Soto nJepit dan Soto Sulung
Oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – KOTA YOGYAKARTA dikenal memiliki warung soto yang sangat banyak. Hampir setiap ruas jalan dapat ditemukan orang yang berjualan soto, baik yang memanfaatkan satu ruang untuk menampung para pelanggannya atau yang hanya menempatkan gerobaknya dan menata kursi di seputar gerobaknya.
Meski era panjang sudah berganti, ada yang kemudian berlanjut ke anak cucunya dan bahkan kemudian membuka cabang, namun ada pula yang kemudian tak banyak yang tahu bagaimana kelanjutannya.
1. Soto Bangkong
Soto khas Semarang yang bernama Soto Bangkong ini dahulunya ada Jalan Malioboro. Lokasinya di sebelah selatan Ramai Mall (Toko Ramai).
Jalan di sebelah selatan Toko Ramai tidak seperti sekarang lurus ke barat, tetapi agak ke selatan sedikit dan sebelah selatan Ramai Mall ini ada bangunan. Di sinilah dahulu warung Soto Bangkong berada.
Sebelah selatannya baru ada jalan dan kemudian dilakukan ruilslag atau tukar guling. Jalan menjadi lurus dan bekas jalan diberikan kepada pemilik toko yang bangunannya digunakan menjadi jalan.
2. Soto nJepit
Warung ini disebut dengan nama Soto nJepit karena tempatnya yang memang sempit. Berada di sebelah utara Pasar Beringharjo sisi Jalan A. Yani (Jalan Margo Mulyo). Sebelah utara pasar ada gang yang membujur ke arah timur yang oleh warga Jogja dahulu disebut Lor Pasar.
Warung Soto nJepit ini menempati ruangan yang lebarnya tidak lebih dari dua meter. Panjangnya hanya sekitar tiga meter. Satu meja dan kiri-kanannya kursi untuk pelanggan. Masing-masing sisi kursi hanya berisi maksimal empat pelanggan. Meski pelanggan harus bersedia antre, namun soto sapi di warung ini tetap laris.
4. Soto Dede
Dede bukan berarti nama panggilan penjualnya. Dede berarti berpanas-panasan terkena sinar matahari pagi. Disebut Soto Dede karena pelanggan yang duduk lesehan harus siap berpanas-panasan matahari saat menyantap.
Soto ayam ini berada di sebelah barat Kantor Pos Besar Yogyakarta – Kantor Telkomsel Jalan Pangurakan (dahulu Jalan Trikora). Menunya yang besar, soto ayam gaya Wonosari ini selalu dipenuhi pelanggannya, apalagi pada hari Minggu.
Penjual soto ini tidak menyediakan minuman, sehingga untuk minum harus membeli di warung lain yang ada di sebelah utara tempat penjual soto.
Seperti namanya, Soto Dede, selama menikmati bersiaplah tertimpa sinar matahari. Karena itu para pembeli soto di sini kebanyakan duduk menghadap ke barat atau ke utara/selatan.
5. Soto Sor Undhak-undhakan
Disebut sor undhak-undhakan karena penjualnya menempatkan gerobaknya di bawah undhak-undhakan atau tangga menuju lantai II di Pasar Lempuyangan, sisi timur. Soto ayam ini cukup laris. Pembelinya tidak hanya mereka yang sedang berbelanja di pasar, namun juga banyak orang yang datang khusus untuk menikmati soto ayam ini.
6. Soto nJepit Gondolayu
Warungnya relatif sempit di Jalan Soedirman, tepatnya di deretan kios yang ada di sebelah timur Jembatan Gondolayu. Soto sapi — kata orang, warung ini juga disebut Soto Kebo entah menggunakan daging kerbau atau karena apa, penjualnya tidak bisa menjelaskan — membuat pelanggan harus rela berdesakan.
Berdesakan saat menyantap tidak kemudian membuat pelanggan saling memelototi, tetapi akan senyum sambil berkata “maaf” dan penikmatan pun terus berlanjut.
