Panembahan Bodho: Wali Bijak dari Bantul, Membungkus Dakwah dengan Kesahajaan
MARKNEWS.ID, BANTUL – Di balik bentangan sawah dan gemericik mata air pedesaan Bantul, tersimpan jejak spiritual seorang tokoh besar yang hidup dalam diam, berdakwah tanpa gaduh, dan meninggalkan warisan akhlak yang lembut namun mendalam. Dialah Raden Trenggono, yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Panembahan Bodho sebuah nama yang justru menyiratkan kebijaksanaan tinggi, bukan kebodohan sebagaimana bunyinya.
Menurut penuturan Wahono (60), juru kunci makam Panembahan Bodho di Dusun Ngeblak, Wijirejo, Pandak, Bantul, tokoh ini adalah sosok yang sangat disegani sekaligus dicintai masyarakat. “Beliau disebut Bodho bukan karena bodoh, tapi karena sikap rendah hati dan kesengajaan menyembunyikan ilmunya. Seolah-olah orang biasa, padahal ia seorang ulama besar,” ujar Wahono saat ditemui di komplek pemakaman keramat yang sering diziarahi warga dari berbagai daerah.
Dakwah dengan Akhlak, Bukan Ceramah
Panembahan Bodho diyakini hidup pada pertengahan abad ke-17, di masa transisi pengaruh Islam yang semakin kuat di wilayah Mataram. Ia adalah keturunan bangsawan yang memilih jalan sufi—meninggalkan gemerlap dunia untuk menyatu dengan rakyat jelata. Dalam dakwahnya, Panembahan Bodho tak memilih mimbar tinggi atau retorika megah. Ia berdakwah lewat teladan.
“Sikapnya itu halus, santun, tidak pernah menyakiti orang lain, selalu menolong siapa saja. Bahkan binatang dan tumbuhan pun dihormati,” ujar Wahono sembari menunjukkan batu nisan tua yang diyakini menjadi tempat peristirahatan terakhir sang wali. Ia sering memberikan nasihat lewat perbuatan sehari-hari: mengairi sawah warga, membantu menambal rumah yang rusak, atau sekadar menemani petani saat panen sambil menyelipkan pesan-pesan tauhid.
Hidup Membumi, Berjiwa Langit
Kehidupan Panembahan Bodho dikenal sangat sederhana. Ia tinggal di rumah panggung bambu, memakai baju lurik, dan makan seadanya. Namun siapa sangka, dari tempat itulah terpancar cahaya ilmu dan kebijaksanaan yang menjadi penopang dakwah Islam di pelosok Bantul.
Ia juga dikenal sebagai tokoh yang adil dan penuh kasih sayang. “Kalau ada masalah di kampung, beliau yang jadi penengah. Orang tua segan, anak muda hormat,” tambah Wahono.
Menurut sejumlah babad lokal, Panembahan Bodho termasuk dalam barisan para wali sepuh yang menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya. Ia menghormati tradisi lokal dan mengislamkannya secara halus—membuat dakwahnya tidak menimbulkan resistensi.
Makam Sunyi Tak Pernah Sepi
Kini, makam Panembahan Bodho menjadi tempat ziarah spiritual yang sunyi, namun tak pernah benar-benar sepi. Banyak peziarah datang untuk mendoakan, mencari ketenangan batin, atau sekadar menyerap aura kesederhanaan yang tertinggal di tempat itu.
“Kadang orang datang tidak tahu siapa beliau. Tapi pulang dari sini hatinya adem,” ucap juru kunci Makam Panembahan Bodho yang sudah mengabdi 20 tahun dengan senyum tenang.
Nama Panembahan Bodho barangkali tak tercatat di buku sejarah formal, namun jejaknya nyata dalam ingatan kolektif masyarakat Bantul. Sosok yang mungkin tak dikenal luas, tapi sangat dalam pengaruhnya. Ulama yang memilih diam, agar dakwahnya bersuara keras dalam perbuatan. (Tor)
Penulis : Yuliantoro











