Viaduct Kleringan Jalan Simpang Menuju Malioboro
Oleh: Agus U, Jurnalis
Marknews.id – SEBELUM tahun 1975-an, jika dari Tugu (Pal Putih) menuju Malioboro atau sebaliknya, dapat berkendara baik sepeda, sepeda motor, becak, dan mobil secara langsung. Melintas rel kereta api. Istilah pada rambu-rambu lalu lintas adalah Silang Datar dengan Kereta Api. Simbolnya papan berwarna putih keperakan dengan tulisan pada papan “Awas Kereta Api Satu Sepur”.
Memang jadwal perjalanan kereta api keluar masuk Stasiun Tugu — kemudian berubah dengan sebutan Stasiun Besar Yogyakarta dan kini Stasiun Yogyakarta — tidak sepadat sekarang. Stasiun Tugu era itu menjadi stasiun naik dan turun penumpang kereta api. Sedangkan Stasiun Lempuyangan adalah stasiun perhentian kereta api barang dan kereta api ketel atau tangki.
Dari sebelah selatan Hotel Toegoe, ke timur dahulunya hanya menghubungkan Jalan Mangkubumi — kini Jalan Margo Utomo — dengan Kotabaru. Namun kemudian, seiring dengan meningkatnya volume lalu lintas, era 1975-an dibangun jalan yang dari Kleringan berbelok ke selatan kemudian ke barat bertemu dengan jalan di sebelah utara Gardu Induk di sebelah timur Hotel Garuda.
Maaf, sejak kecil orang tua saya menyebutnya Gardu Induk atau disebut gerdu, bukan Babon Aniem. Baik yang ada di dekat Hotel Garuda, terus di Kotabaru (barat SMA Negeri 3), maupun yang ada di Jalan KHA Dahlan yang dekat dengan gedung PP Muhammadiyah (lama).
Jalan yang kemudian melintas bawah rel kereta api seperti yang ada di sebelah timur Sungai Code yang disebut Kreteg Kewek (Kerkweg) ini disebut dengan Viaduct Kleringan. Jadi Viaduct Kleringan dengan Kreteg Kewek itu dua lokasi yang berbeda yang dipisahkan Sungai Code. Ini pengertian dahulu dan lama-lama dua jalan tersebut sama-sama disebut dengan Kreteg Kewek.
Perkembangan Viaduct Kleringan ini awalnya hanya digunakan untuk menghindari kendaraan berhenti karena palang pintu perlintasan kereta api ditutup untuk pergerakan kereta api. Padahal, palang pintu perlintasan ini terkadang ditutup untuk memberi kesempatan langsir dan lokomotif menata rangkaian atau stamformasi.
Karena itu, kemudian kendaraan bermotor dipersilakan melewati Viaduct Kleringan ketika “keteteg” agar tetap bisa jalan.
Namun lama-lama, Teteg Tugu ini ditutup lebih permanen. Jalan yang dahulunya untuk kendaraan bermotor — sisi timur ketika itu sering digunakan untuk menempatkan kendaraan polisi yang berjaga. Hanya kendaraan tidak bermotor yang boleh melintas rel dan di jalan sisi barat. Kondisi ini kemudian menjadi permanen.
Pos Polisi yang tinggi di selatan rel barat jalan — kini depan de Loco Cafe — dihilangkan. Rumah Makan Padang dan Toko Barang Antik yang di sisi selatan teteg timur jalan juga digusur. Kios-kios bunga dan ikan hias yang berada di sebelah utara jalan utara Hotel Garuda dipindahkan ke Jalan Amat Djazuli — dulu sebutannya begitu dan sekarang jadi Ahmad Jazuli.
Akhirnya jalur kereta api dari Stasiun Lempuyangan dengan Stasiun Tugu tersambung pada 7 Juli 1887 yang memotong sumbu filosofis.
Kreteg Kewek kini ditutup karena alasan teknis. Jalur masuk Malioboro sebaiknya dari Tugu lurus ke selatan sebaiknya dibuka agar lancar. (***)











