Beranda Jogja Tempo Doeloe Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Tugu: Dua Pemilik yang Berbeda
Jogja Tempo Doeloe

Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Tugu: Dua Pemilik yang Berbeda

Oleh :Agus U, Jurnalis

Marknews.id
 – Stasiun Tugu, yang kemudian dikenal sebagai Stasiun Besar Yogyakarta dan kini bernama Stasiun Yogyakarta, tetap akrab disebut masyarakat dengan nama Stasiun Tugu Yogyakarta.

Kisah ini hampir mirip dengan komik karya Hergé. Dalam cerita Tintin, ketika Tintin, Thompson dan Thomson, serta Kapten Haddock turun dari pesawat yang dikira mendarat di Kemayoran, ternyata justru berada di Halim Perdanakusuma. Mereka pun kebingungan, mengira pesawatnya tersasar.

Hingga tahun 1970-an, Stasiun Tugu masih menjadi satu-satunya stasiun di Kota Yogyakarta yang melayani naik-turun penumpang kereta api. Sementara itu, Stasiun Lempuyangan berfungsi sebagai stasiun untuk angkutan barang. Kereta barang tertutup yang menyerupai truk boks saat ini dahulu dikenal masyarakat Yogyakarta dengan sebutan sepur grenjeng. Mungkin karena warnanya yang keperakan, menyerupai kertas pembungkus rokok atau kertas grenjeng.

Sepur grenjeng menjadi andalan para pemancing yang hendak “berburu ikan” ke kota lain, baik ke arah barat maupun timur Yogyakarta. Apalagi kereta ini berhenti di semua stasiun kelas II dan bahkan berhenti cukup lama di stasiun kelas III jika ada persilangan atau penyusulan kereta lain. Para pemancing biasanya duduk di dek sambungan antarkereta.

Kereta jenis ini tidak pernah berhenti di Stasiun Tugu Yogyakarta. Jika ada persilangan atau penyusulan di wilayah Yogyakarta setelah Stasiun Lempuyangan, sepur grenjeng atau kereta tangki biasanya berhenti di Stasiun Kembang (Stasiun Maguwo lama) atau Stasiun Patukan.

Ada hal khas di Stasiun Tugu Yogyakarta. Stasiun ini memiliki dua peron, sehingga bangunannya seolah diapit dua jalur kereta — di sisi utara dan selatan. Dinding utara dan selatan sama-sama dilengkapi dengan lonceng.

“Pak Sep” — sebutan untuk PPKA pada masa lalu — biasanya mengenakan topi merah sambil membawa eblek (tongkat dengan ujung membulat) untuk memberangkatkan kereta, atau ting (lampu minyak) saat malam hari. Ia akan berdiri di sisi selatan atau utara bangunan untuk menyambut kedatangan, memberangkatkan, atau menyapa kereta yang melintas. Setelah kereta terakhir lewat dan tanda merah di gerbong terakhir sudah terlihat, barulah Pak Sep kembali ke kantornya. Saat itu, belum ada aturan untuk melakukan “tunjuk sebut”.

Stasiun Tugu dibangun oleh perusahaan perkeretaapian Hindia Belanda, SS (Staatsspoorwegen), dan diresmikan pada 12 Mei 1887. Sedangkan Stasiun Lempuyangan sudah berdiri lebih dulu, dibangun oleh NIS (Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij) pada 2 Maret 1882.

Awalnya, Stasiun Tugu didirikan untuk kebutuhan pengangkutan hasil bumi dari daerah Jawa Tengah dan sekitarnya, yang menghubungkan kota-kota Yogyakarta–Solo–Semarang. Stasiun ini baru melayani penumpang pada tahun 1905.

Untuk menghubungkan kedua stasiun, jalur diperpanjang dan dibangunlah Jembatan Kewek. Pembangunan jembatan tersebut melibatkan sekitar 1.000 pekerja setiap hari, dengan upah 80 sen per hari — angka yang tergolong tinggi pada masa itu. Jembatan Kewek akhirnya selesai dibangun, dan jalur Lempuyangan–Tugu resmi dibuka pada 7 Juli 1887. Stasiun Djocja Vorstenlanden (atau Djocja NIS) dan Stasiun Djocja — ada pula yang menulis Djokja — Toegoe pun tersambung.

Untuk mengakomodasi dua lebar rel, dipasang jalur ganda sehingga kereta dengan lebar sepur 1.067 mm dan 1.435 mm (milik NIS) dapat melintas tanpa perlu membuat jalur baru.

Sementara itu, bengkel kereta api yang semula berada di Semarang dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1915 dan menempati lokasi di Pengok.

Sebelumnya

Jogja Culture Wellness Festival 2025: Dari Manuskrip ke Meja Makan, Merawat Jiwa dan Budaya

Selanjutnya

Kereta Api Kuda Putih Yogya - Solo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement