Buruh Cuci – Binatu – Wassery – Laundry
oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – MENCUCI pakaian bagi banyak keluarga kalangan menengah ke atas pada masa-masa yang lagu biasanya dilakukan oleh pembantu rumah tangga. Yang dalam masa lalu disebut batur. Meski ada kerata basa (jarwa dhosok), kata batur berarti mbat-mbataning catur, namun sering direndahnya cara lain. Keluarga yang memiliki pembantu sering dianggap dengan kalimat “ngingu batur” atau memelihara pembantu. Bukan memiliki pembantu rumah tangga dan sekarang istilah lebih keren lagi dengan sebutan ART. Asisten Rumah Tangga.
Selain memiliki pembantu rumah tangga yang biasanya menangani seluruh pekerjaan kerumah-tanggaan mulai dari berbelanja, memasak, mencuci pakaian, menyeterika, membersihkan rumah dan halaman, ada pula yang hanya mengkhususkan diri pada satu jenis pekerjaan. Buruh umbah-umbah atau buruh cuci pakaian. Buruh cuci pakaian biasanya datang sekurangnya dua hari sekali dengan pekerjaan pokok mencuci pakaian dan setelah mencuci akan menyeterika pakaian yang dicuci hari sebelumnya.
Meski penghasilannya dari satu rumah masih jauh lebih rendang ketimbang pembantu rumah tangga yang menangani seluruh pekerjaan di satu rumah, buruh cuci bisa bekerja di beberapa rumah sekaligus. Sehari bisa menyelesaikan dua atau tiga rumah sekaligus.
Namun untuk pakaian-pakaian yang formal yang biasanya sebagai busana kerja, keluarga yang berkecukupan biasanya membawa pakaian kotor ke tukang binatu. Tukang binatu adalah keluarga yang menerima pekerjaan cuci hingga seterika. Orang yang memiliki pakaian kotor membawa ke tukang binatu. Mirip dengan laundry sekarang.
Memang pada 1970-an orang-orang yang “membuka usaha” binatu tidak banyak meski mudah ditemukan keberadaannya. Hasil cucian yang bersih, halus dan wangi biasanya diantar langsung ke rumah pelanggan sembari menyodorkan tagihan. Pakaian yang sudah dicuci dan seterika dibungkus dengan taplak yang dilipat.
Sedangkan untuk busana yang mahal, misalnya jas, vest atau lainnya yang perlu penanganan khusus, akan dibawa ke wassery. Intinya sama, dicuci dibersihkan dan dihaluskan. Namun karena bahan harus dibersihkan ini kain mahal, termasuk wool, penanganannya juga khusus. Tempat wassery di Kota Yogyakarta kala itu tidak banyak. Di tempat mBak Lulin di Jalan Ireda — dekat gerbang masuk SMA Santa Maria yang sekarang, Usada Tailor, Waspada Tailor dan beberapa tempat lainnya yang biasanya adalah penjahit yang melayani pembuatan jas.
Tarifnya memang mahal, namun pekerjaannya yang mengutamakan kualitas dan hasil yang berkualitas menjadi pilihan. Orang-orang besar enggan mencuci sendiri jas-jas kebesarannya atau pembantu rumah tangga untuk mencuci jas. Pilihannya hanya wassery.
Di era sekarang, bisnis cuci pakaian ternyata terus berkembang dan didukung dengan mesin cuci, pengering dan seterika. Mesin cuci pun berharga murah. Jadilah bisnis laundry merata hampir di setiap jalan desa ada, jalan kampung ada, harga bersaing. Pewangi bisa memilih yang sesuai.
Laundry bahkan banyak pula yang memberi layanan kilat. Tak lagi harus, bisa memilih cuci keluar basah, cuci keluar kering atau lengkap cuci-kering-setrika atau hanya menyeterikakan saja.
Kini muncul pula, semacam persewaan mesin. Datang, pilih mesin yang kapasitasnya sesuai yang dibutuhkan dan operasikan. (***)









