Perhatian ke Aceh Berkurang, UBN Serukan Membangun Aceh dari Meunasah
MARKNEWS.ID – ACEH TIMUR – Isu rehabilitasi pascabanjir di Aceh mulai meredup dari radar nasional. Namun, tumpukan pekerjaan rumah (PR) di lapangan jauh dari kata tuntas. Sebab, kondisi saat ini masih banyak kerusakan pada fasilitas ibadah, kesehatan dan pendidikan serta infrastruktur pertanian.
Pernyataan tersebut ditegaskan Ketua Pembina Laznas AQL Peduli, Bachtiar Nasir saat meresmikan Meunasah di Ranto Panjang, Desa Sijudo, Kec. Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, Senin (16/2/2026).
Ustadz Bachtiar Nasir yang akrab disapa UBN menyatakan, pihaknya tidak ingin hanya memberi bantuan darurat. Melalui gerakan “Membangun Aceh dari Meunasah”, AQL berfokus pada infrastruktur ibadah dan ekonomi. Di Aceh Timur saja, delapan unit meunasah (musala) yang hancur mulai dibangun kembali.
“Kami juga sediakan tujuh perahu mesin untuk daerah terisolasi. Bisa jadi ambulan air, transportasi anak sekolah, hingga distribusi logistik,” ujar UBN.
Tak hanya fisik, aspek tradisi turut disentuh. Sebanyak 21 ekor lembu disalurkan untuk kebutuhan meugang di Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Kota Langsa. UBN optimistis Aceh bisa mandiri.
“Aceh ini kakak tertua kita. Mereka punya sejarah imperium besar. Saya ingin program ini panjang, tidak berhenti setelah Idul Fitri. Target saya isu ini jangan sampai hilang setelah Idul Fitri. Kita ingin program ini panjang agar Aceh mandiri dan berdaya,” tegasnya.
Mengutip Surah Al-Maidah ayat 20–26, UBN ingin membangkitkan rasa syukur dalam jiwa masyarakat Aceh. Baginya, warga Aceh adalah sosok luar biasa dengan sejarah besar.
“Mereka bukan keturunan orang miskin atau lemah. Aceh punya sejarah imperium besar dan berdaulat. Inilah negeri yang tidak pernah terjajah dan menyelamatkan Indonesia. Aceh adalah kakak tertua kita semua,” pungkasnya.
Senada dengan UBN, Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky mengingatkan publik agar tidak menganggap persoalan banjir di Aceh sudah selesai. Masih banyak sawah warga tertimbun lumpur dan tambak yang rusak parah.
“Kalau Aceh ditinggal sendirian, kami tidak bisa bangkit secepat yang diharapkan. Kami harap relawan dan donatur tetap melirik Aceh,” kata Iskandar.
Menurutnya, ada tiga prioritas jika pihak luar ingin menyalurkan bantuan: keagamaan, pendidikan, dan peningkatan ekonomi warga. Proses pendataan kerusakan rumah pun masih terus dipacu untuk dilaporkan ke pusat.
Misi kemanusiaan ini juga diperkuat dengan kehadiran tim medis yang dipimpin Prof Dr Ridha Darmajaya. Sedikitnya tiga dokter diterjunkan untuk memberikan pengobatan gratis bagi warga di lokasi terdampak. Kehadiran tim medis ini menjadi krusial mengingat kerentanan penyakit pascabencana masih mengintai warga di pedalaman. (*)


