Syantikara
Oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – Nama ini melekat di kalangan mahasiswa Yogyakarta, khususnya mereka yang menjalani kuliah pada awal dekade 1980-an.
Syantikara adalah sebuah tempat di Jalan Colombo, tepat di sebelah timur perempatan Jalan Herman Yohannes. Tempat ini sejatinya merupakan asrama mahasiswi yang dikelola oleh Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus Provinsi Indonesia.
Suasananya tenang, dengan penyinaran lampu yang terang namun tidak kencang. Di dalamnya tersedia banyak meja dan kursi. Pengunjung bisa memilih meja dengan satu kursi, dua kursi, atau empat kursi sesuai kebutuhan.
Area parkirnya luas, beratap, aman, dan dijaga, tanpa pungutan biaya alias gratis. Dari tempat parkir, hanya perlu berjalan beberapa langkah untuk sampai ke pintu masuk ruangan besar yang kini mungkin disebut aula. Di dalam ruangan tersebut, meja dan kursi tertata rapi.
Tidak ada aturan khusus untuk mendapatkan tempat duduk. Pengunjung cukup masuk dan menempati meja-kursi kosong sesuai keinginan, bisa berkelompok atau sendiri-sendiri.
Namun, jangan coba-coba berbicara dengan suara sedikit gaduh. Memang tidak ada larangan atau teguran secara langsung, tetapi seluruh mata di dalam ruangan akan tertuju kepada siapa pun yang belum kembali tenang. Bahkan suara bolpoin jatuh dari meja saja bisa membuat seluruh ruangan menoleh ke arah sumber suara.
Tempat yang tenang ini kerap dipenuhi mahasiswa yang belajar, terutama saat musim ujian. Saling menyapa biasanya hanya terjadi di luar ruangan.
Menilik kehadiran Asrama Syantikara, keberadaannya secara langsung maupun tidak berkaitan dengan Universitas Gadjah Mada. Saat UGM dibuka pada 1949, banyak buku referensi berbahasa Inggris, sementara yang berbahasa Indonesia masih sangat terbatas. Untuk membantu mahasiswa, pengelola UGM saat itu membuka kursus Bahasa Inggris dengan pengajar seorang Suster CB kelahiran Belanda yang tinggal di Biara St. Anna, Sr. Vincenza Bogaartz CB.
Sr. Vincenza sering mengunjungi mahasiswi di tempat-tempat kos untuk mengajar Bahasa Inggris. Dari pengamatan tersebut, diketahui banyak mahasiswi tinggal di tempat yang kurang memadai, tidak layak huni, dan kurang mendukung kegiatan belajar. Dari sinilah muncul gagasan mendirikan asrama, meski beberapa kali permohonan pendanaan mengalami kegagalan.
Pada 1957, dengan rekomendasi Mgr. A. Soegiyopranoto, SJ, Mdr. Laurentia de Sain kembali mengajukan permohonan bantuan dana ke Yayasan Propaganda Fide dan disetujui. Sejak itu dibeli tanah di sebelah utara Biara Stella Duce. Namun karena lahan tersebut diminta oleh pihak UGM untuk pembangunan perumahan dosen, lokasi kemudian diganti ke Desa Sagan, sebuah area luas dengan kondisi berawa-rawa.
Sejak Januari 1966, Asrama Mahasiswi di Stella Duce dipindahkan ke Sagan. Asrama ini diberi nama Syantikara oleh Sr. Carolie CB, yang pernah menjadi pimpinan di Syantikara.
Menurut Kamus Bahasa Kawi, kata Syantikara berasal dari bahasa Sanskerta Canti dan kara. Canti berarti rumah atau tempat, sedangkan kara berarti pertapaan. Secara harfiah, Syantikara berarti rumah pertapaan. Menurut Sr. Rosalima CB, mantan kepala asrama, Syantikara juga dimaknai sebagai rumah damai.
Syantikara menjadi tempat para mahasiswi dididik dan digembleng agar menjadi perempuan yang mandiri dan tangguh. Sejak didirikan pada 6 Juni 1952, sudah ada pemikiran agar asrama ini dikelola dengan baik sesuai kebutuhan dan tuntutan pembinaan di perguruan tinggi.
Perjuangan terus berlanjut. Pada 1967, kongregasi menerima bantuan dari Miserior untuk membangun Social Study Centre. Pembangunan dimulai pada 1968 dan selesai pada 1970, yang kemudian diberi nama Mensa Syantikara.
Kata mensa berasal dari bahasa Latin yang berarti meja, yakni tempat duduk bagi mahasiswa-mahasiswi untuk berunding dan belajar bersama. Sementara nama Syantikara tetap merujuk pada makna rumah pertapaan, yang identik sebagai tempat belajar.
Di salah satu ruang di tempat ini, banyak mahasiswa memanfaatkannya sebagai ruang belajar. Suasananya tenang, tanpa gangguan, dan meskipun tanpa pendingin ruangan, udara di dalamnya tetap sejuk. (***)