Tak hanya sempit ruang untuk menikmati, tetapi sempit pula tempat parkirnya. Posisi warung yang depannya trotoar sempit dan di jalan aspal tepat di muka pertigaan memang tidak memberi kemudahan bagi pelanggannya. Meski demikian, pelanggannya tetap saja mengalir.
7. Soto Tembong
Warung Soto Pak Tembong ini mula-mula berada di selatan jalan sebelah barat perempatan Lempuyangan. Warungnya kecil, dengan meja berupa lembaran papan yang menempel gantung di tembok pagar bangunan yang ada di sebelah selatan warung.
Selain soto sapi, warung ini juga menyediakan bakso. Ruangan warung ini agak longgar, meski ketika pengunjung penuh tetap juga berdesakan. Kesulitan pelanggan terutama jika datang menggunakan mobil; parkir sungguh tidak mudah.
Soto Pak Tembong ini sempat “diasisteni” oleh wartawan muda, Taufiqurrahman Bachdari. Mahasiswa Publisistik Fisipol UGM asal Solo yang tinggal bersama keluarga Pak Tembong. Taufiq saat di Yogyakarta bergabung dengan Harian Umum Yogya Post dan setelah Yogya Post “kukut”, ia bergabung dengan Republika di Jakarta bersama Ahmadun Yosi Herfanda dan lainnya.
8. Soto Sewandanan
Warung ini disebut Soto Sewandanan karena memang berada di Alun-alun Sewandanan — halaman depan Puro Pakualaman. Dahulunya berada di sebelah barat, mepet tembok bangunan yang menjadi billiard pool.
Menikmati soto ayam yang segar ini, pelanggan harus siap terganggu dengan asap cumi-cumi sepeda motor 2 tak atau mobil diesel karena tempatnya memang mepet jalan. Selain menikmati soto, pelanggan bisa juga membeli abon mayang yang dijual di pinggir jalan yang membelah sisi barat dan sisi timur Sewandanan, jalan utama keluar masuk Puro Pakualaman dengan Jalan Sultan Agung.
9. Soto Sulung
Soto “khas Madura” ini menempati kios yang ada di halaman selatan Stasiun Tugu, Yogyakarta sebelum harus pindah karena adanya penataan kawasan.
Berbeda dengan soto lainnya, soto sulung yang berada di selatan Stasiun Tugu ini tidak ada sayur-sayuran, tak ada kobis, tak ada seledri, tak ada tauge/thokolan, tak ada irisan tomat dan juga tak ada bihun.
Satu mangkok soto ini hanya kuah kuning dan daging atau jeroan (iso dan babat) atau campuran keduanya serta telur rebus. Disajikan dalam mangkok yang dialasi piring. Piring yang digunakan sebagai alas ini kemudian digunakan untuk wadah nasi. Nasi putih di warung ini dibungkus seperti nasi angkringan dengan model pembungkusan pena — “pe” diucapkan seperti pada kata peluru.
Meski ada yang memilih memasukkan nasi langsung ke mangkok. Disodorkan pula satu wadah kecil berisi sambal dan jeruk nipis. Jadi berbeda dengan warung soto lainnya yang bisa menyediakan sambal dalam wadah besar, di warung ini relatif irit sambal. Hanya saja pedasnya awet; selesai menikmati, kalau pulang ke utara, sampai Bundaran UGM pun rasa pedasnya masih terasa.
Tak ada hidangan lainnya di warung ini. Orang hanya bisa menikmati soto dan minum teh hangat/panas atau es teh dan jeruk panas atau es jeruk.
Memang masih banyak lagi. Maaf, yang saya sampaikan ini bukan memberi rekomendasi pilihan dan bukan pula penilaian. Penomoran hanya nomor, tidak menunjukkan ranking. Masih banyak warung soto lain yang ada di Kota Yogyakarta. (***)









