkeologi dan seni perlu membangun kerja sama yang saling melengkapi. Arkeolog dapat menghadirkan data sejarah yang akurat, sedangkan seniman mampu mengemas informasi tersebut melalui karya visual, pertunjukan, maupun ekspresi seni yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan ilmu lain, seperti paleografi dan epigrafi, untuk membantu membaca aksara, prasasti, serta simbol peninggalan masa lampau.
Kolaborasi tersebut, menurut Joe, sejalan dengan semangat pelindungan dan pemajuan kebudayaan sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
“Menelusuri keindahan di balik benda arkeologi pada akhirnya bukanlah sekadar ajang nostalgia sejarah. Langkah ini merupakan fondasi esensial untuk membangun peradaban masa depan, sekaligus upaya merawat ketangguhan spirit, keharmonisan, dan daya cipta intelektual yang telah diwariskan oleh nenek moyang bangsa,” pungkasnya.
Haris Rusly Moti: Bangsa yang Melupakan Sejarah Kehilangan Jati Diri
Pembicara lainnya, Haris Rusly Moti, mengangkat pentingnya sejarah dalam membentuk karakter dan identitas sebuah bangsa. Ia menggunakan analogi seseorang yang mengalami amnesia untuk menggambarkan risiko ketika masyarakat kehilangan ingatan kolektif terhadap masa lalunya.
Menurut Moti, seseorang yang kehilangan ingatan tidak hanya melupakan orang-orang terdekat, tetapi juga dapat kehilangan pemahaman mengenai asal-usul dan identitas dirinya.
Kondisi tersebut, katanya, memiliki kemiripan dengan bangsa yang tidak lagi mengenali sejarahnya sendiri. Bangsa yang melupakan perjalanan masa lalu berisiko kehilangan karakter, arah, dan pijakan dalam menentukan masa depan.
Karena itu, ia mengingatkan kembali pesan Presiden Soekarno, yakni Jasmerah atau Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.
Moti menjelaskan bahwa arkeologi dan sejarah membantu masyarakat merekonstruksi perjalanan peradaban melalui peninggalan dari berbagai periode, mulai dari masa prasejarah, Hindu-Buddha, perkembangan Islam, hingga era kolonial.
“Proses panjang dan sintesis dari berbagai era inilah yang pada akhirnya melahirkan nilai-nilai luhur bangsa, seperti Pancasila,” tutur Moti.
Ia juga menilai karya seni, budaya, tata krama, dan bahasa dapat menjadi cerminan tingkat peradaban masyarakat. Pemahaman sejarah bahkan membantu masyarakat membaca persoalan sosial, politik, dan ekonomi masa kini melalui penelusuran latar belakang serta proses yang melahirkannya.
Prof. Agus Aris Munandar Ungkap Enam Prinsip Keindahan Seni Klasik
Sementara itu, Prof. Agus Aris Munandar menjelaskan bahwa peninggalan seni pada masa Hindu-Buddha memiliki landasan konseptual dan aturan estetika yang kuat.
Dalam kajian arkeologi sejarah, peneliti tidak hanya mengamati benda peninggalan, tetapi juga menghubungkannya dengan sumber tertulis seperti prasasti, naskah, dan kajian filologi.
Prof. Agus menjelaskan konsep nama-rupa sebagai salah satu pendekatan untuk memahami artefak. Rupa merujuk pada bentuk fisik benda yang dapat diamati, diukur, dan didokumentasikan. Sementara itu, nama berkaitan dengan makna, fungsi religi, mitologi, serta hubungan benda tersebut dengan tokoh atau peristiwa sejarah.
“Antara benda dan konsep ini harus sinkron. Kalau tidak sinkron, akhirnya tidak bisa kita jawab,” jelas Agus.
Ia mencontohkan arca Hari Hara peninggalan Majapahit yang tersimpan di Museum Nasional. Secara fisik, arca tersebut menggambarkan perpaduan Dewa Siwa dan Wisnu. Namun, secara konseptual, penggambarannya berkaitan dengan sosok Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.
Selain konsep nama-rupa, Prof. Agus memperkenalkan Sad Angga, yakni enam prinsip estetika yang menjadi pedoman penciptaan karya seni pada masa Hindu-Buddha.
Keenam prinsip tersebut meliputi Rupabheda atau ketepatan membedakan bentuk, Sadrsyam atau kesesuaian bentuk dengan gagasan, Pramanam atau ketepatan proporsi, Bhawa atau kemampuan menghadirkan ekspresi dan suasana, Varnikabhangga atau ketepatan penggunaan warna, serta Lawanya atau unsur keindahan.
Penerapan prinsip tersebut dapat terlihat pada relief Candi Borobudur. Berbagai adegan, mulai dari orang yang duduk bersila, berbincang, hingga ekspresi kesedihan seseorang, tampil melalui pahatan yang detail dan naturalis.
Prof. Agus juga menjelaskan bahwa seni pada masa Hindu-Buddha memiliki keterikatan kuat dengan kepentingan keagamaan. Para seniman menciptakan karya untuk mendukung kebutuhan religi, bukan semata-mata sebagai ekspresi individual atau sarana mencari penghasilan.
“Melalui lensa arkeologi ini, peninggalan masa lalu terbukti bukan sekadar tumpukan batu, melainkan representasi visual dari puncak pemikiran, spiritualitas, dan kreativitas leluhur Nusantara,” tutup Prof. Munandar.
Diskusi publik tersebut memberikan ruang pertemuan antara pengetahuan arkeologi, seni, dan kesadaran sejarah. Melalui pemahaman terhadap nilai estetika serta makna di balik artefak, masyarakat diharapkan semakin mengenali kekayaan peradaban Nusantara sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya.









