Beranda Jogja Tempo Doeloe Ngejaman Kota Yogyakarta
Jogja Tempo Doeloe

Ngejaman Kota Yogyakarta

Gambar : Wikipedia

Oleh: Agus U, Jurnalis

Marknews.id – Jam besar yang dapat dengan mudah dilihat oleh para pengguna jalan di Kota Yogyakarta setidaknya ada empat lokasi, yakni di Jalan Margo Utomo sisi barat jalan di depan Toko Rumus, di pertigaan Jalan Margomulyo dengan Jalan Reksobayan, di dinding bagian atas depan Kantor Pos Besar Yogyakarta, serta di pertigaan jalan masuk menuju Keben Kraton Yogyakarta.

Namun, ketika menyebut Ngejaman, maka yang terpola dalam pemikiran warga Yogyakarta adalah lokasi di pertigaan Jalan Margo Mulyo dengan Jalan Reksobayan, atau yang berada di utara Istana Gedung Agung yang dahulu dikenal sebagai Kantor Karesidenan.

Ngejaman yang berada di ujung selatan Jalan Malioboro–Jalan Margo Mulyo ini dahulu banyak disebut sebagai Tugu Ngejaman. Namun, lama-kelamaan masyarakat lebih sering menyebutnya sebagai Ngejaman saja. Jam yang terpasang di lokasi ini pada masa Hindia Belanda dikenal dengan sebutan Stadklok atau Jam Kota.

Bangunan Tugu Ngejaman sendiri sebenarnya dibangun pada tahun 1916 sebagai penanda seabad hengkangnya Inggris dari Yogyakarta pada tahun 1816. Bangunan ini didirikan oleh masyarakat Belanda sebagai persembahan kepada Pemerintah Hindia Belanda yang telah kembali menguasai Yogyakarta selama satu abad. Sebagai catatan, Inggris pernah menguasai Yogyakarta pada periode 1811–1816.

Tugu Ngejaman telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Nomor 297/2019 tentang Daftar Warisan Budaya Daerah, yang mengacu pada Peraturan Daerah DIY Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya.

Bangunan ini terdiri atas alas berbentuk bujur sangkar sebagai tempat berdirinya badan penyangga berbentuk balok. Pada bagian paling atas terdapat bulatan jam dengan diameter 45 cm, yang dilengkapi pelat atau jarum jam pada dua sisi, yakni utara dan selatan. Selain itu, terdapat kabel listrik yang menghubungkan mesin penggerak jam dengan sumber daya listrik PLN.

Memang ada yang menyebutkan bahwa pada awalnya jam ini menggunakan tenaga kinetik sebagai penggerak, yakni dengan adanya pegas atau pir yang harus diputar secara manual. Karena itu, setiap hari diperlukan petugas untuk memutar pir tersebut, sebelum akhirnya sistem penggeraknya diganti menggunakan tenaga listrik.

Keberadaan jam di Ngejaman Malioboro ini berbeda dengan jam yang ada di Rotowijayan, dekat Kraton Yogyakarta, atau yang berada di pertigaan jalan masuk menuju Keben. Jam di lokasi tersebut, sesuai dengan prasasti yang ditulis menggunakan aksara Jawa, merupakan persembahan dari pegawai pemerintahan dan masyarakat Tionghoa Yogyakarta untuk memperingati dwi windu atau 18 tahun pemerintahan Sri Sultan HB VIII, pada hari Senin Wage, tanggal 29 Bulan Jumadilawal Tahun Alip 1867, atau bertepatan dengan 17 Agustus 1936.

Di era modern, Kota Yogyakarta juga mendirikan beberapa tugu jam, termasuk yang berada di Jalan Suroto bagian utara atau perempatan Gramedia, di dekat Tugu, serta di beberapa lokasi lainnya. Namun sayangnya, setiap melintas di lokasi tersebut sebenarnya tercium bau bangkai. Meski demikian, mungkin karena jam tersebut sudah lama mati, bau tersebut kini tidak lagi terasa. (***)

 

Sebelumnya

Pakar UGM : Wacana Trump soal Greenland Dinilai Strategis tapi Sulit Direalisasikan

Selanjutnya

AQL dan Ustadz Bachtiar Nasir: Dari Dakwah Tadabbur Al-Qur’an hingga Aksi Nyata di Lokasi Bencana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement