Uang Baru untuk Lebaran : Kebiasaan ART Pulang Kampung yang Kini Menjadi Tren
Oleh: Agus U, Jurnalis
Marknews.id – Dalam beberapa tahun terakhir, muncul tren masyarakat menukarkan uang dengan pecahan baru yang akan dibagikan saat Idulfitri atau Lebaran, yang juga dikenal sebagai Riyayan. Minat ini disambut positif oleh Bank Indonesia bersama kalangan perbankan lainnya, sehingga memunculkan “bisnis” baru berupa layanan penukaran uang.
Kemunculan kebiasaan memiliki uang baru ini sebenarnya mulai terlihat sejak akhir 1980-an. Awalnya, fenomena ini muncul di wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta beberapa daerah lain yang banyak warganya merantau.
Menjelang Idulfitri, banyak pekerja nonformal maupun informal asal Gunungkidul yang kembali ke kampung halaman. Pada masa itu, kegiatan ini dikenal dengan istilah bali ndesa, yang kemudian berkembang mengikuti istilah populer dari Jakarta, yaitu mudik. Perjalanan ini dilakukan dari hulu, yakni tempat perantauan, menuju udik atau desa asal.
Selama merantau, banyak dari mereka yang menyisihkan pendapatan atau menabung. Bahkan, bagi yang bekerja sebagai ART (asisten rumah tangga, bukan The Agreement on Reciprocal Trade), gaji mereka kerap tidak diambil setiap bulan, melainkan disimpan oleh majikan dan baru diambil saat menjelang pulang kampung.
Hal serupa juga dilakukan oleh pekerja di sektor informal. Tabungan mereka baru dicairkan saat akan mudik Lebaran. Uang receh yang dikumpulkan dalam celengan gerabah atau wadah lain akan diambil, kemudian ditukarkan ke bank, yang biasanya memberikan uang dalam kondisi baru.
Uang kertas pecahan Rp10.000 yang pertama kali muncul pada 1964 dan kembali beredar pada 1985 dengan gambar RA Kartini, menjadi salah satu “uang maskot” yang dibawa para pemudik. Sementara itu, pecahan Rp20.000 yang muncul sekitar 1992 dengan gambar burung cenderawasih juga menjadi pilihan, selain pecahan kecil lainnya. Uang-uang tersebut masih dalam kondisi baru, beraroma khas kertas baru, tanpa lipatan, berwarna cerah, dan memiliki tepi yang masih tajam.
Setibanya di kampung halaman, para perantau biasanya berbelanja di warung dekat rumah menggunakan uang baru tersebut. Uang itu juga menjadi bagian dari pemberian kepada orang tua maupun saudara.
Uang baru kemudian menjadi simbol keberhasilan selama merantau, yang kerap ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari di kampung halaman. Selain uang, atribut lain yang mencerminkan keberhasilan antara lain radio kancil, radio transistor berbaterai, tape beserta kasetnya, hingga radio-tape serta busana khas kota besar.
Kehadiran para perantau dengan berbagai atribut keberhasilan tersebut mendorong generasi muda desa untuk ikut merantau setelah Lebaran.
Meski tidak semua berhasil di perantauan, kegagalan jarang diceritakan. Sebaliknya, kisah-kisah indah yang ditampilkan, lengkap dengan uang baru yang diperlihatkan.
Uang baru sebagai simbol keberhasilan semakin populer. Momen Idulfitri pun menjadi ajang unjuk ketebalan dan keberagaman uang baru yang dimiliki, lalu dibagikan kepada kerabat.
Pada akhirnya, kebiasaan membagikan uang baru saat Idulfitri meluas dan terus berkembang hingga kini. Perbankan pun menyesuaikan diri dengan menyediakan layanan penukaran uang baru. (***)









