Poyok-Poyokan Nyek-nyekan Garap-garapan
oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – Sambyah kuwi belang, Bagya pithet. Anuju sakwijining dina, Sambyah takon marang Bagya.
“Gya sakniki tanggal ping pithet?”
Bagya ngerti yen dipoyoki. Genti mBales moyoki.
“O sakniki tanggal ping patbelang.”
Teks tersebut ada dalam sebuah buku pejaran membaca bagi siswa kelas III SD di Yogyakarta pada era 1970-an awal. Setelah bacaan itu dibacakan oleh para siswa, Guru akan menjelaskan. Inti penjelasannya adalah bahwa moyoki dan sejenisnya adalah sesuatu bagian yang akan selalu ada dalam kehidupan bermasyarakat. Dimanapun, sehingga para siswa diharap bisa menyadari. Bukan menghindari poyok-poyokan, nyek-nyekan, garap-garapan dan sebagainya, tetapi harus tahu. Jika sedang menjadi korban poyok-poyokan tidak perlu melampiaskan kemarahan dalam bentuk apa pun.
Dan jika sedang moyoki teman, kalau mendapati teman yang menjadi korban ini terlihat tak berdaya, maka sebaiknya tidak dilanjutkan yang lebih dalam. Aktivitas semacam itu harus dianggap sebagai bunga-bunga pergaulan. Bukan area untuk tantang-tantangan berkelahi.
Semua istilah tersebut merupakan bagian dari kehidupan sosial kalangan anak-anak hingga dewasa di kalangan warga Yogyakarta. Makna dari kegiatan tersebut adalah saling ejek. Bahkan ada istilah yang menunjukkan dalamnya ejekan. “Nggejluk” yang secara umum berarti mentok.
Poyok-poyokan yang nggejluk tersebut selalu mendapat sambutan tawaan riang dari mereka yang duduk bersama. Dan yang menjadi korban hanya akan mencari celah untuk membalas atau mengalihkan ejekannya tersebut ke orang lain.
Tak ada dendam dan tak ada marah ketika menjadi korban. Tak ada perkelahian yang diawali dengan poyok-poyokan.
Pada masa lalu, Guru pun selalu mengajarkan ada pantangan yang tidak boleh digunakan untuk bahan poyok-poyokan. Antara lain nama orang tua, isi ajaran agama dan moyoki ratu gusti atau Raja — Kanjeng Sinuwun.
Bahkan, nyek-nyekan dengan bahan ras, kesukuan dan lainnya juga tidak menjadi masalah. Karena itu bukan ungkapan kebencian tetapi perekat kebersamaan dan bahkan pengikat persaudaraan.
Semua orang di era itu menyadari.
Namun kini sudah berubah. Ketersinggungan komunal semakin mengedepan. Bahkan barang kecil pun bisa menjadi pemicu gerakan banyak orang. Apalagi yang merasa tersinggung ini punya kelompok teman yang buanyak, pasti akan menjadi gegeran. Geger gedhen.
Kalau masa lalu itu ada rekamannya dan diputar di depan anak-anak sekarang atau di depan orang tua yang pernikahannya era 2010-an ke sini pasti mereka akan tercengang. Betapa “nggejluk” nya gojekan masa lalu.
Betapa menyenangkannya gojekan pol-polan. Rokok cupit tetap jalan. (Sebatang rokok diisap bergantian oleh sekelompok anak yang sedang berkumpul). Bahkan ketika sedang “tomprang” istilah untuk menikmati miras bersama, bukan lagi dalam botol tetapi oplosan sendiri dan diwadahi dengan panci atau bahkan baskom, nyek-nyekan tak akan membuahkan keributan. Diantara celoteh ejekan, gelas kecil akan tetap berputar berjalan dari satu orang ke giliran orang berikutnya. Bahkan ketika penerima gelas menyerahkan ke giliran berikut dengan cara dibalikkan tanda minta dilompati, ejekan menggelegar, tak ada kata marah atau dalam bahasa Inggris tak ada run amuck semua berjalan santai normal hingga berakhir di candra kesepuluh. Mulai ke delapan astha sacara-cara, nawa gra lupa hingga dasa yaksa mati.
Tak ada klithih, adanya teter. Datangi musuhnya, tantang kelahi dan teman-teman kedua belah pihak menyaksikan di sekelilingnya. “Dikalangi” istilahnya. Kalah menang salaman, lodse sayel bonyony cupitan. (**)









