Beranda Jogja Tempo Doeloe Pernah Menjadi Pelopor Kini Tersungkur
Jogja Tempo Doeloe

Pernah Menjadi Pelopor Kini Tersungkur

Gambar : Kagama

Oleh:Agus U, jurnalis

Marknews.id – YOGYAKARTA pernah menjadi pelopor atau setidaknya menjadi salah satu kota yang pertama (di luar DKI Jaya) yang memiliki sistem transportasi perkotaan yang membantu kalangan pelajar-mahasiswa berangkat dan pulang dari kuliah.

Terhadap kondisi itu sekitar tahun 1970-an muncullah angkutan perkotaan dengan Colt Kampus muncul pada tengah dasa warsa 1970-an di Yogyakarta sebagai jawaban atas kurangnya angkutan umum bagi mahasiswa yang kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Yang digunakan adalah mobil Mitsubishi Colt T-120. Mobil ini kemudian diberi atap di bagian belakang dan menempatkan penumpang saling berhadapan di sisi kiri dan kanan.

Pintu masuk di belakang, kernet bergelantungan.

Colt Kampus ini memiliki beberapa rute dengan titik awal dan akhir keberangkatan adalah di lingkungan kampus UGM Jalan Kaliurang, tepatnya kini di samping Pos Polisi Bulaksumur. Tidak ada terminal khusus. Namun di situlah puluhan mobil pick up yang dimodifikasi untuk penumpang, baik Mitsubishi Colt T-120, Suzuki ST20 atau yang dikenal dengan sebutan Suzuki Truntung serta Daihatsu SP38 atau yang dikenal dengan sebutan Daihatsu Unyil mangkal.

Sebagai tempat kumpulan manusia yang baru, kemudian muncul pedagang terutama makan, mimum dan rokok, serta menghadirkan “penguasa” informal yang beranak buah calo.

Pengguna kendaraan umum ini semakin banyak, hingga sering penumpang harus bergelantungan, kursi depan diisi dua penumpang alias 3 orang dengan sopir, akhirnya menyadarkan banyak pihak khususnya mata pengusaha. Muncullah bus kota Yogyakarta generasi pertama. Bus Kota yang dioperasikan Koperasi Angkutan Perkotaan (Kopata) dengan warna oranye ini awalnya hanya memiliki 2 trayek atau rute. Kemudian muncul generasi kedua yang ketinggian atapnya lebih rendah, kursi plastik keras dan kemudian muncul generasi ketiga yang atapnya lebih tinggi.

Bersamaan dengan munculnya generasi ketiga muncul pula bus yang dioperasikan oleh koperasi lainnya, Aspada dan Kobutri disusul pula Kopades di Sleman. Kobutri yang awalnya menggunakan Isuzu Bison, akhirnya juga memiliki armada bus, warnanya kuning, sama dengan warga Kopades.

Jadilah Yogyakarta ini memiliki sistem angkutan perkotaan yang hampir menjangkau seluruh wilayah.

Angkutan kota ini kemudian disusul dengan angkutan kecil lainya yang melayani antar kabupaten dan bahkan antar kota antar provinsi. Misalnya Yogya – Tempel – Muntilan, Yogya – Prambanan – Klaten dan lainnya.

Meriahnya angkutan penumpang dengan kendaraan kecil ini harus diakui menggerogoti penumpang angkutan lainnya. Yogya – Kaliurang, Yogya – Dekso, Yogya – Munggi yang dahulunya dilayani PO Baker akhirnya ada pesaingnya.

Memang angkutan ini lebih cepat dan lebih mudah didapat, karena tidak memiliki jadwal yang tetap seperti bus.

Pemerintah pun menyambut dengan memunculkan sejumlah terminal kecil. Terminal Terban, Terminal Prambanan, Terminal Soping (Shopping Center Sasana Tri Guna), dan sebagainya.

Kenikmatan pengusaha lama-lama membuat mereka terlena, enggan melakukan peremajaan, akhirnya disusul dengan kemudahan mendapatkan epeda motor secara kredit.

Mereka yang dahulunya pelanggan tetap angkutan kota, banyak yang beralih ke kendaraan pribadi sepeda motor. Dan bahkan banyak orang tua yang bangga membelikan sepeda motor untuk anak-anaknya berangkat sekolah atau kuliah serta berativitas lainnya.

Angkutan kota tidak segera berbenah meski mulai kehilangan pelanggan. Meski muncul TransJogja sebagai alternatif namun pelanggannya sudah terlanjur nyaman dengan caranya sendiri.

Lama-lama kejayaan angkutan perkotaan ini pudar dan bahkan kini nyaris tak ada lagi kendaraan angkutan kota yang berseliweran di jalanan. Yang terjadi, kendaraan bermotor khususnya sepeda motor menjadi banyak dan hampir setiap kepadatan lalu lintas, unsur sepeda motor selalu hadir dan mewarnai.

Yogyakarta yang dahulu memiliki angkutan perkotaan yang handal, kini tingga cerita.

Mungkinkan KAI menghidupkan jalur Yogya – Magelang, Yogya – Palbapang dan memperbanyak kereta yang berhenti di stasiun kelas III untuk melayani dan mengurangi kepadatan arus lalu lintas jalan aspal? Kita tunggu saja. (**)

 

 

Sebelumnya

Inspeksi Jalur Selatan, KAI Pastikan Kesiapan Total Angkutan Nataru 2025/2026 di Yogyakarta

Selanjutnya

Ribuan Barang Penumpang Tertinggal di Kereta Daop 5 Purwokerto, 98 Persen Lebih Berhasil Dikembalikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement