Ring Road Atawa Jalan Lingkar Membantah Mitos Sentimen Jawa Majapahit – Sunda Pajajaran
Oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – NAMANYA Ring Road, Jalan Lingkar, namun sesungguhnya ring road utara ini tidak benar-benar melingkar yang ujungnya saling bertemu. Namun jalan ini mirip dengan bentuk U di utara dan U di selatan, dengan ujung yang di sebelah barat dan di sebelah timur tidak saling bertemu bahkan yang ujung timur jaraknya cukup jauh. Ujung Ring Road Selatan ada di Janti dan ujung Ring Road Utara ada di Maguwoharjo. Sedangkan di barat, ujung Ring Road Utara ada di sebelah timur Sungai Bedog — Pelemgurih sedangkan ujung Ring Road Selatan ada di dekat Pasar Gamping.
Konsep jalan lingkar atau ring road itu sendiri sebenarnya adalah ciptaan seorang pakar tata kota Inggris bernama Sir Patrick Abercrombie. Ia yang merencanakan pembangunan Greater London.
Sedangkan di Yogyakarta konsep ring road itu sendiri muncul tahun 1970an dan baru diterjemahkan dan pembangunan fisik tahun 1980an.
Pembangunannya bertahap. Ring Road Utara mulai dibangun tahun 1983. Mulai dari Condongcatur — depan Pasar Condong ke arah barat. Dahulunya sebelah timur pasar adalah permukiman penduduk. Sedangkan Condongcatur ke barat adalah jalan yang lurus sampai Kentungan dan Jalan Kaliurang ke barat lagi hingga Pogung. Sisa-sisa jalan tersebut masih ada. Di sebelah barat Polda DIY ada pertigaan/perempatan kecil depan Bank BTN ke barat — depan Balai Kalurahan Condongcatur ke barat terus hingga Jalan Kaliurang dan jalan sebelah utara Gudeg Kentungan hingga menembus Ring Road dan masuk Pogung. Sedangkan yang ke timur hingga Pasar Condongcatur dibangun di atas jalan lama.
Ruas ini sengaja dibelokkan ke selatan (melengkung ke selatan) konon untuk menjaga agar tidak menggusur peninggalan bersejarah yang ada di Kentungan — tempat ditemukannya Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono akibat keganasan PKI. Nampak melengkung di dekat Hotel Lafayette dan kembali ke arah yang lurus dari depan Polda ke barat.
Namun, di Kronggahan Ring Road kembali tidak lurus tetapi menyerong ke timur untuk menghindari suatu tempat Kagungan Dalem Dowangan dan diarahkan agar tidak menggusur Asrama/Kompleks Kompi C Yonif 403 dan Kompi Kavaleri Serbu JTTR di Demakijo. Lurus ke selatan hingga Pelem Gurih.
Sedangkan Ring Road Selatan pembangunannya baru dimulai akhir dekade 1980 atau pada tahun 1989-an. Pembangunan Ring Road akhirnya selesai paa tahun 1995. Dan baru setahun kemudian diresmikan setahun berikutnya oleh Gubernur DIY KGPAA Paku Alam VIII. Prasasti peresmiannya masih ada di sisi timur Pos Polisi Jombor.
Setelah lama digunakan, masyarakat mengenal jalan ini sebagai Ring Road Utara dan Ring Road Selatan.
Pada 1990-an, Ringroad Jogja berfungsi sebagai pengganti akses utama yang sebelumnya ada di dalam perkotaan (Jalan HOS Cokroaminoto, Jalan Bugisan, Jalan Gedongkuning) di barat dan Jalan Gedongkuning – Janti di timur atau Jalan Adisucipto – Jalan Solo yang juga di timur.
Baru beberapa tahun kemudian (3 Oktober 2017) Sri Sultan Hamengku Buwono X — Gubernur DIY — memberi nama jalan ruas-ruas ring road. Peresmian ini dihadiri pula oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Walikota Bandung Ridwan Kamil.
Peresmiannya? Di lokasi perempatan Jombor. Tempat di mana 20 tahun sebelumnya KGPAA Paku Alam VIII meresmikan Ring Road.
Dalam pesannya Sri Sultan mengungkap sentimen Jawa – Sunda yang berkembang, sebenarnya tidak ada dasarnya dan bahkan cacatan sastra lama tidak pernah ada yang menyebutkan adanya sentimen tersebut.
Titik lokasi peresmian di namakan Jalan Pajajaran (penulisan dalam aksara Jawa salah dan transliterasinya ‘Padjajaran’ bukan Pajajaran atau Padjadjaran) — masih dapat anda lihat hingga saat ini. Dan ruas jalan sebelahnya adalah Jalan Siliwangi. Langkah ini menurut Sri Sultan waktu itu, untuk menunjukkan kebenaran tidak adanya sentimen Jawa Sunda.
Jalan Siliwangi ini membentang dari Perempatan Jombor ke barat dan belok selatan sampai simpang Pelemgurih sepanjang 8,58 kilometer. Sedangkan Jalan Pajajaran membentang dari Perempatan Jombor ke timur, belok selatan hingga pertigaan Maguwoharjo – Jalan Solo sepanjang 10 kilometer.
Sementara dari Janti ke selatan hingga perempatan Jalan Wonosari dinamakan Jalan Majapahit sepanjang 3,2 kilometer, di sambung Jalan Ahmad Yani yang membentang dari Perempatan Jalan Wonosari hingga Perempatan Jalan Imogiri Barat sepanjang 6,5 kilometer. Menyambung berikutnya dari Jalan Imogiri Barat hingga Perempatan Dongkelan sepanjang 2,78 kilometer dinamakan Jalan Wirjono Prodjodikoro, kemudian jalan sepanjang 5,86 kilometer dari Perempatan Dongkelan hingga Gamping/Jalan Wates dinamakan Jalan Brawijaya.
Jadi Ring Road ini menjadi penanda bahwa sentimen Jawa – Sunda yang katanya diawali dari masa pemerintahan Majapahit dan oleh masyarakat awam disebut masa pemerintahan Prabu Brawijaya oleh Sri Sultan disebut tidak pernah ada dan ini membuktikan tidak adanya mitos tersebut.
Sambutan Sri Sultan tersebut disambut anggukan kepala oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.
Gubernur Jawa Barat dalam pidato sambutannya pun berterima kasih kepada Sri Sultan yang memberi nama ruas jalan dengan nama-nama yang memiliki arti besar bagi masyarakat Jawa Barat dan meluruskan mitos yang sebenarnya tidak berdasar. (***)











