Beranda Jogja Tempo Doeloe Dara Goreng, Sajian Khas Malioboro
Jogja Tempo Doeloe

Dara Goreng, Sajian Khas Malioboro

Sumber Gambar : Info Sumsel

Oleh: Agus U, Jurnalis

Marknews.id – Selain sajian gudeg lesehan di kawasan Malioboro dan kemudian berkembang ke area lain, pada malam hari Malioboro sebenarnya pernah memiliki sajian khas lainnya. Sajian ini adalah burung dara goreng.

Tidak kurang dari 10 lesehan di Malioboro hingga A. Yani — kini Margo Mulyo — baik yang ada di trotoir sisi timur maupun sisi barat ruas jalan tersebut menyediakan sajian burung dara goreng.

Namun yang paling laris adalah yang ada di depan Toko Matahari — Matahari Dept. Store — yang berada di barat jalan atau depan Kepatihan. Lesehan burung dara goreng ini memang relatif mahal untuk ukuran saat itu, sekitar Rp25.000 per porsi. Burung dara goreng plus nasi, lalapan, dan sambal seiprit. Minumnya kisaran Rp500 per gelas.

Biasanya penjual kuliner burung dara goreng ini berdekatan dengan penjual gudeg, sehingga penikmat kuliner malam bisa memilih dua hidangan khas, gudeg atau burung dara goreng yang dimakan secara lesehan.

Jika pilihan Anda gudeg, selain gudeg telur, pilihan yang populer saat itu adalah gudeg “ndas” atau kepala ayam, atau gudeg ceker (kaki ayam). Memang sangat mengasyikkan ketika menyantap sajian burung dara goreng atau gudeg dengan duduk cara lesehan. Segala bentuk percakapan antar rekan dipastikan berhenti hanya untuk menikmati sajian ini, semua akan terbawa suasana yang syahdu.

Mungkin kalau era 1980-an itu sudah banyak henpon, ketika sedang menyantap notifikasi masuk pun akan diabaikan saking asyiknya.

Sajian dara goreng dan gudeg lesehan kemudian meluas hingga depan pertokoan di Jalan Urip Sumoharjo atau Jalan Solo. Meski demikian, banyak yang menganggap jika tidak di kawasan Malioboro tidak asyik. Namun itu anggapan saja, buktinya di Jalan Solo tetap ramai. Hanya saja tidak banyak yang menyediakan burung dara goreng.

Awal Petaka

Kuliner burung dara goreng Malioboro makin kondang. Sajian dengan cara lesehan menjadi tren sajian malam. Namun mereka yang duduk menyantap semuanya akan duduk dengan baik, tidak ada jegang, tidak ada posisi duduk lainnya yang menurut adat dinilai tidak baik. Saat makan, semuanya duduk bersila.

Kondangnya sajian lesehan juga mengundang komentar dari tetangga kota. Sampai-sampai walikotanya bilang makan di tempat makan umum kok lesehan, tidak mencerminkan budaya, dan sebagainya, hingga pada arahan agar tidak ditiru.

Penjual burung dara goreng akhirnya kebanjiran konsumen. Wisatawan yang datang akan mendapat layanan yang cepat. Kalau Anda berbicara dengan Bahasa Jawa apalagi Ngayojan, pasti akan disepelekan.

Hal lainnya, melonjaknya pengunjung Malioboro pada malam hari mengundang lesehan membuka lokasi makan yang agak jauh dari tempat pedagang utama. Ditambah lagi tidak adanya papan harga yang dipasang, bertemu dengan pedagang nakal, serta parkir liar nakal.

Jadilah berita dari mulut ke mulut tentang kesan buruk Malioboro di malam hari. Beruntung belum ada media sosial, sehingga kejadian demi kejadian terus berlanjut. Ndilalahnya pula, ya ndilalah, kopyah respon pemerintah sekadar formalitas dan cenderung menyalahkan pembeli. “Sebaiknya tanya dulu harganya.”

Dan setelah berkali-kali kejadian, pemerintah akhirnya “meminta”, bukan memaksa, pedagang memasang papan harga. Jadi tidak ada pemaksaan dan tidak ada sanksi bagi pelanggaran itu.

Kejadian demi kejadian terus berlanjut sampai sekarang, terutama di musim libur, masih muncul, termasuk parkir liar yang mematok ongkos parkir jauh di atas harga yang ditetapkan pemerintah, dan sanksinya pun sekadarnya.

Akhirnya era burung dara goreng surut. Penikmat kuliner malam merosot, banyak yang beralih mencari gudeg pagi hari. Meski masih banyak pedagang gudeg malam hari, namun rasa duduk dan menikmati tidak lagi seperti masa lalu.

Dan masa lalu ada sejumlah pedagang lesehan yang berdekatan dengan tempat kumpul para ciblek. Jadilah banyak remaja yang mampir setelah sore hingga malam mereka berada di game dingdong, makan kemudian game ciblek.

 

Sebelumnya

Ada ST, Ada SKP, Ada ST Jahit

Selanjutnya

Kunjungi Stasiun Yogyakarta, Menteri PPPA Soroti Kenyamanan Penumpang Kereta Api

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement