Beranda Jogja Tempo Doeloe Biyuuung Tuluuung, Kisah di Balik Gerbang Masuk Kraton Yogya
Jogja Tempo Doeloe

Biyuuung Tuluuung, Kisah di Balik Gerbang Masuk Kraton Yogya

Oleh: Agus U, jurnalis

Marknews.id – Para sesepuh dahulu bercerita, Kraton Yogyakarta memiliki beberapa gerbang masuk yang disebut plengkung. Semacam terowongan yang terdapat pintu besi. Jika malam hari, pintu ini ditutup dan akan dibuka kembali pada pagi harinya. Namun, jika dalam kondisi mendesak akan keluar atau masuk, harus mengucapkan sejumlah kata sandi.

Di antara kata sandi yang waktu itu masih diingat mBah Lanang adalah ketika petugas di dalam berteriak “Horda….” maka harus dijawab dengan kata “Grim.” Tak tahu apa arti kedua kata tersebut hingga menjadi salah satu kata sandi.

Gerbang atau plengkung Kraton Yogyakarta ini, kini yang masih tersisa adalah Plengkung Wijilan atau yang bernama asli Plengkung Tarunasura dan Plengkung Gading yang bernama asli Plengkung Nirbaya. Sultan yang bertahta tidak diperbolehkan melintas Plengkung Nirbaya. Hanya dua kondisi saja yang membolehkan Sultan yang bertahta melintas, yakni lolos dari kepungan musuh atau sebagai jenazah.

Sedangkan plengkung lainnya adalah Plengkung Ngasem atau Plengkung Jagasura, Plengkung Tamansari atau Plengkung Jagabaya, serta Plengkung Gondomanan atau Plengkung Madyasura.

Dahulunya, kata mBah Lanang, Plengkung Madyasura ini memiliki cerita mistis. Pada tahun 1812, plengkung ini ditutup hingga disebut Plengkung Buntet. Apa alasannya? Tak ada cerita.

Namun, setelah plengkung tersebut ditutup, setiap Kamis malam selalu terdengar orang yang merintih. “Biyuuung tuluuung….. biyung tulung….” yang menunjukkan seseorang yang merintih meminta pertolongan dari ibundanya.

Teriakan itu berasal dari seorang pemuda tampan bernama Kartipeya. Konon, dengan harapan selalu digandrungi para wanita, Kartipeya berguru kepada Bethari Durga. Oleh Bethari Durga keinginan itu dikabulkan, dengan syarat tidak boleh berbuat mesum di dalam Plengkung Madyasura. Kartipeya sanggup.

Kartipeya kemudian terus menggoda banyak perawan, sehingga banyak orang tua yang takut. Banyak yang berusaha mengatasi, namun gagal. Akhirnya ada petunjuk dari orang pintar. Orang pintar tersebut memberi tiga buah sada lanang (lidi pohon aren). Ketiga lidi agar ditancapkan di dalam plengkung. Orang pintar itu meminta jika orang berbuat mesum tersebut dipermalukan saja, jangan sampai dibunuh.

Benar, suatu ketika Kartipeya mengganggu gadis cantik, Rara Sukresti. Ketika menarik Rara Sukresti di dekat Plengkung Madyasura dan akhirnya membawa masuk plengkung, belum sampai melakukan perbuatan buruk, tiga sada lanang itu berubah menjadi ular. Ketakutan, Kartipeya pun berteriak.

Bukan pertolongan yang datang, tapi puluhan pemuda yang hendak menangkap Kartipeya. Kartipeya menghiba, tapi orang-orang yang sudah kalap akhirnya terus memukuli Kartipeya hingga tewas. Teriakan Kartipeya minta tolong ibunya tak terbalaskan. Hanya teriakan “Biyuuung tuluuuuung….” yang terus menggema.

Plengkung Madyasura. Sejak itulah Plengkung Madyasura ditutup.

Namun, jika menyimak catatan sejarah, Plengkung adyasura ditutup pada 23 Juni 1812 (Geger Sepehi) dan baru dibuka kembali oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII sekitar tahun 1923, kemudian diubah menjadi gapura biasa.

Kini, tak ada lagi cerita tentang Biyung Tulung. Yang muncul justru kisah-kisah mistis lainnya yang lebih modern.

Sekelumit cerita mistis ini, penulis tidak mengajak pembaca untuk percaya atau tidak percaya. Hanya saja menyajikan cerita yang pernah ada dan berkembang di masyarakat. (****)

 

Sebelumnya

Ngebon - Nyebrak - Utang Koperasi

Selanjutnya

Buku Awal Sekolah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement