Beranda Jogja Tempo Doeloe Pesan Basiyo: “Ojo nyangklak, ojo nyamplak ojo lekoh.”
Jogja Tempo Doeloe

Pesan Basiyo: “Ojo nyangklak, ojo nyamplak ojo lekoh.”

Ilustrasi

Oleh: Agus U, jurnalis

Marknews.id – Seorang seniman panggung komedi stand up, Pandji Pragiwaksono, belakangan ini berada dalam posisi didukung sekaligus dihujat setelah salah satu pentasnya beberapa waktu lalu dinilai menghina seseorang. Peristiwa itu bahkan berujung pada laporan ke polisi. Aparat yang menerima laporan pun melakukan penyelidikan dan kemudian menetapkan langkah.

Saya tidak ingin terjebak dalam pro dan kontra tersebut, juga tidak bermaksud ikut dalam polemik mendukung atau tidak mendukung model pentas seperti itu, apalagi mengambil sikap atas langkah kepolisian. Saya memilih untuk tidak ikut bersuara.

Pada sekitar 1977–1978, saya lupa tepatnya, dalam sebuah pembicaraan bebas di salah satu sudut Seni Sono Yogyakarta di Jalan Ahmad Yani—kini Jalan Margo Mulyo dan masuk dalam lingkup Istana Negara Gedung Agung—seorang komedian atau pelawak kondang asal Yogyakarta terlihat berbincang serius, dikelilingi sejumlah orang yang tidak saya kenal. Namanya Basiyo. Pria bertubuh tambun yang dikenal sebagai maestro lawak Yogyakarta melalui Pangkur Jenggleng RRI maupun Dagelan Mataram itu sedang mengingatkan para seniman muda.

Menjadi seniman, termasuk pelawak yang mengandalkan mulut sebagai medium utama, menurut Basiyo, harus banyak belajar. Terutama belajar membaca kondisi yang sedang terjadi, baik kondisi sosial politik maupun situasi di tengah masyarakat.

Khusus bagi mereka yang ingin menekuni dunia dagelan, Basiyo menekankan pentingnya menjaga ucapan. “Ojo mung waton payu, waton iso marai wong ngguyu. Tetep kudu njogo wong liyo,” kata Pak Bas. Artinya, menjadi pelawak jangan hanya asal laku dan bisa membuat orang tertawa, tetapi juga harus menjaga perasaan orang lain.

Di deretan depan sisi utara kompleks Seni Sono pada masa itu memang terdapat sejumlah kantor atau sekretariat, termasuk kantor Sapta Mandala, kelompok kesenian khususnya ketoprak yang dibina oleh Kodam VII/Diponegoro.

Pesan penting yang disampaikan Basiyo dalam melawak dirangkum dalam kalimat, “Ojo nyangklak, ojo nyamplak, ojo lekoh.” Ia kemudian memerinci, ojo nyangklak berarti pelawak tidak boleh menghina orang berdasarkan jabatan atau kedudukannya. Ojo nyamplak dimaknai sebagai larangan menghina kondisi fisik orang lain, termasuk cacat fisik atau rupa yang dianggap buruk. Sementara ojo lekoh berarti tidak boleh menyajikan materi porno, bahkan yang mendekati porno sekalipun harus dihindari.

Menurut Basiyo, ada banyak materi lawakan yang bisa diangkat tanpa harus melanggar batas tersebut dan tetap mampu membuat penonton terpingkal-pingkal. Ia mencontohkan adegan ketika seorang pengumpang memerintahkan orang lain untuk mengambilkan “sepatu sandal”—sepatu dengan banyak bagian terbuka yang konsepnya mirip sandal gunung saat ini—lalu yang diperintah justru membawa sepatu dan sandal. Adegan sederhana itu saja sudah cukup membuat orang tertawa.

Contoh lain ditunjukkan dalam lakon Basiyo mBecak. Ketika berperan sebagai tukang becak dan dipanggil, “Cak, becak…”, ia menjawab, “Wegah, nami kula niku Basiyo. Nek becake mboten saged wangsulan.” Jawaban itu spontan memancing tawa tanpa harus merendahkan siapa pun.

Pesan untuk tidak memanfaatkan kondisi fisik juga dipegang oleh pelawak kondang Dagelan Mataram pada era berikutnya, Djunaidi dan kawan-kawan. Dalam praktiknya, Djunaidi lebih sering menjadikan fisiknya sendiri sebagai bahan lawakan, sementara lawan mainnya di panggung tidak memanfaatkan kondisi fisik Djunaidi sebagai materi. (***)

Sebelumnya

22 Hari DIY Dipimpin Plh dan Uniknya Plh Itu Juga Plh Sekwilda

Selanjutnya

Kasus Influenza A Subclade K Ditemukan di Indonesia, Ahli Ingatkan Kewaspadaan Dini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement