Beranda Serba-Serbi “Oiii Getheke Ngidulna”
Serba-Serbi

“Oiii Getheke Ngidulna”

Ilustrasi

Oleh : Agus U, Jurnalis

Marknews.id – Teriakan itu selalu terdengar ketika ada orang yang akan menyeberang Sungai Bedegolan, khususnya bagi mereka yang hendak masuk ke Dusun Pejagatan, Karunan, Kebumen. Seruan tersebut juga kerap dilantangkan oleh ibu saya setiap kali mengajak anak-anaknya mudik ke Karunan, sebuah kebiasaan yang rutin dilakukan pada minggu kedua bulan puasa.

Maklum, sebagai seorang guru, beliau mendapat libur panjang selama sebulan penuh saat Ramadan. Tidak ada Tunjangan Hari Raya (THR) waktu itu. Istilah THR bagi pegawai pemerintah baru muncul menjelang tahun 2000-an. Sebelumnya, sama sekali tidak ada.

Ibu saya berasal dari dusun tersebut. Ritual mudik menjelang Idulfitri, atau yang oleh masyarakat setempat disebut Riyayan, sudah dilakukan ibu sejak tahun 1960-an dan terus berlanjut setiap tahun hingga akhir hayatnya pada 1974.

Mendengar teriakan itu, pemilik gethek atau rakit bambu bernama (Si) Wo Kaspar akan segera tergopoh-gopoh menuruni tebing, meraih tali pengikat, lalu tangannya menari di atas kawat panjang. Perlahan, gethek pun bergerak menuju seberang.

Namun, bukan seperti yang ditembangkan,
“Sang gethek si… nangga bajul…
Kawan dasa kang njageni
Ing ngarsa samiwah ing pungkur
Tanapi ing kanan kering
Kang gethek lampahnya….”

Penumpang gethek ini bukan Mas Karebet, melainkan warga biasa yang menyeberangi Sungai Bedegolan — sungai yang oleh Belanda dibuat percabangannya menjadi Sungai Keceme di daerah Keceme, Ungaran, Kebumen.

Tas berisi pakaian dan barang bawaan lainnya perlahan dibawa naik hingga tiba di seberang. Saya sudah lupa berapa ongkosnya, namun setelah basa-basi khas Ngapak Kebumen, ibu akan pamit menuju rumah mBah Kakung.

Ibu hanya bersama kedua anaknya, sementara bapak biasanya menyusul dua atau tiga hari menjelang Riyayan.
Kami menuju rumah Simbah Djojo Sumarto, seorang pensiunan pandjesschatter atau juru taksir yang terakhir menjabat sebagai Kepala Pegadaian (Pandhuis Dienst) di Kota Yogyakarta, sebelum akhirnya kembali ke desa asalnya setelah pensiun.

Banyak orang tidak percaya, rumah simbah ini sangat panjang — dari dapur hingga ruang depan panjangnya lebih dari 20 meter. Lantai dalam rumah dibuat setinggi sekitar 50 cm dari tanah pekarangan. Alasannya, agar rumah tidak tergenang banjir ketika Sungai Bedegolan meluap.

Saya pernah merasakan banjir besar itu, kalau tidak salah sekitar tahun 1968. Air masuk ke rumah simbah hingga selutut bapak. Meski begitu, banjir cepat surut. Padahal waktu itu sudah ada percabangan sungai di Keceme. Setelah Waduk Wadaslintang dibangun, sungai ini tidak lagi menunjukkan kedahsyatannya.

Selesai berbasa-basi di rumah, tas berisi pakaian ganti diletakkan di amben besar. Kami pun bersiap mandi. Kamar mandi di rumah mBah Kakung tergolong istimewa. Bak air terbuat dari bata yang disemen, panjangnya lebih dari dua meter, lebar satu meter, dan tinggi sekitar 1,2 meter.

Alasannya sederhana: untuk memenuhi ukuran satu kulah, ukuran air menurut hukum fikih Islam yang volumenya tidak kurang dari 210 liter. Dengan begitu, air di dalamnya dianggap suci dan dapat digunakan tanpa najis.

Hari berikutnya, seperti biasa, saya ikut ibu berbelanja ke pasar. Kami berjalan kaki menuju Pasar (Ke)Dungsumur yang jaraknya mungkin lebih dari satu kilometer.
Sepanjang jalan, ibu selalu menyapa orang-orang yang dikenalnya. Pertanyaan khas tetangga pun terdengar: “Sami wilujeng? Olehe tindak mriki kapan? Nitih menapa?…” dan seterusnya.

Pulang dari pasar, saya bermain dengan teman-teman sebaya di sekitar rumah simbah: Sapar, Cip, Pawit, Kerut, dan lain-lain. Mainannya beragam, mulai dari dir (kelereng), mencari keong, hingga naik kerbau.

Hari-hari pun berlalu. Jika di kota lain ada tradisi malem selikuran, di Pejagatan disebut malem selawean. Warga memasang lampion atau dian kurung, menyembelih ayam untuk dibuat sapitan, hingga membuat rumah-rumahan di atas pohon. Semua digunakan untuk sahut-sahutan puji-pujian yang diakhiri dengan “Aammin aamin huree….” Saya sendiri sudah lupa persisnya apa kalimat pujiannya.

Malam Idulfitri tiba, namun tidak ada takbir keliling. Takbiran hanya dilakukan di masjid. Keesokan paginya, saatnya Riyayan, kami mengenakan pakaian baru.

Beberapa tetangga berjualan makanan khas lebaran. Di rumah-rumah, tersedia aneka kudapan untuk disuguhkan kepada tamu yang datang ngabekten.
Kudapan khasnya antara lain sagon kering, rengginang warna-warni buatan sendiri, serta jadah buatan bapak.

Bapak biasanya mendapat tugas membuat jadah. Nasi ketan dioles minyak kelapa, dimasukkan dalam bulusan, lalu ditumbuk menggunakan alu dari batang daun kelapa. Prosesnya memakan waktu 3–4 jam hingga ketan menjadi lembut dan berubah menjadi jadah.

Setelah Riyayan usai, biasanya masih ada sisa jadah. Dibungkus daun pisang, kemudian dipanggang atau dibakar hingga renyah. Jadilah jadah yang crunchy.

Beberapa hari setelah Riyayan, tibalah waktu kembali ke Jogja. Kami menyeberangi Sungai Bedegolan dari Pejagatan, berjalan ke jalan besar untuk menunggu bus. Saat itu, ada beberapa perusahaan otobus seperti PO Merdeka, PO Tetap Merdeka, LHH, Goei, Baker/Sederhana, Kilat, dan Langen Mulyo.

Setibanya di Standplat Purworejo, suara khas penjaja krupuk terdengar lantang:
“Krupuk-krupuk, krupuke asin gurih…” — produksi Edji Sukaedji.

Perjalanan bus berlanjut hingga kami turun di SD Tamansari, Jalan Kapten Tendean, Kota Yogyakarta, lalu berjalan kaki pulang.

Kondisi ekonomi yang sulit saat itu membuat perjalanan mudik benar-benar hanya perjalanan. Tidak ada oleh-oleh untuk dibagikan ke tetangga. Hari-hari berikutnya diisi dengan menanti waktu masuk sekolah.

Ritual mudik ini terus berlanjut hingga sekarang. Dulu, orang tidak menyebutnya “mudik”, melainkan sowan simbah atau sowan ngabekti kepada orang tua.

Istilah “mudik” baru populer pada era 1980-an, ketika masyarakat Jakarta menyebut para pendatang dari Jawa Tengah sebagai “orang udik”. Kembali ke udik, itulah makna “mudik”. Bukan sowan atau ngabekti seperti dulu.

Kadang, muncul rasa geli ketika memikirkan bagaimana di tanah perantauan, justru yang mendapat kunjungan saat Lebaran adalah orang-orang yang ditinggalkan di kampung halaman.

Sebelumnya

Yu Darmi, Perempuan Penunggu Jalan Suroto (Kisah yang terjadi sekitar tahun 1985 hingga 1990-an)

Selanjutnya

Yamaha V75 – Majalah – Karet Ban dan Pedang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement