Beranda Opini Kitab I‘ānatuth Ṭālibīn: Cahaya Fikih yang Tetap Menyala di Zaman Digital
Opini

Kitab I‘ānatuth Ṭālibīn: Cahaya Fikih yang Tetap Menyala di Zaman Digital

ILustrasi

Marknews.id – Di rak-rak kayu pesantren, di antara kitab berwarna kuning dengan aroma kertas tua, terselip satu nama yang hampir selalu dibaca oleh santri tingkat lanjut: I‘ānatuth Ṭālibīn — yang berarti Pertolongan bagi para penuntut ilmu.

Lembar-lembar kitab itu kerap dibuka dengan penuh khidmat. Huruf Arab gundul yang rapat menuntut ketelatenan, sementara penjelasan panjang di pinggir halaman menuntun pembacanya pada pemahaman mendalam tentang ajaran Islam yang menyentuh seluruh sisi kehidupan.

Penulis kitab ini adalah Syekh Abu Bakar bin Syatha ad-Dimyathi, seorang ulama besar kelahiran Mekkah yang wafat pada tahun 1310 Hijriah (1892 Masehi). Ia berasal dari keluarga ulama Hadramaut, Yaman, dan dikenal sebagai tokoh terkemuka dalam mazhab Syafi‘i.

Karya-karyanya banyak dijadikan rujukan di dunia Islam, di antaranya Kifāyatul Atqiyā’ dan Taqrīrāt ‘alā Syarh al-Bājūrī. Namun yang paling dikenal adalah I‘ānatuth Ṭālibīn, karya yang membuat namanya abadi di dunia pesantren hingga hari ini.

Kitab ini merupakan syarah atau penjelasan dari Fathul Mu‘īn, karya Syekh Zainuddin al-Malibari — kitab penting dalam fikih mazhab Syafi‘i. Bila Fathul Mu‘īn menjadi teks pokok, maka I‘ānatuth Ṭālibīn hadir sebagai tafsir yang memperkaya makna, memperjelas hukum, dan menghadirkan contoh-contoh yang lebih luas.

Isinya membahas berbagai aspek fikih: ibadah, muamalah, pernikahan, warisan, hingga etika sosial. Kitab ini menuntun pembaca untuk memahami bukan hanya apa yang halal dan haram, tapi juga mengapa sesuatu dinilai demikian.

Dalam bab wudhu, Syekh Abu Bakar Syatha menulis tentang pentingnya niat:

وَالْـمُرَادُ بِالنِّيَّةِ الْقَصْدُ مَعَ التَّعَيُّنِ لِمَا يُخْرِجُ عَنْ الْعَادَةِ

“Yang dimaksud niat adalah kesengajaan hati disertai penentuan ibadah, untuk membedakannya dari kebiasaan sehari-hari.”

Makna kalimat itu begitu dalam. Niat bukan ucapan di bibir, melainkan arah hati yang membuat ibadah memiliki ruh. Dalam kehidupan modern, pesan ini terasa sangat relevan. Di tengah budaya konten, ketika amal saleh bisa berubah menjadi tontonan, I‘ānatuth Ṭālibīn mengingatkan agar ibadah tidak kehilangan kesucian niatnya.

Dalam bab muamalah, Syekh Abu Bakar Syatha menegaskan pentingnya kejujuran dalam transaksi:

يَشْتَرِطُ فِي الْبَيْعِ التَّرَاضِي بَيْنَ الْمُتَبَايِعَيْنِ، فَلَا يَصِحُّ إِكْرَاهٌ وَلَا خِدَاعٌ

“Syarat sah jual-beli adalah adanya kerelaan antara kedua pihak; tidak sah jika dilakukan dengan paksaan atau penipuan.”

Nilai yang ditulis lebih dari seabad lalu ini ternyata sangat aktual. Di era transaksi digital, prinsip tarādhī atau saling rela bisa diterjemahkan dalam bentuk transparansi dan kejujuran. Jangan menjual produk palsu, jangan memanipulasi foto, dan jangan mengorbankan etika demi keuntungan cepat.

Dalam bagian lain, kitab ini mengingatkan bahwa ilmu tidak akan bermanfaat jika tidak disertai niat baik dan kerendahan hati:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُعْمَلَ بِهِ فَهُوَ خَاشِعٌ، وَمَنْ طَلَبَهُ لِيُفَاخِرَ بِهِ فَهُوَ مَخْدُوعٌ

“Barang siapa mencari ilmu untuk diamalkan, maka ia khusyuk. Barang siapa mencari ilmu untuk berbangga diri, maka ia tertipu.”

Pesan ini sangat dalam bagi generasi masa kini, ketika ilmu sering dijadikan ajang unjuk diri di ruang digital. Bagi Syekh Abu Bakar Syatha, tujuan belajar bukan untuk kemegahan, melainkan untuk pengabdian dan pengamalan.

Kini, banyak santri muda membaca I‘ānatuth Ṭālibīn melalui media sosial. Potongan ngaji kitab kuning muncul di TikTok dan Instagram, disertai penjelasan ringan tentang fikih kontemporer: bagaimana hukum dropship, adab bekerja di perusahaan global, atau etika bermuamalah di dunia maya.

Tradisi lama bertemu ruang baru. Santri menafsirkan kembali warisan klasik dengan gaya yang lebih mudah dicerna generasi digital, namun tetap menjaga ruh keilmuan dan adabnya.

Meski ditulis lebih dari seratus tahun lalu, I‘ānatuth Ṭālibīn masih menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam yang ingin hidup dengan kesadaran dan kejujuran. Kitab ini tidak hanya berbicara tentang hukum, tetapi juga tentang jiwa di balik hukum — tentang tanggung jawab, keseimbangan, dan niat baik dalam setiap tindakan.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, kitab ini mengajak untuk menenangkan langkah, menata niat, dan menimbang setiap keputusan dengan hati yang jernih.

Sebelumnya

Kartu Pilihan Pendengar dan Sahabat Pena

Selanjutnya

Kaum Hippies

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement