Kereta Api Kuda Putih Yogya – Solo
Oleh : Agus U
Marknews.id – Kereta Api Kuda Putih? Wauw, selama kereta api ini beroperasi, hanya satu kali saya naik. Bapak yang sedang punya waktu luang dan ada rezeki, mengajak ibu dan kedua anaknya naik Kereta Api Kuda Putih dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan turun di Stasiun Solo Balapan. Jogja – Solo ditempuh dalam waktu dua jam perjalanan.
Untuk ukuran sekarang, naik kereta ini memang tidak nyaman, namun pada masa itu jauh lebih nyaman dibandingkan naik otobus. Apalagi, kereta api ini — meski BUMN mengategorikannya sebagai KRD — tidak berisik seperti kereta api pada umumnya. Nama resminya adalah KRD PNKA seri 300.
Tak ada lagi anak-anak menirukan suara kereta api “jo jajan jo jajan jo jajan… ra duwe duwiiiit” seperti pada kereta api lainnya.
Meski jalurnya pendek — hanya sekitar 60 kilometer saja — tetap ada pedagang asongan di dalam kereta yang menawarkan berbagai jenis makanan dan air putih yang dijual dalam kantong plastik.
Kereta api yang berhenti beroperasi pada tahun 1980-an itu kini dipajang di sebelah timur Stasiun Lempuyangan, tepatnya di sisi selatan rel. Warnanya putih, terdiri dari satu rangkaian dua kereta.
Kereta ini merupakan KRD (Kereta Rel Diesel) pertama yang dioperasikan di Indonesia dan dijalankan oleh Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) Inspeksi VI Yogyakarta.
Didatangkan dari Jerman pada tahun 1963, kereta ini diberi nomor seri 300 dengan total sepuluh unit. Setiap rangkaian terdiri dari satu unit dan masing-masing memiliki ruang masinis. Setiap kereta mampu mengangkut 50 penumpang duduk dan 10 penumpang berdiri.
Sebelum dimutasi ke Yogyakarta, KRD ini sempat dioperasikan untuk rute Jakarta – Bandung yang dimulai pada 12 Juni 1965.
Mengapa dinamakan Kuda Putih? Julukan “Kuda Putih” atau dalam Bahasa Jawa Krama Inggil disebut “Turangga Seta” muncul karena adanya gambar dua ekor kuda berwarna putih yang terpasang di dekat dua lampu utamanya.
Kereta yang kemudian mengalami banyak kendala teknis, termasuk sulitnya mendapatkan suku cadang, bahkan sering ditarik oleh lokomotif, akhirnya dipensiunkan pada tahun 1980-an. Sebagai pengingat masa kejayaannya, kereta ini kemudian dipajang sebagai monumen di Stasiun Lempuyangan.









