Beranda Jogja Tempo Doeloe Ulur, Permainan Anak Laki-laki Belasan Tahun yang Nyaris Hilang
Jogja Tempo Doeloe

Ulur, Permainan Anak Laki-laki Belasan Tahun yang Nyaris Hilang

Oleh: Agus U, Jurnalis

Marknews.id – Namanya ulur. Permainan anak laki-laki yang banyak digemari pada era 1980-an atau sebelumnya. Permainan ini menggunakan sarana layang-layang biasa. Jadi, permainannya biasa dilakukan pada musim kemarau, pada siang hingga sore hari.

Karena menggunakan layang-layang atau layangan, maka permainan ini mensyaratkan pandai mengendalikan layang-layang. Mulai dari ngeburke atau ngulukku yang berarti menaikkan layang-layang, teknik mengatasi ketika layang-layang menghujam atau nyiruk. Pemain layang tidak hanya pandai mengatasi, namun juga tahu persis membuat manuver nyiruk, mayung atau posisi layang-layang dengan pengendali sudah nyaris tegak lurus, kemudian mengarahkan layang-layang untuk bergerak ke kiri atau ke kanan.

Juga teknik ngeluk atau membengkokkan arka atau tulangan layang-layang agar mudah pengendalian, kemudian nyinthingi atau memasang pemberat pada sisi kiri atau kanan ujung horizontal layang-layang agar tidak rongeh atau tidak mudah goyang sendiri atau melubangi satu sisinya.

Sebelum banyak layang-layang yang dijual di toko-toko — era 1970-an disebut layangan toko — para pemain biasanya juga pandai membuat layangan sendiri. Kertas terbaik yang dipilih untuk layang-layang adalah kertas ketik tipis atau dorslag yang dapat dibeli di pasar atau minta orang tuanya membawa kertas yang sudah tidak dipakai di kantor.

Layang-layang yang selesai dibuat akan diberi warna dengan pola tertentu, misal paju pat, tujon, mata kera, kalung dan sebagainya dengan warna tunggal atau paling dua warna. Sedangkan layangan toko biasanya bergambar tokoh pahlawan dalam film televisi.

Menggunakan kertas koran maupun kertas karbon apalagi plastik, tidak dibolehkan ikut dalam adu layang-layang atau ulur.

Jadi, ulur adalah adu kekuatan layang-layang yang sedang mengudara. Benang mengikat layang-layang saling dililitkan, ditarik atau ditambah panjang dengan cepat untuk mengalahkan lawan atau memutus benang lawan.

Adu layang-layang ini lebih banyak dilakukan dengan menambah panjang benang atau ulur. Kalau banyak menarik atau menggulung, disebut nggodok (do-nya dibaca seperti pada kata wudo — telanjang atau wandu — banci). Pemain yang lebih suka menarik atau nggodok biasanya tidak disuka. Sekali-dua kali dimaafkan, tapi kalau selalu dilakukan dia akan disingkiri. Orang enggan diajak adu layangan dengan orang yang suka nggodok. Kalau dia mengejar, pilihannya menyingkir atau turun. Hukuman berat bagi pemain layang-layang jika tak ada yang mau diajak ulur atau adu. Ia akan dipersamakan dengan pemain layang-layang dengan layang-layang yang dipasang buntut atau kelencer yang artinya tidak boleh diajak adu.

Layang-layang yang putus atau kalah disebut tatas. Layang-layang yang tatas — disebut tatasan — boleh menjadi rebutan. Anak-anak yang berebut akan berteriak sambil membawa tongkat panjang untuk menjolok sambil berteriak, “tatasan-tatasan”.

Beda kalau putus tidak dalam posisi adu, disebut tanganan. Pemilik akan lari mengejar dengan berteriak “tanganan-tanganan” dan tidak boleh diperebutkan.

Ada keahlian lain yang harus dimiliki oleh pemain layang-layang, yakni nggelas. Aktivitas ini berarti melapisi benang dengan tumbukan kaca yang biasanya kaca bohlam atau kaca semprong — penutup pada lampu minyak.

Kaca yang telah dilembutkan dimasukkan ke dalam kaleng dan dipanaskan bersama benda kecil berwarna kuning yang disebut ancur, putih telur dan sebagainya. Benang yang baru dibeli kemudian dimasukkan dalam adonan yang dipanaskan hingga ancur mencair. Benang kemudian dililitkan pada dua pohon yang melintang, dikeringkan. Setelah kering, benang kembali digulung pada kaleng dan siap dipakai.

Namun lagi-lagi, nggelas ini menjadi bagian dari industri. Banyak yang menjual benang yang sudah digelas dan digulung pada kaleng yang dijual. Namanya gelasan toko. Tinggal pilih, benang dengan ukuran 500 yard, 1000 yard atau yang lebih panjang. Biasanya anak-anak akan membeli 1000 yard dan 500 yard kemudian disambung agar menjadi lebih panjang lagi.

Muncul pula kemudian benang nylon yang sangat kuat dan tidak disukai untuk aduan. Nasibnya sama dengan orang nggodok, ketahuan pakai nylon, tak ada yang mau adu layang-layang.

Anak-anak yang bermain layang-layang ini sudah jarang ditemukan. Hanya tinggal orang-orang tua dan kaya yang bermain, namun bukan aduan seperti dulu tetapi adu keindahan layang-layang. (****)

Istilah Khas dalam Permainan Layang-layang

  • rongeh artinya layang-layang tidak bisa tenang

  • mblebes artinya turun menghujam dengan cepat dan tajam

  • bendrong yakni anak yang membantu memegang kaleng gulungan benang

  • nggodok yakni adu layangan dengan cara menarik benang sekuat tenaga dan lama

  • sintingan yakni pemberat sisi layangan yang biasanya diambil dari rumput kering

  • tatas artinya benang putus dalam adu layang-layang

  • tanganan artinya benang putus tanpa adu

  • nggelas artinya mempertajam benang dengan menempelkan bubuk halus dari kaca yang ditumbuk dan dilekatkan dengan benda yang disebut ancur yang dipanaskan

  • kantil artinya benang layang-layang lawan yang putus tersangkut di benang kita bersama layang-layangnya

  • mbandil artinya menarik dan memutus benang layangan lawan yang kalah

  • goget artinya posisi dua layang-layang yang sedang diadu di udara namun sering lepas

  • nyiruk menghujam terkendali

Sebelumnya

GIK UGM Hidupkan Ekosistem Kreatif Ramadan Lewat Festival Terpadu 2026

Selanjutnya

PNN 2025 Salurkan 2.000 Paket Sembako ke Mentawai, Fokus Bantu Warga Terdampak Banjir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement