Jogja Tempo Doeloe

Tirta Poci

Oleh : Agus U

Marknews.id – Berada di sebelah utara pintu masuk barat Stadion Kridosono, tempat itu kini digunakan oleh Soto Pak Soleh. Ukurannya sedikit lebih lebar dan sedikit lebih panjang dari sebelumnya.

Tirta Cafe, tempat hiburan malam di era 1990-an, sering disebut sebagai warung remang-remang. Dinamakan Tirta Cafe mungkin karena lokasinya berdekatan dengan Kolam Renang Umbang Tirta yang berada dalam satu kompleks dengan Stadion Kridosono.

Kala itu, di sebelah selatannya belum berdiri warung-warung yang tertata seperti sekarang. Warung soto, bakso, dan sebagainya masih menempel di pagar jalan keliling Kridosono.

Tirta Cafe ini yang paling utama adalah menyediakan Teh Poci — seduhan teh yang disajikan dalam poci (teko dari tanah), cangkir porselen, dan gula batu. Tak ada makanan berat, hanya camilan. Tak ada miras, yang tersedia hanya bir. Rokok? Ada beraneka macam, mulai dari produksi dalam negeri hingga rokok impor.

Kafe ini mulai buka pukul 9 malam. Lampu remang-remang kelap-kelip mengikuti irama musik yang jedag-jedug.

Di tempat ini tidak hanya pencari hiburan murah yang datang, tetapi juga aparatur keamanan, terutama yang tidak berseragam — baik dari ABRI maupun non-ABRI. Pemiliknya sendiri merupakan “aparat” dari Pemda Dati II Kota Yogyakarta.

Semakin malam, suasana semakin ramai. Pesanan terbanyak memang Teh Poci. Ada pula yang memesan bir lengkap dengan “tambul” atau makanan kecil pendamping bir.

Beberapa perempuan penyuka malam biasanya berdatangan di lokasi itu mulai pukul 10 malam. Yang paling senior adalah Yu Sri — perempuan cantik, berbadan agak besar namun belum bisa disebut gemuk, berambut pendek. Ia mengatur urusan para perempuan yang ada di situ. Ada juga Wati, yang tinggal di Tegalrejo dan bicaranya agak cadel (cedhal/cethul). Namun yang selalu menjadi bintang adalah Oxan, yang paling muda, atraktif, dan sering berpindah kursi menempel pada orang-orang yang “disangka” berduit banyak.

Basa-basi antara pengunjung dengan para “bidadari malam” biasanya berakhir dengan kepergian berboncengan entah ke mana. Jika masih “sugeng”, mungkin kini mereka sudah berusia mendekati 60-an, atau setidaknya sudah di atas 50 tahun.

Di Tirta Poci ini, penjaga parkir sekaligus keamanan yang paling dikenal adalah Pak Bewok. Ia dikenal tenang, kalem, dan mriyayeni, serta sering menjadi sumber informasi bagi mereka yang bisa menjaga kerahasiaan sumber.

Tempat yang menjadi embrio kafe di Yogyakarta seperti Tirta Poci ini sebenarnya tidak hanya di lokasi tersebut. Ada pula di Beji — lokasinya di ujung paling selatan Jalan Beji, sisi barat jalan. Suasananya nyaris sama, begitu pula jenis pengunjungnya: pencari hiburan malam yang relatif murah dan para pencari informasi tindak kriminal.

Tempat lainnya adalah di lokasi yang sekarang menjadi tempat nongkrong anak muda, Silol, di Jalan Suroto/Sabirin. Dahulunya merupakan los terbuka yang remang-remang, dengan jenis pengunjung yang tak jauh berbeda.

Sedangkan yang kelasnya lebih atas adalah Rainbow Disco, yang berada di antara Toko Samijaya dan Hotel Mutiara bagian selatan. Untuk mencapai ruang jedag-jedugnya, pengunjung harus melalui pintu kecil dan turun ke bawah tanah. Sesuai namanya, Rainbow (pelangi), sepelangi itulah warna-warni pengunjungnya.

Bagi anak muda yang lebih berduit, ada Crazy Horse yang terletak di Boplaz (Borobudur Plaza) Jalan Magelang.

Tempat-tempat ini kemudian surut dan tak lagi mampu bertahan. Namun, beberapa tahun kemudian, tempat-tempat semacam ini kembali bermunculan dan menyebar di hampir semua lokasi di Kota Yogyakarta serta kawasan penyangganya.

Sebelumnya

Energi Muda dan Persatuan: Mengisi Semangat Pemuda ke-97 di Indonesia

Selanjutnya

Jogja Culture Wellness Festival 2025: Dari Manuskrip ke Meja Makan, Merawat Jiwa dan Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement