Abhiseka Candi Prambanan ke-1169: Merawat Warisan Siwa Grha dan Harmoni Nusantara
Abhiseka Candi Prambanan ke-1169
MARKNEWS.ID, Sleman – Upacara Abhiseka Candi Prambanan kembali digelar di kompleks Siwa Grha, Kamis (12/11), menandai peringatan ke-1169 tahun peresmian sekaligus penyucian candi megah peninggalan Dinasti Sanjaya tersebut. Prosesi sakral yang dihadiri para pemuka agama Hindu, tokoh lintas iman, akademisi, dan masyarakat ini dimaknai bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga sebagai momentum memperkuat harmoni dan kesadaran kebangsaan.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DIY, Wisnu Baya Tenaya, dalam sambutannya menegaskan bahwa makna abhiseka bukan hanya upacara seremonial, melainkan perwujudan nilai hidup, warisan spiritual, dan kebersamaan lintas agama.
“Kita memperingati penyucian Siwa Grha bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk menghidupkan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur. Candi ini adalah simbol kehidupan – lahir, hidup, mati – yang diwakili oleh Brahma, Wisnu, dan Siwa,” ujar Wisnu Baya Tenaya di pelataran Candi Siwa, Prambanan.
Ia menjelaskan, Abhiseka dalam tradisi Hindu adalah ritual penyucian, namun di Prambanan ia juga menjadi simbol kesadaran bersama bahwa peninggalan leluhur bukan benda mati, melainkan “elemen hidup” yang harus dijaga bersama.
“Candi bukan hanya batu, tetapi roh peradaban. Di sini ada semangat Siwa-Buddha, harmoni yang menyatukan Nusantara sejak dulu. Inilah contoh paling indah dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika,” tambahnya.
Wisnu Baya Tenaya juga mengingatkan pentingnya nilai toleransi dan kebersamaan lintas agama, sebagaimana diteladankan para leluhur dalam membangun Prambanan dan Borobudur.
“Bayangkan, hingga kini sudah sebelas generasi menjaga tempat ini. Di Jakarta ada Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral berdampingan. Di sini ada Candi Siwa dan Candi Sewu. Ini pesan leluhur: bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan dalam keharmonisan,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa nilai dasar agama dan Pancasila sejatinya sejalan.
“Manusia Indonesia seutuhnya adalah manusia jasmani dan rohani. Dalam Hindu disebut śraddha bhakti – percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan mens sana in corpore sano – tubuh dan jiwa yang sehat,” jelasnya.
“Kita hidup di RW1 RT1 – ruang waktu dan ruang tunggu milik Tuhan. Maka hati-hati, Tuhan selalu bersama kita. Mari menjadi manusia yang sadar, beriman, berbakti, dan menjaga bumi pertiwi,” ia menegaskan.
Abhiseka tahun ini bukan hanya sebuah perayaan, melainkan juga panggilan untuk menjaga warisan leluhur, memperkuat spiritualitas, dan meneguhkan kembali semangat toleransi yang menjadi fondasi peradaban Indonesia.
Dukungan penuh terhadap perayaan Abhiseka juga disampaikan oleh Ratno Timur, selaku GM Candi Prambanan, pengelola destinasi wisata Candi Prambanan. Ia menyebut kegiatan keagamaan seperti Abhiseka merupakan bagian integral dari upaya menjaga keseimbangan antara spiritualitas dan pariwisata.
“Kami dari pengelola destinasi selalu mendukung kegiatan umat Hindu di Prambanan. Tidak hanya Abhiseka, tapi juga Nyepi, Siwaratri, dan kegiatan keagamaan lainnya,” ujar Ratno.
Menurutnya, kegiatan spiritual seperti ini tidak hanya memperkaya nilai budaya, tetapi juga memberi ruang bagi wisatawan untuk mengenal sisi religius dan filosofi Prambanan.
“Artinya, industri pariwisata tetap berjalan, kegiatan ritual pun terlaksana dengan baik. Intinya adalah harmoni: bagaimana wisata dan spiritualitas bisa berjalan berdampingan,” katanya.
Ratno menjelaskan rangkaian kegiatan tahun ini berlangsung beberapa hari, diawali dengan yoga bersama umat Hindu dan mahasiswa lintas negara, kemudian dilanjutkan dengan upacara Abhiseka.
“Kegiatan seperti ini sudah tercantum dalam SKB Empat Menteri dan Dua Gubernur, termasuk Abhiseka dan Nyepi. Kami selalu hadir untuk mendukung agar kegiatan ini terlaksana dengan baik,” imbuhnya.
Candi Prambanan, yang diresmikan pada 12 November 856 Masehi berdasarkan prasasti Siwa Grha, menjadi saksi perjalanan panjang spiritualitas dan peradaban Nusantara. Melalui Abhiseka ke-1169 ini, masyarakat diingatkan kembali akan nilai-nilai luhur yang melekat di setiap relief dan arca: ketekunan, keimanan, dan keseimbangan hidup.
FULL











