Beranda Jogja Tempo Doeloe Blep-puh, Dur Perbekutis Montor Mabur Ra Kathokan
Jogja Tempo Doeloe

Blep-puh, Dur Perbekutis Montor Mabur Ra Kathokan

Ilustrasi

Makrnews.id – KALAU terjadi sekarang, tentu sudah masuk ranah pidana. Orang tua si anak pasti lapor polisi, kejadiannya diviralkan. Viralisasi ini juga menganut “sak dawa-dawane lurung isih dana gurung” sepanjang-panjangnya jalan masih lebih panjang mulut orang.

Ucapan blep, blep-puh, dur, dur perbe, dur perbekutis montor mabur ra kathokan, uncal, prik, srambangan, susruk-bot sih dan sebagainya ini masih banyak diketahui oleh anak-anak yang tumbuh dan berkembang pada dasa warsa 1970an atau yang lebih tua lagi.

Istilah ini merupakan istilah khas pada permainan “nekeran” atau bermain kelereng. Perjanjian awalnya, neker kimpling atau brocelan. Kimpling berarti mulus tanpa cacat. Sedangkan brocelan yang dimainkan adalah kelereng yang sudah cacat karena benturan dengan kelereng lainnya.

Ada beberapa versi permainan kelereng. Namun yang paling umum adalah gendiran dan kalangan.

Mereka yang bermain kelereng dengan serius, yang kini mungkin sudah di rentang usia 75-85 tahunan, biasanya mengajak orang yang lebih kecil. Anak kecil ini akan membawakan kelereng yang akan dimainkan.

Dalam satu permainan, selain 4-8 pemain, berarti ada sekurangnya 4-5 atau bahkan 8 anak kecil yang berada di sekitar lokasi. Ditambah pula anak-anak lain yan sekadar ikut menonton.

Ketika kelereng dilontarkan, jenthot maupun sladhang, sering kali mengenai kaki orang yang sedang berada di sekitar arena permainan. Siapa dulu yang akan berteriak. Kalau diuntungkan, pemain yang kelerengnya mengenai orang akan berteriak blep. Artinya biarkan kelereng itu berada di tempat atau blep-puh, artinya biarkan kelereng itu di tempat tersebut dan kalau kemudian mati terkena “gacuk” lawan, ia akan minta ganti kepada orang yang terkena kelereng.

Namun jika merasa perlu dijauhkan, maka akan berteriak dur, dur perbe, atau dur perbekutis montor mabur ra kathokan. Dur berarti kelereng gacuk yang berhenti karena mengenai kaki orang, dimundurkan sedikit. Kalau agak jauh disebut dur perbe. Kalau jauuh banget yang yang disebut terakhir.

O iya, jenthot adalah cara menjalankan kelereng dengan menempatkan kelereng di antara jempol dan jari telunjuk posisi tangan menggenggam. Sedangkan sladhang jari telunjuk tangan kiri lurus, kelereng diletakkan antara jari telunjuk tangan kiri dan jari tangan kanan seperti posisi orang akan disentil atau nylenthik atau dalam bahasa Inggris disebut fillip.

Orang-orang dewasa atau istilahnya cah gedhe, ini biasanya kalau memerintah pada anak kecil tidak hanya suara, tetapi dibarengi dengan tendangan atau “ngethak” kepala.

Ngethak adalah posisi jari-jari tangan ditekuk dan ujung tekukan jari tengah yang digunakan untuk memukul kepala, atau nothok. Nothok, posisi jari tangan dilipat, tangan menghadap ke atas dan bagian tekukan jari yang dipukulnya kepala. Posisinya berkebalikan dengan ngethak. Kalau tangan terbuka dan ditamparkan kepala namanya keplak, kalau dipukulkan pipi namanya napuk dan kalau dipukulkan bagian tubuh lainnya namanya nabok.

Dikethak, dithothok, dikeplak, dan sebagainya menjadi bagian kehidupan sehari-hari yang diterima anak yang lebih kecil. Nangis? Malu, jadi hanya diam. Dan kemudian diledek “Brambang iris-iris mata abang arep nangis” yang diucapkan teman-temannya.

Mengadu ke orang tua? Paling ditertawakan orang tua bahkan dibilang gembeng (cengeng) dan saran yang tidak bisa diterima “yo ra sah dolan, neng omah wae.”

Permainan kelereng ini biasanya dilakukan pada jam-jam setelah ashar dan berakhir sebelum maghrib.

Satu putaran permainan, bisa memakan waktu 15-30 menit. Setiap pemain biasanya memasang 2-5 kelereng tergantung kesepakatan. Sebutannya gasang. Kalau mati duluan tetapi tetap ingin main lagi tanpa harus menunggu putaran berikutnya tinggal bilang “wul” dan kemudian memasang kelereng tambahan sebanyak yang disepakati, main lagi.

Berbeda permainan lainnya, yang dipasang adalah mlinjo — Bahasa Indonesia dahulu disebut belinjo — namanya kubuk, sedangkan jika menggunakan kertas yang dilipat segitiga disebut tujon.

Hanya kelereng kaca yang boleh dipakai bermain nekeran, sedangkan kelereng porselen — neker gowok — tidak dipakai, kecuali untuk gacuk.

Tleser atau tinggil? Tleser berarti memainkan kelereng dengan posisi mendatar sedangkan tinggil dari agar berdiri.

Nekeran, atau permainan kelereng, kini sudah mulai menghilang bahkan mungkin sudah hilang. Tak ada lagi halaman rumah yang “jembar” kecuali di perdesaan. Dan anak-anak sekarang pun lebih akrab dengan memainkan “game” di ponsel dan bahkan game online. (***)

Sebelumnya

Poyok-Poyokan Nyek-nyekan Garap-garapan

Selanjutnya

98 Resolution Network Salurkan 12 Ribu Paket Tali Kasih Natal, Perkuat Solidaritas Sosial di Akhir 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement