Jamu Kerkop Tempat Anak “Dionthelke”
Oleh : Agus u, jurnalis
Marknews.id – Orang tua dahulu memiliki kebiasaan mengonsumsi jamu, baik untuk pencegahan maupun pengobatan. Tradisi ini sudah ada jauh sebelum muncul jamu instan dalam saset yang tinggal diseduh dengan air panas.
Ada pula jamu bagolan, yaitu jamu racikan yang disiapkan langsung oleh penjualnya. Bahan-bahannya biasanya sudah ditumbuk halus menggunakan gandhik di atas pipisan. Gandhik adalah batu berbentuk silinder, sementara pipisan adalah batu dengan permukaan atas yang diratakan sebagai tempat menggiling bahan jamu.
Bahan-bahan jamu yang sudah ditumbuk halus dan basah diletakkan pada satu wadah. Ketika ada pembeli yang membutuhkan satu jenis jamu, penjual tinggal mengambil secukupnya, kemudian mencampurnya dengan perasan dari comotan lain. Campuran itu disaring menggunakan saringan tembaga, lalu disajikan dalam bathok atau tempurung kelapa.
Jenis jamu yang sering dibeli antara lain cabe puyang, kunir asem, sawanan untuk menjampeni orang yang terkena sawan, ndhak-ndhak cacing untuk mengobati cacingan, watukan yang kemudian dicampur inggu untuk meredakan batuk, dan berbagai jenis lainnya.
Dulu, jamu-jamu yang terkenal antara lain milik Bu Gandung (Tamansari), Ginggang (Pakualaman), Jamu Kerkop (Jalan Katamso), serta yang berada di Pasar Bibis (Rewulu, Godean).
Pada era 1970–1980-an, jarang ada orang yang membeli jamu kuat lelaki di para penjual jamu, baik yang membuka kios, berjualan di pasar, maupun yang keliling. Jika anak-anak, terutama balita, sering rewel, kurang nafsu makan, atau mriyang, mereka biasanya dibawa ke Jamu Kerkop.
Nama “Kerkop” sendiri berasal dari sebutan Kerkhof, yaitu kompleks pemakaman Belanda yang berada di belakang THR Jalan Katamso. Jamu Kerkop terletak di depan pertigaan Jalan Ireda–Jalan Katamso. Sejak dulu, banyak orang tua membawa anak mereka ke warung jamu ini untuk “dijamoni” agar kembali sehat.
Khusus untuk anak-anak, penjual jamu di tempat ini memiliki cara pemberian yang berbeda, yaitu dionthel atau dicekoki. Bahan jamu yang telah dihaluskan dibungkus dengan kain bersih, lalu diperas langsung ke mulut anak. Dari sinilah muncul istilah “dicekoki” yang kemudian digunakan sebagai padanan kata “diindoktrinasi”.
Para penjual jamu masih ada hingga kini. Beberapa berkeliling menggunakan sepeda, bahkan sepeda motor. Mereka tak lagi membawa bahan jamu racikan, melainkan cairan hasil perasan yang disimpan dalam botol. Pembeli tinggal memilih jenis jamu yang diinginkan, lalu penjual akan mencampurkan cairan dari beberapa botol ke dalam gelas.
Manjur atau tidak, biarlah mereka yang menikmati jamu yang memberi testimoni.











