Beranda Serba-Serbi Energi Muda dan Persatuan: Mengisi Semangat Pemuda ke-97 di Indonesia
Serba-Serbi

Energi Muda dan Persatuan: Mengisi Semangat Pemuda ke-97 di Indonesia

Gambar : Ilustrasi

Oleh : Yudah Prakoso

Ketika bangsa ini memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, semangat persatuan dan gerakan muda tak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga panggilan aksi nyata di tengah tantangan zaman. Dua momentum yang berbeda namun saling melengkapi ini memperlihatkan potensi besar generasi muda Indonesia dalam berkontribusi — dari festival kreatif hingga wacana strategis ekonomi dan energi.

Festival dan Politik Partisipatif

Di Kota Yogyakarta, digelar Merah Muda Fest di GOR Amongrogo pada Sabtu (1 November) sebagai rangkaian peringatan Sumpah Pemuda. Festival ini dirancang “dari, oleh, dan untuk pemuda” dengan tujuan menciptakan ruang dialog antara komunitas muda dengan partai politik. Pihak penyelenggara menegaskan bahwa politik bukan hanya urusan elit, tetapi juga rumah bagi ide segar, energi muda, dan aksi nyata.

Melalui tagline “Merah Berani, Muda Beraksi”, festival ini membuka forum diskusi tentang pendidikan, lingkungan, kesetaraan gender, dan partisipasi politik. Sebuah langkah yang mengubah paradigma dari politik hierarkis yang tertutup menuju politik partisipatif yang inklusif — di mana anak muda diundang bukan hanya sebagai objek, tetapi sebagai aktor perubahan.

Tantangan Ekonomi dan Energi: Panggilan ke Arah Aksi

Makna persatuan pemuda kini harus dilihat dalam konteks yang lebih luas: ekonomi yang melambat, energi yang harus dikelola secara cerdas, serta kompleksitas global yang menghadapkan bangsa ini pada tuntutan baru.

Generasi muda diharapkan tidak hanya “bersatu” dalam rasa kebangsaan, tetapi juga bersinergi dalam bidang inovasi, wirausaha, pemanfaatan energi terbarukan, dan solusi atas krisis ekonomi. Semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar ujaran sakral, tetapi aksi yang harus diterjemahkan ke dalam program konkret seperti kolaborasi lintas sektor, penguatan ekonomi kreatif, dan adaptasi terhadap perubahan zaman.

Menyatukan Dua Lintasan Gerak

Menariknya, dua lintasan — festival kreatif di Yogyakarta dan wacana strategis ekonomi-energi nasional — sebenarnya saling melengkapi dan bisa menjadi satu narasi besar.

Festival Merah Muda menunjukkan bahwa anak muda ingin dan mampu berpartisipasi aktif, bukan hanya sebagai penonton politik, tetapi sebagai pelaku perubahan.
Sementara itu, wacana tentang Sumpah Pemuda Modern menegaskan bahwa partisipasi tersebut harus diarahkan pada isu-isu substantif seperti ekonomi, energi, keberlanjutan, dan inovasi.

Dengan demikian, generasi muda Indonesia memiliki dua tugas sekaligus: bersuara dan bertindak.
Festival menjadi ruang suara — dialog, ide, dan kreativitas.
Wacana ekonomi-energi menjadi ruang bertindak — implementasi, kolaborasi, dan inovasi.

Mengisi Semangat ke Arah Aksi

Untuk menjembatani keduanya, beberapa langkah konkret bisa diambil oleh komunitas muda dan pihak terkait:

  1. Perluasan ruang dialog
    Seperti yang dilakukan Merah Muda Fest, forum lintas komunitas dan lintas daerah perlu terus dihadirkan — bukan hanya untuk menyuarakan aspirasi, tetapi juga merumuskan langkah nyata.
  2. Kolaborasi lintas bidang
    Anak muda jangan hanya hadir di ruang politik atau kreatif saja, tetapi juga berpadu dengan sektor ekonomi, energi, dan lingkungan — sesuai tantangan zaman.
  3. Translasi ide ke program
    Ide yang muncul dalam forum harus diwujudkan dalam aksi atau proyek nyata, misalnya melalui startup ekonomi kreatif, kampanye energi bersih, atau edukasi digital.
  4. Menjaga semangat kebangsaan dan inklusivitas
    Persatuan bukan sekadar kesamaan suara, tetapi penghargaan terhadap keberagaman serta energi kolektif untuk menggerakkan bangsa.

Peringatan Sumpah Pemuda ke-97 bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum untuk menegaskan bahwa generasi muda Indonesia ada, bersuara, dan bertindak. Dari festival seperti Merah Muda Fest hingga wacana strategis tentang ekonomi dan energi, terlihat bahwa pemuda hari ini bukan antipolitik, melainkan ingin menjadikan politik dan pembangunan sebagai milik mereka.

Tantangannya besar, tetapi peluangnya juga terbuka. Dengan persatuan sebagai landasan dan inovasi sebagai langkah, anak muda bisa menjadi agen perubahan yang membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Sebelumnya

Kagama Persma Soroti Dampak Disinformasi dan Algoritma terhadap Opini Publik di Era Digital

Selanjutnya

Tirta Poci

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement