Liputan di Kraton Yogyakarta Itu Awalnya Boleh Mengenakan Baju Batik Tak Perlu Pranakan dan Jarik
Oleh : Agus U
Marknews.id – Tak banyak kegiatan di Kraton Yogyakarta yang untuk saat sekarang bisa diliput. Dahulu di era 1990-an, banyak kegiatan Kraton Yogyakarta yang bisa diliput hingga ke dalam. Bukan hanya upacara garebeg yang bergerak dari Pagelaran hingga Masjid Gede, atau gamelan sekaten di Pagongan, Pitrah Dalem — perjalanan Abdi Dalem menyerahkan Fitrah Sri Sultan kepada Kyai Pengulu di Dalem Pengulon — utara Masjid Gede, upacara Kuthamara — pengiriman uba rampe dari Kraton Yogyakarta ke makam-makam di bawah pengelolaan kraton, sampai upacara Bethak atau menanak nasi khusus untuk upacara dan bahkan ketika Kraton Yogyakarta “membuka pusaka” pun diizinkan, termasuk kegiatan mantu.
Syaratnya? Mendaftar di panitia atau melapor terlebih dahulu kepada salah satu pangeran yang ditunjuk untuk mengkoordinasi wartawan. Tak ada emblek atau id card khusus, Kraton sudah percaya dengan wartawan dan sebelum masuk ke lokasi inti “sowan dan matur” ke Tepas Sekuriti, daftar wartawan yang sudah mendaftar ada di tempat ini.
Di tempat ini, akan mendapat informasi terkait liputan hari itu, dilihat busana yang dikenakan apakah cukup “sopan” atau masih kurang. Sepatu bukan kets, celana bukan jins, baju batik atau polos dengan logo institusi pers lengan panjang dan mengikuti protokol serta menempatkan diri pada titik tertentu yang telah ditetapkan.
Pada Upacara Dhaup Agung I, pernikahan GRA Nurmagupita (GKR Condrokirono) 21 Desember 1993, Kraton Yogyakarta memberikan baju batik. Tidak hanya semotif tetapi ada berbagai motif. Saya mendapatkan yang warna coklat-merah, kerah model koko-an (seperti busana muslim), lengan panjang. Kalau sepatu tidak sesuai, boleh “cekeran” atau tanpa alas kaki meski busana batik lengan panjang.
Kemudian pada Upacara Dhaup Agung II 28 Mei 2013, pernikahan GRA Nurmalitasari (GKR Mangkubumi), mendapat baju batik yang dibagikan di Kepatihan (Biro Humas), meski saat itu diwarnai penolakan oleh sejumlah wartawan. Saya memilih menerima paringan dalem tersebut.
Dan di acara-acara lain boleh pula mengenakan baju batik berlogo PWI yang dibagikan khusus kepada anggota PWI Yogyakarta.
Biasanya sebelum hari H, wartawan — khususnya pembawa kamera — akan ditunjukkan di mana mereka boleh mengambil foto. Seandainya ada yang kurang tepat, wartawan boleh mengajukan lokasi yang dinilainya lebih pas. Jika disetujui, itu akan berlaku saat liputan.
Ketika saat liputan, wartawan datang beberapa menit sebelum kegiatan dimulai dan menempatkan diri di titik yang telah disepakati. Wawancara dengan pangeran yang ditunjuk sebagai juru bicara dilakukan beberapa puluh menit sebelum kegiatan. Penjelasan terkait dengan kegiatan hari itu.
Beruntung bagi wartawan tulis dan radio, jika terlambat bisa meminta rekannya. Sedangkan wartawan televisi terlambat ya tak dapat gambar. Kendalanya? Teknologi untuk meng-copy video masih terlalu ribet, menggunakan kabel RCA yang disambungkan antar kamera, putar dan rekam sama dengan waktu rekam awal. 30 menit ya 30 menit.
Hal lainnya, mata produser di masing-masing institusi sangat jeli. Gambar dari satu stasiun televisi yang memiliki sudut yang sama dengan tayangan di stasiun televisi lain bisa disemprot habis-habisan bahkan bisa-bisa kena surat peringatan.
Minta hasil edit agar bisa diedit ulang pun tidak memungkinkan, karena yang dikirim adalah “barang mentah liputan” yang tersimpan di kaset recorder utuh, bukan dalam bentuk file. Aplikasi teknologi editing video belum sesimpel yang sekarang.
Kalau sekarang secara teknologi sudah lebih mudah, hasil liputan diedit sendiri bahkan pakai henpon, kirim via electronic mail termasuk naskah.
Namun, sekitar tahun 2010-an, dalam satu taklimat pers untuk kegiatan liputan di Kraton Yogyakarta, seorang wartawan senior yang malang melintang di Jakarta (kebetulan duduknya berdekatan dengan saya) mengajukan “usulan indah” kepada panitia. Yang putri juga harus mengenakan baju kebaya janggan warna hitam dan jarik serta diharapkan bisa mengikuti mode tatanan rambut yang seirama dengan Abdi Dalem. Meski urusan rambut ini akhirnya disepakati cukup dengan menggunakan kerudung. Maklum tidak banyak wartawan putri dan tidak banyak di antara yang sedikit ini berambut panjang yang bisa digelung tekuk.
“So, bagaimana kalau dalam liputan ini, wartawan juga mengenakan pakaian yang sama dengan Abdi Dalem. Baju Pranakan, blangkon, jarik dengan wiron engkol, tanpa alas kaki. Karena alasan kepraktisan, tak usah mengenakan keris,” kata wartawan yang “merasa senior” dan berlatar belakang liputan nasional itu.
Usulan ini sempat mendapat tentangan dari beberapa wartawan termasuk Pak Giek (Suara Merdeka) yang dengan memohon agar tetap menggunakan baju batik lengan panjang, tak perlu dengan busana seperti yang dikenakan oleh Abdi Dalem dengan alasan kepraktisan, kemudahan mobilitas dan lainnya.
Namun pengusul dengan gigih mempertahankan usulannya. Bahkan pengusul dengan tegas menjelaskan keindahannya wartawan dengan mengenakan busana a la Abdi Dalem saat meliput di Kraton Yogyakarta.
Ya akhirnya keputusan menukung pengenaan busana a la Abdi Dalem saat liputan di dalam Kraton Yogyakarta. Dan ternyata pengusul ini tidak pernah liputan ketika liputan di Kraton Yogyakarta dengan keharusan mengenakan Pranakan. “Saya kan wartawan tulis, cukup dengan keterangan pada taklimat pers dan cerita dari teman-teman. Foto juga akan disediakan panitia,” kilahnya.
Semenjak keputusan itu, liputan harus menggunakan baju Pranakan, jarik Ngayojan Wiron Engkol, blangkon, tanpa alas kaki atau mboya nganggo cenela. Wartawan biasanya akan berganti busana di Tepas Sekuriti dan cara mengenakannya akan dibantu Abdi Dalem. Tapi busana itu membawa sendiri.
Yang membedakan dengan Abdi Dalem adalah, para juru warti ini tidak mengenakan keris, tidak berkalung samir dan boleh bergerak ketika acara berlangsung, meski jalan jongkok (lampah dhodhok).
Dua atau tiga kali saya melakukan liputan dengan busana Pranakan — jarik Ngayojan Wiron Engkol — Blangkon — tanpa cenela. Bukan karena apa-apa, ada beberapa rekan yang kemudian menemani saya liputan wilayah DIY.
Caption:
-
Batik warna merah coklat pekat pembagian dari Kraton Yogyakarta ketika Kraton Yogyakarta menggelar Dhaup Agung I
-
Batik warna hijau pembagian di Kepatihan untuk Dhaup Agung II
-
Batik PWI untuk banyak kegiatan termasuk liputan berseragam di Kraton Yogyakarta









