Beranda Jogja Tempo Doeloe Nanti DUL Tunggu DUL
Jogja Tempo Doeloe

Nanti DUL Tunggu DUL

Oleh: Agus U, Jurnalis

Marknews.id – Kata-kata ini pernah menjadi favorit di kalangan masyarakat Yogyakarta, khususnya pada era 1970-an. Ungkapan tersebut kerap meluncur dari mulut komedian Yogyakarta yang naik ke panggung, baik di tobong ketoprak maupun saat mendapat “tanggapan” pentas.

Biasanya kata ini dimaknai sebagai ajakan untuk bersabar: nanti dulu, tunggu dulu.

Namun, mengapa justru menjadi bahan lawakan?

Pada masa itu, belum banyak masjid yang memiliki pelantang suara yang dipasang di atas masjid atau musala dan menghadap ke empat penjuru mata angin. Di sisi lain, radio juga belum banyak dimiliki oleh keluarga-keluarga di Yogyakarta.

Di bulan puasa, ketika menunggu waktu berbuka, biasanya keluarga-keluarga berada di rumah. Takjil memang tersedia di masjid-masjid, tetapi rata-rata keluarga merasa malu untuk ikut berbuka di masjid.

Dalam pemahaman masyarakat awam saat itu, takjil diperuntukkan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan, orang-orang yang bekerja di jalanan, atau kalangan mahasiswa yang mondok atau indekos di sekitar masjid. Karena itu, warga yang berada di rumah dan merasa masih memiliki seteguk air serta sepotong gorengan, lebih memilih menghabiskan waktu berbuka di rumah bersama keluarga. Meski begitu, mereka biasanya tidak langsung makan besar.

Menunggu tanda berbuka inilah yang kemudian diisi dengan mendengarkan pengajian di radio, bagi mereka yang memiliki radio.

Ketika tiba azan magrib, radio akan menyiarkan azan sebagai tanda waktu berbuka. Tetangga yang memiliki radio biasanya akan memberi kabar kepada tetangga dekat yang tidak memiliki radio bahwa azan sudah berkumandang.

Namun ada tanda waktu yang dianggap lebih valid. Tanda tersebut adalah suara meriam — salute gun — yang menggelegar mantap dengan bunyi “DULLLLL”, yang terdengar hingga ke pojok-pojok Kota Yogyakarta.

Meriam hampa atau salute gun ini dinyalakan dari Alun-alun Utara Yogyakarta. Banyak orang yang datang untuk menyaksikan penyalaan salute gun sambil membawa makanan kecil dan minuman, yang biasanya dibawa dalam botol dan dilengkapi gelas.

Mereka jarang kemudian mampir ke Masjid Gede untuk ikut nimbrung takjilan. Setelah berbuka dengan bekal yang mereka bawa, biasanya mereka akan pulang atau sekadar mampir ke masjid untuk salat magrib, bukan untuk ikut takjil.

Begitu suara meriam terdengar, akan disusul dengan lengkingan sirine atau gauk yang terpasang di sejumlah titik, seperti di Plengkung Gading, Jalan Hayam Wuruk, Hotel Tugu di depan Stasiun Tugu, selatan Pasar Beringharjo, serta PLTD Serangan (Pabrik Aniem), yang berbunyi secara serentak.

Semua itu menandakan saat berbuka telah tiba.

Namun kini, keindahan suasana itu sudah tidak ada lagi, terlebih karena hampir setiap masjid dan musala telah memasang pelantang suara. (**)

Sebelumnya

Perkuat Citra Wisata Yogyakarta, KAI Daop 6 dan Koramil Danurejan Bersihkan Vandalisme di Jembatan Kewek

Selanjutnya

InJourney Siapkan Layanan Terintegrasi Sambut Lonjakan Wisatawan Lebaran 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement