Beranda Jogja Tempo Doeloe Buku Awal Sekolah
Jogja Tempo Doeloe

Buku Awal Sekolah

Oleh: Agus U, jurnalis

Marknews.id – AWAL 1970-an, masuk kelas 1 SD, anak-anak lagi diajarkan membaca. Anak-anak yang masuk SD tahun-tahun itu lebih banyak yang tidak melewati jenjang (sekolah) Taman Kanak-Kanak. Dulu sebutannya Sekolah Taman Kanak-Kanak, namun kemudian di era 1980-an kata sekolah dihilangkan.
Jadi, anak yang masuk SD dipastikan 99 persen belum bisa membaca dan menulis. Buku pedomannya Baud Matja Lan Nulis — pandai membaca dan menulis. Buku milik Negara Republik Indonesia, penerbitnya Verluys Amsterdam.

Zaman itu, masuk hari pertama sekolah sama dengan yang lainnya, tak ada yang mengantar. Kalaupun ada, hanya mengantar sampai sekolah dan kemudian pulang.

Dalam tas, isinya hanya pensil, penghapus atau setip, rautan atau ongotan, dan satu atau dua buku tulis.

Meski pun galak, guru kelas 1 SD dipastikan orang yang berhati samudera. Beliau dengan tekun, telaten, serta sabar mengajari anak-anak, mulai bagaimana memegang pensil, bagaimana menghapus jika salah, dan membaca huruf-huruf yang baru dikenalkan.

Yang diajarkan pertama adalah menulis huruf cetak (gedrig) miring. Huruf besar (kapital) dan huruf kecilnya. Mulai dari A hingga Z. Setelah anak hapal dengan huruf, bisa menulis huruf, barulah dimulai merangkai. Huruf hidup (vokal) dan huruf mati (konsonan). Mengeja. Kata-kata dalam bahasa Jawa pendek-pendek, dua suku kata.

Bacaan hurufnya, bukan a, be, ce, de dan selanjutnya, tetapi a, beh, se, deh, e, ef, geh, heh, i, je (ye), ek, el, em, en, o, ep, ki (q), er, es, et, u, ve, weh, iks, ei atau ada pula yang membaca eigrek (y), dan zet.

Mulailah anak-anak belajar membaca: beh – a ba, beh – i bi = babi; es – u su, er – u ru = suru (sendok); en – i ni, en – i ni = nini (nenek); ek – a ka, ek – i ki = kaki — kakek; i beh – u bu = ibu, dan seterusnya.

Guru menulis dengan kapur di papan tulis, mengajar anak-anak membaca dan menulis. Satu per satu mendapat giliran membaca. Guru dipastikan membawa bambu mirip joran yang panjangnya sekitar 1,5 meter. Tuding ini terkadang dipukulnya di meja depan siswa. Dan sesekali dipukulkan ke badan siswa. Tapi tak akan ada orang tua yang marah ketika anaknya melapor dipukul guru. Oleh orang tua dinasihati agar mengikuti pelajaran dengan baik.

Se-ngoho-ngoho-nya orang tua tak akan ada yang mau melabrak guru. Mereka paham persis, di tangan guru lah anaknya akan menjadi pandai.

Selain membaca, anak juga diajar berhitung. Belum ada matematika di SD saat itu. Buku berhitung dengan judul “Berhitung” dibagikan, di dalamnya memuat angka-angka 0–9. Bagaimana menulisnya.

Pelajarannya mulai dari angka, dan dilanjutkan dengan pipa landa. Ping (kali), pa—para (bagi), la—lan (tambah), dan da (suda) atau pengurangan. Operasional pipa landa ini terus dipakai hingga sekarang untuk menghitung pola hitungan “majemuk” di mana ada perkalian, pembagian, penambahan, maupun pengurangan. Mana yang harus didahulukan.

Operasional perkalian, sedang pembagian diajarkan para gapit.

Anak-anak SD kelas 1 belum diajarkan pecahan. Baru operasi hitungan yang sederhana.

Begitulah kwartal pertama dijalani. Sekolah SD waktu itu, pembagian rapornya tiga kali setahun atau kuartal, atau kemudian diterjemahkan dengan catur mulan.

Masuk sekolah kelas 1, pagi jam 07.00, kecuali Jumat jam 06.30 WIB karena ada senam pagi (hari krida) sampai jam 9.30. Jam 10 kelas digunakan untuk kelas 2 dan jam 13.00 untuk kelas 3. Maklum, SD saya hanya punya dua kelas.

Belum ada seragam sekolah. Anak-anak sekolah dengan bare foot, tanpa sepatu alias cekeren. Tapi bahagia, punya teman baru. Sudah mulai sekolah.

SD Tamansari I, II, dan III yang ada di Jalan Kapten Tendean menampung siswa dari Ketanggungan, Wirobrajan, Singosaren, bahkan Tegalrejo, Patangpuluhan, Sindurejan, Patangpuluhan, dan Bugisan.

Kini teman tersebar entah ke mana, tak tahu…. (***)

 

Sebelumnya

Biyuuung Tuluuung, Kisah di Balik Gerbang Masuk Kraton Yogya

Selanjutnya

Ring Road Atawa Jalan Lingkar Membantah Mitos Sentimen Jawa Majapahit - Sunda Pajajaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement